PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Minggu, 21 Oktober 2018

RUMAH KHODIJAH

Khodijah adalah Istri Rosul, merupakan wanita yang patut diteladani bagi ummat Islam di dunia. Khodijah digunakan Rumah Hafidz yang didirikan oleh Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia dengan tujuan akan melahirkan Khadijah Khadijah baru untuk jihad sebagai wanita yang akan melahirkan generasi hebat yang akan menjadikan Indonesia Luar Biasa..

Rumah Khodijah berada di JL Rungkut Asri Barat X/9 Surabaya dengan kapasitas maksimal 20 santri dan beberapa ustdzah pendamping. Dikelola dengan baik oleh lulusan2 pesantren terbaik di Indonesia.

Akan resmi dibuka pada bulan Januari 2019 yang sebelumnya telah berjalan  di bawah manajemen Daarul Quran selama 1.5 tahun. Sekarang sedang dilakukan renovasi dan pembenahan manajemen.

Akan segera dilengkapi informasi ini setelah penyusunan manajemen selesai, dan jika penasaran bagaimana Rumah Khodijah ini dikelola, silahkan hubungi kami.

Assalamualaikum wr wb

Trini
triniharyanti@gmail.com

Sabtu, 24 Februari 2018

KENAPA PUSTAKAWAN (ADA YANG) MASIH I-LIETRATE

Tidak bisa dibiarkan ketika seorang Pustakawan beneran, yang menempuh pendidikan 4 tahun di Universitas untuk di cetak menjadi Pustakawan ternyata dalam kehidupan nyata perilakunya masih I-LIETRATE.

Bahkan tidak saja Pustakawan yang dibiarkan i-literate, masyarakat umum juga harus literate, memahami informasi yang diterimanya, literasi tidak sekedar kemampuan membaca dan menulis saja tapi pengetahuan atau makna yang diterimanya bisa di implementasikan dengan baik.

Kenapa diatas menekankan bahwa tidak bisa dibiarkan PUSTAKAWAN yang perilakunya masih I-Literate, karena Pustakawan adalah Profesi mulia yang mendekatkan akses informasi kepada pemustaka, mendekatkan akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat secara luas. Dengan demikian berarti profesi Pustakawan adalah menjadikan masyarakat literasi. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi rendah tidak bisa diartikan sama dengan rendahnya minat baca, jangan salah paham ya.... . Yuk -- Ngopi dulu---. Minat baca masyarakat Indonesia sudah bagus, tapi tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Kemudian letak bedanya di mana ?

Sebelum menjelasakan kenapa PUSTAKAWAN tidak boleh i-literate, perlu disinggung sedikit bahwa perlu ada kerjasama antara Perpustakaan ditingkat Pusat sampai tingkat daerah dengan Badan Pusat Statistik untuk menyajikan data peminjaman buku. Data Peminjaman buku bukan saja layanan perpustakaan umum milik pemerintah tapi ditambah kolekting data peminjaman buku ditingkat masyarakat yang dilayani masyarakat juga dan Perpustakaan Khsuus yang ada. Sehingga diperoleh data yang mendekati akurat seberapa tingkat baca masyarakat, data ini baru asumsi tingkat baca. Ketika data ini dipilah dengan buku apa yang di baca oleh masyarakat maka akan diperolah data seberapa tinggi level baca di masyarakat. Dari tinggi rendahnya minat baca , akhirnya akan diketahui seberapa besar pengaruhnya tinggi rendah minat baca terhadap perubahan perilaku literasi masyarakatnya. Kalau data Unesco di yakini benar ya silahkan,kalau tidak diyakini kebenarannya, maka mestinya kaum akademisi melakukan penelitian akan hal tersebut.

Kembali pada pembahasan kenapa Pustakawan tidak boleh i-literate, ini bisa dianalog kan bahwa kenapa kalau dokter sakit, orang jadi heran, Kok dokter sakit. Jangan di jawab bahwa dokter juga manusia. Karena dokter diyakini paham ilmunya bagaimana menjadi kesehatan, dan dokter yang sakit, apalagi sakit sakitan maka apakah masyarakat akan bisa mempercayainya untuk berobat ?. Nah loh.... begitu juga dengan Pustakawan, jika pustakawan masih i-literate, bagaimana mau me-literasikan masyarakatnya. Sehingga dosa besar yang tidak bisa diampuni (istilahnya saja) jika perilaku Pustakawan masih i-literate.

Bedanya minat baca rendah dengan literasi rendah, minat baca rendah adalah angka baca (baca buku) masyarakat rendah (ya ya lah). Berapa buku yang di baca masyarakat dalam 1 bulannya atau dalam 1 tahunnya, berapa kemampuan masyarakat membeli buku, berapa kunjungan masyarakat ke perpustakaan untuk meminjam buku, nah loh,,,ada gak data itu tersaji secara komprehensip di setiap kabuapaten. Apalagi tidak ada data berapa setiap hari orang membaca Al quran atau kitab lainnya. Misalnya ada komunitas satu hari satu jus, kemudian menyerahkan data berapa orang yang membaca satu jus satu harinya. Karena orang membaca Al quran terus menerus setiap hari juga bisa mengubah perilaku menjadi lebih baik.

Kalau literasi rendah, berapa pelanggaran yang dilakukan masyarakat saat berlalu lintas di jalan raya,  padahal rambu rambu jelas ada dan tersedia. Ini salah satu indikatornya. Kita paham betul bagaimana sampah yang tersedia dengan jenis organik dan organik dengan tulisan besar ditempat sampahnya saja, tidak dipatuhi dengan baik. Bagaimana ketika tulisan No Smoking terpampang tapi banyak banget orang merokok di area tersebut. Bagaimana ketikan ada tulisan Mohon Antri tapi di meja layanan berderet secara horisontal mengerubuti petugas. Bagaimana ketika ada tulisan dilarang berhenti tapi masih saja ada yang berhenti. Dilarang Parkir masih saja ada yang Parkir, dan masih banyak contoh contoh lainnya yang menjadi salah kaprah di masyarakat. Jika ini dibiarkan dan tidak ada yang peduli, bagaimana terkesan carut marutnya literasi Indonesia. Masyarakat bukannya buta huruf, masyarakat bisa baca dan sudah baca, tapi pelanggaran dianggap hal yang lumrah.

Kalau Pustakawan juga sikapnya demikian, maka akan memperparah kondisi carut marut tersebut, kalau kaum intelektualitas atau kaum yang berpendidikan juga demikian perilakunya, maka apa jadinya Indonesia ini. Terus bagaiamana kita harus bersikap ? BACA, PAHAMI, IKUTI, dari awal malas baca, lebih baik bertanya, malas baca lebih baik mendengar, malas membaca lebih baik melihat. Kemudian sudah mendengar, sudha melihat, sudah paham,,, tapi masih cuek dan melanggar, maka itu disebut dosa besar atas literasi Indonesia.

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam memahami informasi yang diterimanya melaui bacaan, simbol atau visual gambar dan suara. Kalau kata Literacy di Indonesiakan menjadi literasi dan ditambahkan I didepannya maka menjadi I-Literate. Artinya adalah ketidak mampuan sesorang memahami apa yg di bacanya.
Misalnya,

  1. Orang yang i-literate dengan simbol adalah ketika ada rambu di Larang berhenti dengan simbol S di coret tapi orang tersebut tetap saja berhenti di deket simbol tersebut maka orang tersebut kategori I-Literate. 
  2. Orang yang i-literatae dengan informasi atau kalimat atau bacaan, Ketika sesorang menerima surat, kemudian surat tersebut tidak di baca tapi bertanya, sementara pertanyaannya sebetulnya jawabannya sudah ada informasinya di dalam surat tersebut maka orang tersebut i-literate, karena sebenarnya bisa membaca, tidak mau membaca, dan bertanya yang jelas informasinya sudah ada. 
  3. Orang yang i-literate dengan visual adalah melihat tayangan yang menjelaskan tentang keselamatan kerja, tapi tidak diindahkan yang akhirnya menyebabkan kecelakaan kerja. 
  4. Ada pengumuman tentang mematikan handphone dalam pesawat tapi masih saja di dalam pesawat handphone nyala bahkan aktif ber wa an ria, bahkan telphone.

Nah, sudah jelas kan bagaimana akibat orang yang i-literate ?
yang pertama jelas membahayakan bagi dirinya dan orang lain, yang ke dua, terlihat sangat tidak cerdas, malas dan menjengkelkan orang lain, yang ke tiga terlihat seperti orang bebal yang bisa mengakibatkan celaka, yang akibatnya tidak saja dirinya, tapi orang lain bahkan keluarga. yang ke empat mengakibatkan terganggunga sinyal atau frekwensi radio bandara, bahkan mengakibatkan celaknya banyak orang.

Jadi sebenarnya apa penyebabnya jika Pustakawan yang keseharian berkutat pada profesi membangun literasi masyarakat, mengajak membaca, mendekatkan pengetahuan, informasi dan buku, tapi masih I-Literate, ya karena itu tadi : tidak mau baca, jika baca sulit paham, jika sulit paham tidak ada usaha, maunya ambil praktisnya bertanya. Atau malas baca, malas tahu, malas jadi orang pintar akhirnya jadi manusia bebal. Nah kalau sudah demikian, alih profesi jangan jadi Pustakawan, m e m a l u k a n dan t e r l a l u -------!!!!! kalau masih jadi pustakawan di gigit setan loh !!!! (sambil nulis geregetan nich)
Contoh disekitar kita masih banyak lagi, dan KITA WAJIB PEDULI AKAN LITERASI.

Terima kasih bagi pustakawan yang telah menginspirasi saya, sehingga tulisan ini ada. Semoga kebaikan, dan kesadaran kita semua membangun literasi Indonesia akan membawa perubahan bagi bangsa dan Nagera kita tercinta.

Salam Literasi.

Refrensi
  1. http://www.komunikasipraktis.com/2017/04/pengertian-literasi-secara-bahasa-istilah.html
  2. https://www.kanalinfo.web.id/2016/11/pengertian-literasi-dan-perkembangannya.html
  3. http://literasi.jabarprov.go.id/baca-artikel-1141-benarkah-budaya-literasi-masyarakat-kita-masih-rendah--permasalahan-literasi-dan-alternatif-solusinya.html


Rabu, 07 Februari 2018

Prakata 11 Tahun YPPI

"Sebagai institusi independen kami memiliki kontribusi menjadikan masyarakat cerdas melalui perpustakaan sebagaimana visi kami. Tidak berlebihan kalau kami bergerak terus bersama sama stakeholder untuk mengembangkan perpustakaan di seluruh wilayah Indonesia.

Berbagai bentuk dan jenis perpustakaan yang kami kembangkan selama 11 tahun dan terus dikembangkan dari generasi ke generasi yang akan kami bangun bersama sama di Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia. 

Semoga yang kami lakukan menginspirasi banyak pihak, sehingga implementasi bisa dilakukan siapapun di manapun di wilayah negeri ini. Kami juga terus berkembang, terus kreatif melakukan berbagai aktivitas perpustakaan kekinian sehingga dapat mengikuti arus jaman. Kiprah kami menjadikan Perpustakaan sebagai tempat edutaiment sepanjang hayat bagi masyarakat, sehingga kami memiliki makna bagi negeri ini. Salam Literasi