PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Rabu, 24 April 2019

Rabu, 13 Maret 2019

STRATEGI PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN KOMUNITAS BERBASIS DUNIA USAHA


Disampaikan pada acara Rakornas , Jakarta 15 Maret 2019

LATAR BELAKANG
Pengembangan Perpustakaan di Indonesia mulai dari tingkat desa, daerah II atau kabupaten kota, Daerah I Provinsi sampai tingkat pusat menjadi tanggung jawab siapa ? dalam hal ini kami mengacu pada UU no 43 tahun 2007 pasal 7, bahwa Pemerintah berkewajiban (ayat 1):
  1. mengembangkan sistem nasional perpustakaan sebagai upaya mendukung sistem pendidikan nasional;
  2. menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat;
  3. menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di tanah air;
  4. menjamin ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemahan (translasi), alih aksara (transliterasi), alih suara ke tulisan (transkripsi), dan alih media (transmedia);
  5. menggalakkan promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan;
  6. meningkatan kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan;
  7. membina dan mengembangkan kompetensi, profesionalitas pustakawan, dan tenaga teknis perpustakaan;
  8. mengembangkan Perpustakaan Nasional; dan
  9. memberikan penghargaan kepada setiap orang yang menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah kuno.

Ayat (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf i diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Sehingga dengan demikian Pemerintah akan menjalankan kewajiban tersebut dengan bersungguh sungguh sebagai amanat pelaksanaa Undang Undang. Masyarakat memiliki kewajiban memelihara, merawat dan menjaga fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dengan baik. Timbal balik ini pun tidak saja dalam hal penyediaan fasilitas dan pemeliharaannya, tapi juga bisa sebaliknya. Masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan perpustakaan juga dapat menyediakan fasilitas perpustakaan sebagaimana penjelasan pasal 16 dalam UU no 43 2007. Perpustakaan bisa saja dimiliki oleh masyarakat.

Yang menjadi pertanyaan adalah jika perpustakaan dimiliki oleh masyarakat karena kepeduliannya maka apakah layanan perpustakaan bisa dijamin keberlangsungan nya ? Kalau Pemerintah tentu keberlangsungannya sudah jelas karena adanya APBN atau APBD, tapi jika pemiliknya adalah pribadi maka tergantung dari kemampuan dan komitment. Ada banyak contoh di Indonesia perpustakaan yang dimiliki oleh pribadi, diantaranya adalah Perpustakaan Tisna Amidjaja Bandung, yang sekarang sudah tidak ada lagi karena pemiliknya sudah sepuh dan generasi selanjutnya tidak memiliki komitment yang sama, akhirnya perpustakaan tersebut diserahkan ke ITB karena Bp. Tisna Amidjaja pernah sebagai Rektor ITB. Perpustakaan Rumah Dunia, mendapatkan bantuan gedung, ternyata perawatannya membutuhkan dana yang cukup besar dan membutuhkan bantuan untuk perawatan gedung tersebut. Lalu ,  bagaimana kalau sudah demikian ?

KOMITMENT BERSAMA MEMBANGUN PERPUSTAKAAN KOMUNITAS
Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten/kota yang memiliki tanggung jawab pengembangan perpustakaan ditingkat Kabupaten / Kota harus bekerjasama dengan banyak pihak. Bekerjasama dengan masyarakat pemustaka sebagai pengguna layanan, maka bentuk kerjasamanya adalah ketika layanan dilakukan, masyarakat ikut aktif meminjam buku atau hadir dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh dinas Perpustakaan. Supaya masyarakat tertarik datang, maka layanan harus sesuai kebutuhan masyarakat, keramahan, promosi, fasilitas yang memadai, koleksi buku yang berkwalitas, maupun ketepatan waktu layanan. Layanan  dilakukan saat masyarakat senggang atau ketika tidak melakukan aktifitas sekolah maupun bekerja. Layanan yang tepat dan prima sangat menentukan jumlah pengunjung maupun peminjam buku. Upaya ini sangat ditentukan oleh komitment kepala perpustakaan selaku pemimpin yang memiliki otoritas kebijakan dan pelaksana layanan kepada masyarakat.

Kerjasama selain dengan pemustaka adalah  dengan aparatur desa sampai tingkat kecamatan untuk bersama sama memahami bahwa perpustakaan adalah layanan untuk mencerdaskan masyarakat. Penyebaran pengetahuan melalui buku dan berbagai aktivitas  secara maksimal akan mampu mengubah masyarakat lebih cerdas. Sosialisasi keberadaan perpustakaan harus bekerjasama dengan para pihak. Berbagai upaya harus dilakukan untuk pencapaian hasil yang maksimal. Jika dianggap sukses maka secara otomatis akan membutuhkan anggaran yang besar , maka yang harus dilakukan adalah bersinergi. Untuk bersinergi dengan pihak swasta, perlu ada kesepakatan kesepakatan yang saling menguntungkan sebagai bentuk terciptanya harmonisasi. APBN atau APBD jika tidak mencukupi maka diperlukan kerjasama CSR untuk sharing dana. Dengan demikian nantinya perpustakaan akan terus berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat akan informasi dan pengetahuan.
Komitment antara pimpinan dinas Perpustakaan, aparat desa, pihak swasta maupun lainnya perlu terjaga terus menerus. Tidak saja kebutuhan dana akan tetapi  perlu juga kecukupan sumber daya manusia yang kreativitas dan penuh  inisiatif untuk diberdayakan. Komitment saling bersinergi, komitment terus mengembangkan kerjasama inilah yang menentukan keberlanjutan program dan keberlanjutan sumber dana.

Suksesnya pemimpin perpustakaan ada tiga hal dasar, yang pertama adalah kedekatan akses buku bagi masyarakat, membuat suasana bahagia, dan terjadinya perubahan masyarakat khususnya dibidang pengetahuan.

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN KOMUNITAS
Pengembangan Perpustakaan bisa dilakukan dengan 2 cara :
  1. Top down, artinya pemerintah yang memberikan fasilitas secara langsung, baik perpustakaan kota/kabupaten , maupun fasilitas yang mendekatkan akses bahan bacaan kepada masyarakat sampai tingkat desa. Fasilitas yang diberikan bisa berupa mobil perpustakaan keliling, maupun perpustakaan desa. Perpustakaan harus mendekatkan akses bahan bacaan kepada masyarakat. Dengan demikian Pemerintah secara langsung melayani masyarakat dengan kedekatan akses dari fasilitas yang ada. Hal ini tentu membutuhkan anggaran yang besar, anggaran besar tidak menjadi persoalan kalau pimpinan daerah memiliki komitment membangun kecerdasan masyarakat melalui perpustakaan. Konsepnya jelas dan tingkat keberhasilannya sudah bisa dirasakan oleh masyarakat. Anggaran yang besar tidak harus di danai oleh APBN atau APBD saja, tapi bisa disinergikan dengan institusi yang terkait. Misalnya dengan adanya ADD maka dana desa sebagian bisa dialokasikan ke pengembangan perpustakaan. Melalui sinergitas inilah maka beban berat bisa terasa ringan.
  2. Bottom up : fasilitas disediakan oleh masyarakat yang memilki komitment membantu masyarakat sekitarnya. Button up ini umumnya  dilandasi oleh keprihatinan dari pribadi terhadap lingkungan dimana mereka tinggal. Mereka yang paham betapa pentingnya keberadaan perpustakaan akan muncul rasa empaty, kemudian membentuk komunitas karena memiliki tujuan yang sama. Komunitas ini akan mencari keberadaan komunitas sejenis di luar daerahnya untuk berbagi pengalamanan dan bersama sama saling mensupport untuk menjaga keberlanjutan. Eksistensi komunitas ini terlihat ketika masyarakat ini mencari keberadaan mereka, layanan mereka dan berbagai kegiatan yang dilakukan. Pribadi yang peduli ini akan menemukan kepuasan batin, jika masyarakat antusias membaca Pada umumnya apa yang sudah dilakukan ini disebut sebagai filantropi. Tapi jika perusahaan yang memiliki kepedulian, kemudian bekerjasama dengan komunitas dan terus berkembang (Sustainability) maka inilah yang disebut sebagai corporate social responsibility, atau kepedulian sosial perusahaan. Umumnya perusahaan akan berpartnert dengan komunitas atau lembaga non profite. Perusahaan tidak bekerjasama dengan Pemerintah karena Pemerintah dianggap sudah memiliki anggaran untuk segala keperluan layanan dan kewajibannya sesuai Undang undang yang berlaku. Dana CSR ini juga diatur oleh UU no 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, dalam salah satu pasalnya (Pasal 74) mengatakan kewajiban persero dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya yang harus di keluarkan untuk keperluan sosial disekitar wilayah perusahaan. 
Tidak banyak Komunitas yang mendapatkan dana CSR untuk dikembangkan dalam bentuk layanan perpustakaan, hal ini disebabkan karena komunitas kurang memahami peluang atau peluang yang ada memiliki persyaratan yang dianggap memberatkan. Harus menuliskan proposal dan persyaratan legalitas. Contoh sepeti Eko Cahyono, dan teman2 nya yang lain. Perusahaan mendatangi komunitas, kemudian proposal bisa dibuat sederhana, simple dan mudah dipahami, bahkan tanpa legalitas sebagai bentuk permakluman. Karena secara umum komunitas tidak mau di ribetkan persoalan administrasi, prinsip dari para komunitas adalah, bagaimana mereka dibantu tanpa persyaratan tertentu. Sementara perusahaan jika mengeluarkan dana nya harus ada persyaratan sehingga pertanggung jawabannya terukur dan jelas bagi penerima manfaat. Bagi komunitas ada atau tidak ada CSR, mereka akan tetap jalan, sejalan jalannya, karena kepedulian mereka terhadap sesama adalah naluriah.

Baik dengan cara top down atau buttun up, perkembangan perpustakaan komunitas ini melaju pesat, karena perhatian pemerintah juga sudah bagus, diantaranya pengiriman buku gratis setiap tanggal 17, bantuan buku, bantuan motor, dan publikasi media yang membuat mereka terangkat. Dengan publikasi melalui media, banyak perusahaan yang turut serta mengucurkan CSR nya sebagian kecil ke mereka, media sebagai referensi bagi perusahaan dalam mencari partnert. Mereka tergabung dalam komunitas besar seperti Pustaka Bergerak, Forum TBM, maupun komunitas yang dibentuk di wilayah masing masing. Pustaka Bergerak anggotanya sudah 252 diseluruh Indonesia. Data Juni Juli 2018 Forum TBM anggotanya 540 catatan dr Kantor Pos Jawa Barat. Catatan dari Forum TBM via FB tercatat 530 anggota. Perkembangan ini dirasakan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, seperti jamur tumbuh dimusim hujan, mereka yang peduli semakin banyak, yang merasakan manfaatnya lebih banyak lagi. Berdasarkan studi World Most Literate Countries yang dilakukan oleh Presiden Central Connecticut State University (CCSU), John W Miller, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara pada 2016. Dalam menyusun studi tersebut, Miller menggunakan lima kategori pendukung minat baca di sebuah negara, dua di antaranya adalah ukuran serta jumlah perpustakaan dan kebiasaan membaca koran. Dengan semakin banyaknya TBM, Pustaka Bergerak, perpustakaan umum, perpustakaan khsuus, perpustakaan sekolah dan perpustakaan Perguruan tinggi akan mampu mengubah data minat baca orang Indonesia.

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN KOMUNITAS BERBASIS DUNIA USAHA
Perpustakaan Komunitas menurut jenisnya masuk dalam kategori perpustakaan umum jika dimanfaatkan oleh masyarakat umum, tapi bisa juga menjadi perpustakaan khusus jika perpustakaan tersebut bertema khusus. Kenapa disebut perpustakaan komunitas karena berdasarkan pemiliknya atau penggunanya juga dari komunitas tertentu. Perpustakaan komunitas bisa dimiliki secara pribadi atau kelompok, perpustakaan komunitas ini pengertiannya adalah perpustakaan yang bertumbuh dari arus bawah atau grassroot (akar rumput/masyarakat). Perpustakaan komunitas sekarang tumbuh sangat cepat dimana mana dan digemari oleh masyarakat umum karena layanan lebih simple dan fleksible.
Dalam dunia usaha yang sangat luas sekali di Indonesia, banyak peluang bagi siapapun untuk bekerjasama memanfaatkan dana CSR yang ada. Namun umumnya antara perusahaan dan komunitas kurang saling memahami, bagi Perusahaan untuk bisa bekerjasama diperlukan bentuk pertanggung jawaban yang terukur, sesuai dengan perencanaan atau konsep yang sudah dibuat. Bagi institusi atau pihak partnert sebagai mitra implementasi dibutuhkan pengalaman dan pemahaman akan segala persyaratan dan kemampuan mengimplementasikan dengan baik.

Perlu ada titik temu yang keduanya memang komitment bersinergi,  mewujudkan visi misi atau tujuan yang sama yaitu peningkatan minat baca dan mencerdaskan masyarakat. Kesinergian ini adakalanya perlu campur tangan pemerintah atau pihak pihak tertentu yang kompeten. Bahwa upaya yang harus ditempuh adalah :
  1. Saling mengenal : ada beberapa daftar nama perusahaan disertai laba bersih terlampir di bawah ini yang bisa dijadikan rujukan. Mengenal kebijakannya, mengenal program kerjanya, mengenal personil yang handle CSR nya, mengenal alamatnya dsb nya.
  2. Saling mendekat dan memahami : perkenalan, pertemuan, loby dan paparan konsep sehingga saling memahami yang kemudian berlanjut saling tertarik untuk bekerjasama
  3. Saling bekerjasama : setelah ada kontrak kerja atau MOU, maka implementasi program dengan capaian yang jelas dan terukur dilakukan dengan totalitas dan penuh tanggung jawab.
  4. Mewujudkan tanggung jawab bersama mencapai tujuan : memberikan laporan pertanggung jawaban sesuai kesepakatan yang ditandatangani bersama
Lampiran di halaman lain
Dan tentu masih banyak lagi perusahaan yang tersebar di berbagai daerah, termasuk perusahan menengah dan perusahaan berskala kecil. Karena intinya bahwa setiap usaha harus ada derma untuk masyarakat. Bagaimana mengenal mereka ? cari tahu dengan jarimu.

Persyaratan untuk memperolah CSR :
  1. Memiliki konsep yang jelas, terukur dan dapat dipertanggung jawabkan
  2. Lembaga memiliki kelengkapan legalitas yang jelas, akte notaris, NPWP, Domisili, Rekening
  3. Personal Garansi yang cukup dikenal atau memiliki track record yang baik
  4. Area program ada di ring I tempat partnert / sponsor berada
  5. Memiliki jangka waktu kerjasama yang jelas
  6. Memiliki pengalaman melakukan hal yang sama dengan sukses
  7. Memiliki sumberdaya yang cukup untuk pelaksaan kegiatannya
  8. Penerima manfaat adalah masyarakat di ring I
  9. Anggaran yang dibuat realistis dan dapat dipertanggung jawabkan
  10. Program sesuai dengan pilar CSR (Kebijakan perusahaan)

Komunitas atau Lembaga non Profite : adalah lembaga yang secara legal di syahkan oleh notaris yang memiliki AD ART yang menjadi jaminan hukum bagi perusahaan, dalam melaksanakan program

Individu : personil yang memiliki track record baik di masyarakat, memiliki kesuksesan di bidang yang dijalani selama ini,  dan manfaatnya sudah dirasakan oleh masyarakat. Perusahaan yang bekerjasama dengan individu harus memiliki referensi dan bukti yang akurat akan profile individu tersebut.

Contoh :
  1. Eko Cahyono - Malang : track recordnya baik, profile nya sudah banyak diliput media, sudah menerima banyak penghargaan, sudah terbukti selama 21 tahun (1998 – 2019) membangun perpustakaan dan layanan untuk umum gratis.
  2. Perahu Pustaka – Palewali Mandar Sulawesi : publikasi berbagai media, Akte notaris Komunitas Bahari Mandar. Pendiri : Muhammad Ridwan Alimuddin, kegiatan perpustakaan komunitas dan berbagai kegiatan pariwisata dan kemaritiman.   
  3. Yayasan Bustanul Hikmah Sidoarjo Jawa Timur : Pendiri dan pemiliknya Mochammad fauzi. Kegiatan sehari hari TPQ, sekolah paud, TK dan SD, layanan perpustakaan pakai motor. Operasional dari donatur dan pribadi. Profilenya sudah banyak diliput media

Ketiga Contoh di atas memiliki kesamaan diantaranya adalah :
  1. Kesederhanaan
  2. Cita cita mulia
  3. Keterbatasan pemanfaatan peluang
  4. Keterbatasan resources
  5. Berjalan terus dengan apa adanya (Sustainability)

Contoh Lembaga Non Profite yang khusus Mengembangkan Perpustakaan yaitu YPPI (Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia). YPPI yang berusia 12 tahun memiliki succses story sebagaimana lampiran di bawah ini. Dan dalam kesempatan ini akan berbagi pengalaman bagaimana mendapatkan dana csr membangun perpustakaan di Indonesia. Prinsip dasar kerjasama :
  1. Jujur dan amanah (Integritas)
  2. Keberanian atau keahlian (expertise/capacity)
  3. Nama baik (kepercayaan/Kredible)
  4. Loyalitas (Kepatuhan, kesetiaan)
  5. Tanggung jawab (tenaga, pikiran dan waktu à dedikasi)

Ke lima hal diatas adalah syarat mutlak bagi lembaga yang akan berkerjasama dengan perusahaan. Ukuran besaran nilai yang akan dilakukan berdasarkan nilai kepercayaan perusahaan kepada lembaga partnert. Kegiatan yang dilakukan dipengaruhi oleh kapasitas lembaga partnert. Perusahaan memiliki ego sebagai pemilik dana, kebijakan dan kebaikan yang diberikan. Lembaga partnert memiliki keteguhan, nilai kebaikan dan jaminan nama baik (goodwill) dengan demikian nilai nilai tersebut bersinergi dengan baik sehingga menghasilkan karya.
Sekilas bagaimana proposal yang harus dibuat adalah :
  1. Peruntukannya jelas : penerima manfaat
  2. Goalnya Jelas : tujuan yang ingin di capai
  3. Indikatornya jelas : ukuran pencapaian kualitatif dan kuantitatif
  4. Realistis : antara kebutuhan dan beban biaya
  5. Amanah / Dapat dipercaya : dilaksanakan dengan baik, ada time line,tepat waktu
  6. Harus berhasil : ada monitoring, bersungguh sungguh, menyelesaikan permasalahan dengan baik, dekat dengan penerima manfaat
  7. Branding : mencantumkan logo, branding warna, template, nama baik, dan mematuhi kebijakan yang ada.

Karya yang memang harus diyakinkan kepada perusahaan besar di Indonesia adalah pentingnya membangun literasi bangsa ini melalui perpustakaan. Perpustakaan adalah program yang kurang menarik, beda dengan isue pemberdayaan perempuan, kemiskinan, kesehatan, trafficking, dll yang gampang sekali menjualnya. Perpustakaan harus diyakini sesuatu yang mampu mengubah beradaban dan kehidupan sosial masyarakat, karena dengan kemampuan literasi yang bagus akan mempengaruhi  pola pikir bangsa Indonesia. Jika konsepnya adalah pendekatan akses buku kepada masyarakat maka perpustakaan komunitas atau perpustakaan desa adalah bentuk yang tepat, atau Layanan mobil perpustakaan keliling. Dalam dunia bisnis disebut program pencerdasan masyarakat atau pilar pendidikan. Kalau ingin di lihat bahwa ini program monumental yang hebat, kuat dan spektakuler maka kerjasama dengan lapisan tingkat atas atau top down harus juga di lakukan dengan penerima manfaat dari lapisan masyarakat tingkat bawah. Keduanya tentu memiliki alasan masing masing yang bisa dipertanggung jawabkan. Tinggal bagaimana kita bisa segera memulainya. Melakukan apa yang bisa kita lakukan dan secara terus menerus hal itu mampu membawa perubahan masyarakat.

Networking untuk masa depan :
  1. Jalin Hubungan secara berkelanjutan
  2. Jalin Hubungan dengan memperluas networking
  3. Jalin Hubungan dari waktu ke waktu

Contoh Program Spektakuler dari Bank Indonesia
Bank Indonesia dari tahun 2015 – 2019 telah berhasil membangun 1.000 BI Corner di Indonesia.
Bersama YPPI
·         128 Corner di wilayah Jabodetabek
·           33 Corner di wilayah KPW di 8 kota
·           50 Corner tahun 2019 di Jabodetabek
·           Xx Corner di beberapa KPW
·         183 Pojok Baca dan Dongeng di seluruh wilayah Indonesia