PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Minggu, 27 Maret 2016

REVOLUSI MENTAL DENGAN MEMBACA

seminar gerakan pemasyarakatan minat baca jawa timur
bapersip Jawa Timur, 30 Maret 2016

Apa itu revolusi mental ? bagi sebagian orang, revolusi mental diartikan sebagai gerakan untuk memperbaiki mental secara revolusinir (cepat), total diperbaiki, nah apakah
 mental kita memang harus diperbaiki ?. Revolusi Mental diartikan sebagai Gerakan Hidup Baru, kemudian gerakan hidup baru seperti apa ? Praktek revolusi mental adalah menjadi manusia yang berintegritas, mau bekerja keras, dan punya semangat gotong royong."
Pengertian "Revolusi Mental adalah suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala."

Apakah bisa memperbaiki mental dengan membaca ? apakah benar dengan membaca hidup seseorang bisa berubah ? Apakah membaca memang memiliki manfaat besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara ?. Mari kita kaji bersama, korelasi MEMBACA dengan REVOLUSI MENTAL, atau kita kaji bersama apakah REVOLUSI MENTAL bisa dilakukan dengan MEMBACA

MEMBACA ?
Membaca Ditinjau dari level
1.        Membaca Tingkat dasar :  membaca apa saja asal di baca, Contoh baca koran (asal saja), sms, whatsapp, media sosial dan beberapa aplikasi lain. Kalau asal baca maka hanya memahami saja, mengerti saja,dan jika itu di informasikan kepada pihak lain maka informasinya akan biasa saja, kurang jelas dan hanya sekedar informasi saja.
2.        Membaca Tingkat inspeksionalisia : meluangkan waktu khusus untuk membaca, buku fiksi, non fiksi, email terkait pekerjaan. Bahan bacaan sederhana,mudah dipahami, terkait kebutuhan informasi yang sederhana. Tujuannya hanya  mengetahui, memberi informasi kepada pihak yang membutuhkan secara jelas, terstruktur dan mengandung makna yang bisa ditindak lanjuti secara tehnis. Contoh membaca tingkat inspeksionalisis adalah membaca koran rutin, membaca buku tentang masak, ketrampilan, keagamaan, kesehatan, seni budaya, peta.
3.        Membaca Analitis : membaca secara menyeluruh, biasanya dari bahan bacaan yang mengandung unsur pengetahuan. Perlu dicerna lebih lanjut, dipikir lebih mendalam dan dilaksanakan yang lebih dari sekedar instruksi atau disertai pemikiran pemikiran yang lebih strategis. Contoh membaca Analitis adalah membaca buku pelajaran sekolah, perkuliahan, pesantren. Ketika selesai membaca perlu ada kajian lebih mendalam baik dengan cara diskusi, bertugar pikiran maupun seminar.
4.        Membaca Sintopikal / Kamparatif : membaca keseluruhan dengan mencari referensi yang terkait dan menganalisi dari apa yang di baca, terkait dengan pengembangan pengetahuan. Diawali dengan analisis, diperdalam dengan sumber lain sebagai bahan rujukan, dikaji dan uji tingkat kebenaran dan kefalitannya, kemudian diinformasikan dalam bentuk ilmu pengetahuan yang sifatnya pengembangan maupun hal baru. Contoh membaca Sintopikal adalah Jurnal ilmiah atau buku refrensi untuk bahan skripsi, tesis, desertasi, penelitian, karya ilmiah.

Rata rata penduduk Indonesia yang jumlahnya 200 juta lebih, dari jumlah tersebut  70% MEMBACA masih dalam tingkat level pertama. 15% membaca level II (Pelajar, karyawan dan sebagian guru),  10% membaca pada tingkat level III (Profesi, Dosen dan sebagian guru) dan 5% level IV (profesor). Jelas bahwa sekalipun sama sama MEMBACA, tapi jika pada level yang berbeda maka akan sangat mempengaruhi pola pikir dan efek atau dampak yang berbeda pula.

Membaca terbagi menjadi 3 kategori :
1.        Membaca menyenangkan (Fun reading) : membaca hanya sifatnya menghibur diri, bacaan singkat ringan, dan sekilas saja. Baca media sosial, wa, sms, running tek, humor, iklan, bilboard, dan sejenisnya. Secara umum masyarakat membaca ini secara rutin dalam waktu yang tidak menentu, bisa kapan saja, dimana saja.  Dikaitkan dengan level membaca maka kategori funreading ini pada level membaca tingkat pertama atau dasar.
2.        Membaca informasi (Information Reading) : meluangkan waktu khusus dan secara rutin membaca dengan buku, baca koran rutin, baca buku pelajar yang sifatnya informasi untuk kebutuhan, tahapan ini sudah memasuki habit reading (kebiasaan). Dikategori membaca informasi ini masuk pada level inspeksionalisis
3.        Membaca Pengetahuan (Knowledge reading) : tahap kecanduan yang memang sudah menjadi penunjang profesi. Kategori ini masuk dalam level analitik dan sintopikal. 

Dari kategori tersebut maka kategori membaca informasi dan pengetahuanlah yang bisa mempengaruhi seseorang  dan orang lain pada kehidupan dan perilaku di masyarakat.

Kecerdasan Membaca : membaca buku atau  membaca non teks (non buku)  adalah kemampuan seseorang  memaknai apa yang terlihat, karena sesungguhnya apa yang dilihat dan apa yang dipikirkan adalah sama dengan apa yg di bacanya. Ketika masyarakat berinteraksi dengan apapun maka sesungguhnya pikiran  kita akan bereaksi, sehingga pengertian membaca juga sama artinya dengan apa yang kita pikirkan. Maka dalam  masyarakat ada istilah berfikirlah sebelum bertindak, berfikir bisa dipahami sebagai bagian dari tindakan membaca, karena pengertian MEMBACA adalah perilaku mengamankan informasi dan pengetahuan.

Kemampuan membaca dengan teliti adalah bakat yang sangat luar biasa dan bagian penting untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan untuk korespondensi hardware untuk kehidupan setiap orang (10 pengertian membaca oleh para ahli).

Membaca ialah untuk melihat dan memahami substansinya, dapat mengekspresikan atau internal saja (Kamus bahasa indonesia).

Komponen membaca terdiri dari 3 hal yaitu : intelektual, emosional dan dialek (Mr Kolker 3, ahli bahasa dari Jerman).

Jadi jelaslah bahwa MEMBACA itu akan mengubah perilaku kehidupan seseorang, karena membaca hakekatnya bukan karena unsur huruf, kata, dan kalimat yang dibunyikan, tapi ada 3 komponen (intelektual, emosional dan dialek)  yang menyertainya, ada kemampuan  memahami, ada ekpresi, ada interaksi, ada aksi. MEMBACA bagi jiwa adalah kebutuhan, MEMBACA bagi raga adalah pembentukan karakter, MEMBACA bagi lingkungan adalah membawa perubahan, MEMBACA bagi bangsa dan negara adalah menguatkan.  

Membaca bisa di ukur dengan cara bagaimana seseorang  berperilaku, karena membaca itu makna harfiahnya adalah memahami, memahami itu bisa dengan berbagai cara, dan memahami makna bisa dilatih terus menerus. Apembahasan sebelumnya dikatakan sebagai level atau tingkatan membaca. Ukuran keberhasilannya jika kemampuan membaca dengan cepat, tanggap, informatif, dan aplikatif. Karena ada banyak hal yang bisa di baca, diantaranya adalah :   
1.    Implisit
: membaca suatu kondisi yang tidak tersurat, membaca situasi, membaca peluang, membaca kondisi, membaca isyarat, membaca alam, dsbnya.
2.    Ekplisit
: membaca yang sudah jelas tertulis, mudah dipahami atau tidak mudah dipahami bergantung pada daya tangkap, kebiasaan, level membaca, bahasa dan tulisan yang dikenali.
3.    Tangible
: membaca yang dampaknya bisa diukur, dengan membaca, sesorang kemudian paham, dilaksanakan dan ada manfaatnya bagi dirinya dan orang lain.
4.    Intangible
: membaca yang tidak terukur dampaknya, membaca, memahami, menganalisis, mencari sumber referansi, mengkaji ulang, menuliskan kembali atas dasar pengembangan atau temuan. Dibaca oleh yang berkentingan dimanfaatkan atau tidak, tidak ada konfirmasi dan tidak jelas keterukurannya.  
             
Mindset (Pola fikir) tentang MEMBACA :
Pola pikir seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, wilayah tempat tinggal, tingkat pendidikan dan pengalaman hidup.
·           Jika mind set nya kebendaan, material dan matematis maka segalanya bisa di capai dengan “uang” atau ukuran angka, tidak akan pernah menyadari bahwa membaca baginya “sebenarnya” sudah dilalui, karena kelompok ini berfikir bahwa membaca itu fisikly membaca teks (tulisan). Kelompok ini akan berfikir duniawi dengan pengumpulan harta kekayaan yang membuatnya bahagia di dunia dan bisa mendapatkan banyak hal yang menjadi harapannya.
·           Jika mind setnya berpola religius maka baginya “membaca” adalah perintah suci yang akan dipatuhi, yang di bacanya cenderung kitab suci dan hal terkait yang tujuannya adalah hakekat ketaqwaan kepada Tuhan. Disampaikanlah ayat ayat yang di bacanya sebagai bentuk implementasiatas apa yang telah di bacanya.
·           Jika mind setnya dunia akherat maka “membaca” baginya adalah teks dan non teks, dan menyakini “membaca” adalah perintah yang akan di implementasikan dalam bentuk karya dan kemanfaatan yang akan terus dikembangkan sehingga tercapai kesuksesan dunia akherat. 


Kerangka berfikir (Frame) MEMBACA
Pandangan orang awam
Manfaat Membaca                  à tahu banyak hal
Dampak negatif  Membaca     à membuang waktu

Survey Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa anak memiliki waktu 300 menit (5 jam) untuk menonton TV, Visual lebih mudah, dipahami, mudah ditangkap maknanya dan menyenangkan, tapi visual mematikan daya imajinasi dan kreasi. Maka harus dipulihkan dengan  membaca teks. Membaca teks akan  memaksa otak menangkap makna dan bekerja aktif merangsang daya kritis, imajinatif, dan kreatif.

Pembiasaan membaca teks (buku) akan  merangsang otak terus berkembang, otomatis akan berdampak pada kecerdasan dan  intelektualitas yang bagus, membaca juga mampu membentuk karakter seseorang. Tergantung dari buku apa yang di baca, kehalusan budi pekerti akan dipengaruhi buku bacaan tentang seni, budaya, sastra. Buku tehnologi akan mempengaruhi kreatifitas, buku ketrampilan akan berpengaruh pada soft skill, buku fiksi akan  mempengaruhi daya imajinasi dan memperkaya kosa kata, buku kesehatan, akan mempengaruhi pola hidup sehat, makanan sehat dan masih banyak lagi pengaruh lainnya.
 
KESIMPULAN
Kalau yang dimaksud  revolusi mental adalah mengubah hidup dengan bekerja keras, maka membaca yang dilakukan pada level tertentu (analitis, sintopikal) jelas akan sangat berpengaruh, karena membaca pada level ini adalah kebutuhan hidup yang menopang profesi seseorang. Orang pada level membaca tingkat analitis sintopikal akan terus memuaskan hidupnya dengan membaca karena akan mempengaruhi tingkat kehidupan dan kemanfaatan hidup. Sehingga revolusi mental bagi orang level ini sudah melekat tanpa harus di revolusi lagi.

Kalau revolusi mental pada integritas (konsistensi pada nilai nilai luhur, jujur dan berkarakter) maka membaca yang dilakukan terus menerus dan menjadi habit, itu secara otomatis rangsangan otak dan pembentukan karakter terpola dengan buku, informasi dan pengetahuan yang dibacanya. Sehingga perlu ditinjau ulang apakah tema buku yang menjadi habit bagi seseorang tersebut mengandung unsur ke integrasian, jika memang belum emmbentuk integritas maka perlu mencari referensi yang terkorelasi dengan intigritas. Buku keagamaan, buku cerita kepahlawanan, biografi, otobiografi, buku psikologi dsbnya.

Revolusi Mental yang mengarah pada kerja keras, adalah bagaimana buku yang bisa menginspirasi sesorang menjadi seperti yang ditokohkan, jenis buku yang bisa mempengaruhi adalah biografi, kewirausahaan, cerita sukses, dsbnya.

Jelas bahwa Revolusi mental bisa dipengaruhi oleh membaca, dengan level tertentu yang sudah menjadi habit atau kebiasaan (istikomah) yang memang sudah dilakukan dalam jangka waktu yang lama (bertahun tahun atau berpuluh puluh tahun). Tidak bisa dengan cara instan yaitu begitu ada kebijakan terkait revolusi mental maka dengan serta merta masyarakat di wajibkan membaca, tapi membaca diwajibkan untuk secara terus menerus dalam waktu yang tidak terbatas, sehingga nantinya akan terbentuk masyarakat cerdas, berkualitas yang akan menguatkan Indonesia menjadi luar biasa.

KEYAKINAN
BACALAH
‘Iqra’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Iqra’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya. (Q. Al ‘Alaq: 1-5)
Pemaknaan singkat tentang BACALAH
1.      Bismillah, sebelum melakukan apapun
2.      Penciptaan manusia yang sempurna
3.      Tuhan Memberikan segalanya (Pemurah)
4.      Membaca dengan kalam (makna dari kitab suci dan sifat atau ungkapan dari lafal)
5.      Mengajarkan apa yang belum diketahui

BACALAH adalah perintah tegas, dari ayat pertama, jadi sudah jelas bahwa hukumnya wajib, berani melanggar berarti berani menanggung resiko. 

Referensi :