PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Rabu, 29 November 2017

GEMA SUPER BABEL

GEMA SUPER BABEL
Gerakan Masyarakat Suka Perpustakaan dan Membaca

Membangun Generasi Berkarakter Minat Baca
Sebagai Pencapaian Pembangunan Manusia seutuhnya
Belitung, 30 November 2017

Membaca itu setiap orang bisa membaca. Menulis  (mengetik) setiap orang bisa menulis. Tapi apakah membaca dan menulisnya itu berkualitas, bermanfaat atau asal membaca dan asal menulis. Mari kita amati perilaku masyarakat dan bagaimana peran kita semua dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat.

Minat Baca Masyarakat : anak, remaja, umum.

Peran : Pustakawan, Perpustakaan dan stake holder

Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca  (GPMB) : UU no 43 tahun 2007 pasal 48 PEMBUDAYAAN KEGEMARAN MEMBACA
GPMB didirikan tanggal 25 Oktober 2001 di Bogor dengan penggagas Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Daerah Provinsi, IKAPI dan Masyarakat Perbukuan.

GPMB dimulai dari : KELUARGA, SATUAN PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

Keluarga : penyediaan fasilitasnya oleh pemerintah melalui buku murah dan berkualitas
Satuan Pendidikan : memanfaatkan perpustakaan
Masyarakat : melalui perpustakaan umum


Riset yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional pada tahun 2015 menunjukkan minat baca masyarakat masih 25,1% atau masih rendah. Riset tersebut dilakukan pada 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden. Dalam riset tersebut ada beberapa indikator utama yakni frekuensi membaca per minggu, lama membaca per hari, jumlah halaman dibaca per minggu, dan alokasi dana untuk belanja buku per tahun. 

Berikut adalah tampilan hasil dari riset yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional :

1.   Dari sisi lama membaca, hasilnya:
·     63% membaca 0-2 jam per hari
·     31% membaca 2-4 jam
·     4% membaca 4-6 jam
·     2% membaca lebih dari 6 jam.

2.   Selain itu dari sisi jumlah halaman dibaca:
·     62% membaca 0-100 halaman per minggu
·     32% membaca 101-500 halaman
·     5% membaca 501-1.500 halaman
·     1% membaca lebih dari 1.500 halaman.

3.   Adapun, frekuensi membaca:
·     26% 0-2 kali per minggu
·     44% 2-4 kali per minggu
·     16% 4-6 kali per minggu
·     14% lebih dari 6 kali per minggu.

4.   Sedangkan dari alokasi dana untuk belanja buku:
·     44% mengalokasikan dana 0 – Rp 100.000 per tahun,
·     29% mengalokasikan dana Rp 101.000 – Rp 200.000
·     17% mengalokasikan dana Rp 201.000 – Rp 500.000
·     10% yang mengalokasikan dana lebih dari Rp 500.000.

Dari data tersebut di atas barangkali kurang akurat karena sebaran questioner yang hanya 12 Provinsi dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Jumlah Responsen sejumlah 3.360 dari 250 juta penduduk Indonesia maka  secara teori riset tersebut masih perlu di ulang, dengan cara mengambil sampling riset di tingkat provinsi yang bisa mewakili ke heterogian Indonesia.

Namun demikian tentu ada alasan khusus kenapa survei dilakukan di 12 wilayah provinsi dengan jumlah responden yang sangat terbatas. 

Dari sudut pandang Praktisi maka kami sampaikan bahwa Gerakan Minat Baca bisa di telaah dengan melihat dari sudut pandang “Membaca itu Apa dan Bagaimana”.

Bagaimana membaca ?

Membaca terbagi menjadi 4 kategori
1.       Membaca tingkat dasar : membaca asal membaca, yang di baca apa saja yang ditemuin
2.       Membaca tingkat inspeksionalisia : meluangkan waktu untuk membaca, dengan bahan bacaan yang sederhana, ringan tanpa harus berfikir. Buku fiksi, buku kesehatan, buku agama 
3.       Membaca Analitis : membaca secera menyeluruh dengan membutuhkan pemikiran yang sederhana. Membaca pelajaran sekolah, buku pengetahuan
4.       Membaca Sintopikal / Kamparatif : membaca yang disertai refrensi dan beberapa hal yang menyangkut rujukan

Masyarakat sekarang lebih sering membaca gadget dan umumnya belum paham betul apakah yang di baca itu hoax atau ilmiah. Sumber yang dipercaya atau asal copas yang sumbernya tidak jelas.

Bagaimana menulis ?.
Menulis jenisnya terdiri dari :
1.       Narasi : kisah yang berada pada dimensi waktu
2.       Eksposisi : uraian yang disertai analisis
3.       Deskripsi : penggambaran sesuatu melalui survey/observasi sehingga pembaca mudah memahami
4.       Argumentasi : pendapat penulis yang bisa mempengaruhi masyarakat
5.       Persuasi : tulisan yang sifatnya himbauan

Sekarang kita bisa sambungkan antara minat membaca dengan minat menulis, menjadi satu rangkaian, bagaimana minat baca yang bagus bisa menjadi penulis yang produktif. Dengan mengembangkan minat baca secara otomatis bisa menjadi penulis, dan ini lah bagian dari pengembangan literasi, pengembangan pengetahuan dan keberlangsungan hidup manusia di dunia.

Bagaimana minat baca bisa di tingkatkan dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan ?. Kita uraikan mulai dari tingkatan usia yang akan membedakan cara pendekatan agar setiap manusia mau membaca.
1.       Usia anak : kebiasaan membaca mudah di tiru oleh anak anak ketika anak melihat contoh dari orang tuanya, dari kebiasaan di rumah dan dari kawan kawan di sekitarnya. Untuk mulai membaca dibutuhkan  sesuatu yang menarik bagi anak,  yaitu mendengarkan dongeng. Ketika dongeng rutin di biasaan kepada anak, maka anak merekam imajinasi cerita dan mengingatnya. Suatu ketika dia akan membaca buku cerita tentang apa yang pernah di dengernya dari dongeng, dan akan di share ke teman sekitarnya. Setelah kebiasaan membaca terbentuk. maka zat adictive akan meracuni hidupnya yang kelak akan membawa kemanfaatannya maupun prestasi yang menyertainya.  

2.       Jika usia remaja dipaksa membaca , karena sebelumnya tidak terbiasa membaca maka hal yang menyenangkan bagi remaja adalah diajak melakukan kegiatan yang remaja suka, berdiskusi, memutar film, mengembangkan hobi, bakat, pengembangan kepribadian, mengembangkan pengetahuan, semua yang bertema remaja. Jika apa yang di sajikan dan menarik bagi remaja maka otomatis remaja akan datang, mengikuti program, dan pada akhirnya mencari referensinya.

3.       Usia berkisar antara 30 dan 40 tahun, yang tidak terbiasa membaca akan lebih sulit untuk mengajak membaca. Maka menarik tentu yang membuat orang merasa senang. Ajakan berkegiatan sesuai dengan kebutuhan kelompok usia ini,  terkait dengan ketrampilan, keagamaan, kesehatan, urusan rumah tangga, mengatur keuangan, pengasuhan anak, kewirausahaan, dsb nya. Dengan membentuk kelompok maka kegiatan bisa dibuat menyenangkan sekaligus ada hasil yang bisa dirasakan dengan merujuk pada referensi yang harus di baca jika kegiatan dikembangkan secara bersama atau secara individu.

Kesimpulan bahwa mengajak membaca di mulai dengan mengajak activasi yang menarik bagi user, atau masyarakat secara luas. Activasi jika di lakukan secara terus menerus maka perpustakaan akan selalu ramai, secara tidak langsung minat baca meningkat karena rujukan atau refrensi dari aktivasi tsb, karena selalu berujung pada buku yang membuat penasaran untuk di baca.


PERAN PERPUSTAKAAN
Apakah Perpustakaan mampu meningkatkan minat baca, atau apakah perpustakaan bisa mencetak penulis handal ? Jawabannya adalah bagaimana perpustakaan memiliki peran di masyarakat. Peran nya tergantung sejauh mana perpustakaan di kelola, dikenal, dimanfaatkan dan secara terus menerus menjadi landmard (baca : simbul intelektual) bagi masyarakat.

Pengelolaan Perpustakaan yang baik tentu mengacu pada standarisasi yang ada, atau bisa saja mengacu pada kebutuhan dasar manusia yang dilayaninya. Kebutuhan dasar manusia akan kebutuhan informasi, pengetahuan dan pengembangannya sehingga manusia bisa berkembang sesuai kodratnya sebagai manusia yang berpengetahuan. Pengelolaan sesuai standarisasinya adalah bagaimana lokasi, ruang, pengelolaan, koleksi, layanan, networking, aktivasi, anggaran dan kerjasama. Sesuai kebutuhan dasar manusia akan informasi dan pengetahuan maka perpustakaan mampu melayani dengan kelengkapan koleksi dan kemudahan akses produk yang dihasilkan.

Masyarakat jika sangat mengenal perpustakaan bahkan bergantung pada perpustakaan pada pemenuhan kebutuhan informasi dan pengetahuannya maka perpustakaan tersebut sudah mampu menjadi institusi bagi masyarakat , dimana perpustakaan tersebut berfungsi sebagai tempat belajar sepanjang hayat bagi masyarakat sesuai UU no 43 2007 pasal 2.

Yang terpenting dari standarisasi perpustakaan, adalah bagaimana Perpustakaan memiliki berbagai aktivitas yang membuat masyarakat merasa terlayani dengan baik dan seluruh kebutuhannya terkait pengembangan diri, informasi dan pengetahuan bisa terpenuhi. Aktivitas ini terus membawa manfaat dan berkelanjutan sehingga masyarakat mampu berubah menjadi sejahtera, cerdas, cendikia.

Sesungguhnya perpustakaan itu bermanfaat jika masyarakatnya tidak sekedar membaca tapi juga bisa berbuat (implementasikan) dari apa yang sudah di bacanya. Dan apa yang dilakukannya mampu di tuliskan kembali dalam berbagai bentuk dan jenis tulisan sehingga akan terus berkembang dan menjadi sumber informasi atau pengetahuan bagi masyarakat. Sehingga membaca dan menulis adalah rangkaian tak terpisahkan seperti keping mata uang yang akan memperkaya manusia di bidang pengetahuan. Nantinya dengan berpengetahuan luas maka secara otomatis masyarakat akan meningkat kesejahteraannya. Itulah peran perpustakaan sebagai tempat gerakan pemasyarakatan minat baca.

PERAN PUSTAKAWAN
Pustakawan yang dikenal sebagai profesi pengelola perpustakaan secara umum dianggap sebagai “penjaga” perpustakaan, penjaga buku. Pustakawan tidak sesederhana iu pengetahuan dan keilmuawannya. Pustakawan harus mampu menjalani perannya mulai dari hal tenis melakukan katalogisasi buku sampai pada bagaimana perpustakaan dikenal masyarakat secara luas dengan berbagai strategi marketing yang tepat. Perpustakaan yang dikembangkan secara baik membutuhkan dana yang cukup sehingga peran pustakawan juga harus bisa memenuhi kebutuhan adan yang cukup besar. Pustakawan juga mampu menjadi specialist pustakawan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akademis sesuai fakultas atau specialis keilmuawan dengan berbagai disiplin ilmu yang relewan. Pustakawan mampu menjadi pendamping masyarakat secara keseluruhan ketika aktivitas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penggunannya. Kegiatan yang dilakukan  pustakawan tentu mencerminkan service excelent (layanan prima) bagi masyarakat, sehingga pustakawan mampu bertindak tehnis dan strategis. Pustakawan dibekali pendidikan formal yang memadai sesuai tuntutan profesinya.
Gerakan pemasyarakatan minat baca adalah gerakan yang tidak bisa hanya di lakukan di dalam gedung perpustakaan saja, tidak sekedar dilakukan oleh pustakawan saja, tapi GPMB dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat,  baik di gedung perpustakaan maupun diluar gedung, dan lingkungan masyarakat. Berbagai kegiatan menarik bisa dilakukan dalam rangka gerakan ini. Kegiatan kreatif akan menjadi menarik bagi masyarakat sebagai entry point bagi masyarakat untuk membaca. Contoh gerakan pemasyarakat minat baca diantaranya adalah : pelatihan soft skiill, pelatihan menulis, speech kontest, diskusi, penyaluran hobi, berbagai training, penulisan, resensi dan bedah buku, dan masih banyak lagi aktivasi yang bisa dilakukan.

PERAN STAKEHOLDER
Pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas perpustakaan, ketersediaan fasilitas yang ada bagi masyarakat kadang di rasa kurang memadai, atau bagi pihak stake holder di rasa kurang memuaskan. Dengan demikian diperlukan kepedulian semua pihat yang berkepentingan untuk bersinergy atau bekerjasama meningkatkan fasilitas yang tersedia, untuk bisa memberikan layanan yang memuaskan masyarakat.
Apa yang disebut CSR (Corporate Social Responsibility) adalah bentuk kepedulian pihak swasta dalam membantu pemerintah meningkatkan fasilitas yang ada dan mempercepat pencapaian tujuan. CSR yang berkesinambungan adalah peluang untuk diperankan di dunia perpustakaan, mempercepat proses pencapaian masyarakat meningkatkan kegemaran membaca. Kalau CSR dimanfaatkan secara berkesinambungan dengan berbagai kegiatan yang terus berkembang liner dan integrasi maka GPMB bisa dilakukan bersama sama. Potensi mengembangakan sumber daya yang ada bisa menjadi bentuk fundrising bagi pengelolaan perpustakaan secara maksimal dengan memerankan komunitas yang ada. Jadi Kegemaran membaca itu tidak dalam kontek harfiah membaca teks book saja tapi juga membaca peluang yang ada untuk kesejahteraan bersama.namun peluang bisa dilaksanakan dengan baik jika pengalaman dan pengetahuan memadai dan itu tidak ada alasan lain kecuali harus membaca.

Stake holder akan memberikan bantuan, dengan persyaratan tertentu , diantaranya adalah konsep program yang jelas dan terukur, kejujuran dan personal garansi. CSR ini harus di keluarkan karena sesuai UU no 40 tahun 2007 tentang Perseroan, jika GPMB membutuhkan dana csr dan support lainnya dari stake holder, maka CSR menjadi peluang. Tanpa CSR  maka gerakan kampanye dan berbagai aktivitas tidak bisa diselenggarakan secara terus menerus. Maka peran Pustakawan, perpustakaan dan stake holder sangat penting dalam Gerakan pemasyarakat Minat Baca ini, tanpa ada kebersamaan tidak bisa berjalan sendiri sendiri.

GPMB : Gerakan Pemasyarakat Minat Baca
Apa itu GPMB ? Gerakan Pemasyarakat Minat baca
Visi-nya tercip-tanya masyarakat gemar membaca dan belajar, ber-pengetahuan cerdas dan berbudaya, berdaya saing tinggi serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Gerakan ini bisa di bentuk oleh pustakawan atau non pustakawan, bisa melibatkan multi stake holder, yang jelas memahami visinya dan berjalan bersama, bergerak bersama, memotivasi masyarakat dengan berbagai cara agar masyarakat mau membaca. Tahapan membaca sudah dijelaskan di atas, dan terus berkelanjutan sehingga habit membaca menjadi terus berkembang dan meningkat, sehingga terciptalah masyarakat cerdas. Kecerdasan masyarakat akan mampu mengubah hidup masyarakat itu sendiri.

Gerakan ini perlu dukungan semua pihak, khsususnya pemerintah sehingga pemerintah mengeluarkan regulasi adanya gerakan ini. Hari ini, telah di deklarasikan bersama terbentuknya GPMB tingkat Provinsi Bangka Belitung, dan pada hari ini di Belitung di inisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kabupaten Belitung bersama Gubernur telah sepakat bahwa Gerakan Pemasyarakat Minat Baca harus terus dilakukan. Pada hari ini turut hadir dari Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia dalam acara talkshow bertemakan Membangun Generasi Berkarakter Minat Baca adalah upaya yang dilakukan secara bersama, bersinergi, berkolaborasi mewujudkan tekad yang sama, mencapai tujuan masyarakat cerdas.
Semoga upaya ini akan berhasil dan menginspirasi kabupaten lainnya dan sukses menjadikan masyarakat Belitung cerdas dan sejahtera ----------------Salam Literasi !!!

KESIMPULAN

Oval: PERPUSTAKAAN
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar