PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Senin, 16 Maret 2015

Menggalang Kemitraan Dengan Swasta dan Stake Holder Dalam Membangun Gerakan Literasi Rapat Tehnis Pembinaan Perpustakaan Jawa Timur 2015

Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 alinea IV mencerdaskan kehidupan bangsa, maka yang dicerdaskan adalah sumber daya manusianya. UU no 43 2007 mengenai Perpustakaan :

Pasal 2 : Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.

Pasal 4 : Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pasal 2 : membahas masalah Manajemen Perpustakaan : demokratis, keadilan, keprofesionalan, keterbukaaan , keterukuran dan kemitraan.

Pasal 4 adalah hasil dari layanan perpustakaan mulai dari tahap  : meningkatnya gemar membaca, memperluas wawasan, pengetahuan dan mencerdaskan kehidupan .

Apa yang menjadi indikator suksesnya Perpustakaan : Jumlah pengunjung ? jumlah peminjam buku ? atau perubahan perilaku masyarakat ? apa tanda tanda perubahan perilaku ?

INDIKATOR SUKSESNYA PERPUSTAKAAN
Laporan pengunjung, dan peminjam buku adalah data kwantitatif yang bisa dikaitkan dengan suksesnya perpustakaan. Pengunjung yang terus meningkat sebanding dengan jumlah buku yang dipinjam berkolerasi terhadap meningkatmya minat baca masyarakat. Tidak cukup dengn perubahan peningkatan angka kunjungan tetapi harus disertai perubahan perilaku masyarakat pengguna. Kalau sudah demikian maka kesuksesan tersebut dapat di raih jika : kebutuhan masyarakat pengguna bisa dipenuhi dengan baik oleh pihak perpustakaan.

Yang menjadi kendala bagi Perpustakaan dalam berkegiatan, layanan, penyediaaan koleksi  dan fasilitas yang memadai adalah dana. Sumber dana bisa dari APBD dan APBN maka jika tidak mencukupi maka pihak perpustakaan harus berupaya mencari sumber dana lain diluar APBD dan APBN. Untuk mendapatkan Dana diluar tersebut maka di jalin KEMITRAAN, kemitraan ini bisa dengan swasta maupun stakeholder lainnya. Masyarakat juga bisa menjadi sumber dana asalkan tidak menjadi beban masyarakat dan bukan dilakukan oleh pemerintah. Karena pemerintah memiliki kewajiban layanan secara gratis.

Dana kalau dari kacamata orang swasta maka bukan faktor utama suksesnya perpustakaan, tetapi sebagai pendukung (support). Yang lebih diutamakan oleh pihak swasta adalah justru kemitraan, bentuk kemitraan ini bisa bermacam macam cara dan pola kerjasama. Akan di bahas dalam ulasan khusus di bawah ini.

Namun sekali lagi bahwa suksesnya perpustakaan karena beberapa faktor diantaranya :
1.      Gerakan literasi (Sosialisasi)
a.       Mendekatkan akses buku
b.      Memudahkan akses buku
c.       Murah / Layanan Gratis
d.      Menyenangkan (layanan yang baik)
e.       Keberlanjutan
2.      Sarana dan Fasilitas yang memadai
3.      Koleksi yang lengkap dan variatif
4.      Kegiatan yang sesuai kebutuhan masyarakat
5.      Layanan yang excelent

Ke lima komponen tersebut harus integrasi dan saling terkait, tidak terpisahkan. Didukung oleh regulasi dan komitment dari pimpinan perpustakaan. Sumber daya manusia menjadi faktor penting karena sebagai pelaksana, pengendali, dan mengevaluasi atas segala apa yang dilakukan.

KEMITRAAN

Jumlah Perusahaan dari data yang diambil tahun 2012 ada sekitar 6,024 Perusahaan di Jawa Timur.  Kota yang memiliki potensi besar mengadakan Kemitraan untuk mendapatkan  dana dari pihak swasta atau yang disebut sebagai CSR (Corporate Sosial Responsibility) adalah Banyuwangi, Probolinggo, Pasuruan,  Malang, Surabaya , Sidoarjo, Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Kediri, Malang dan Kota lain di Madura dll.
CSR tersebut jika bisa di dapatkan secara keseluruhan dan dimanfaatkan secara maksimal maka akan terjadi percepatan pertumbuhan minat baca dan gerakan literasi karena ada tambahan dana jika dana dianggap sebagai kendala pertumbuhan gerakan literasi.

Contoh perhitungannya adalah sbb :
1.        6.000 perusahaan x Rp. 5 juta sampai 10 Juta amaka per tahun akan di dapatkan dana sebesar 30 s/d 60 milyard. Dana tersebut jika dibelikan buku maka akan diperoleh 1.200.000 eksemplar buku. Buku tersebut apabila dibagikan kepada 38 kabupaten kota maka setiap kabupaten akan mendapatkan rata rata 1.200 eks buku.
2.        Jika dana tersebut lebih tapi dilakukan dengan membuat konsep yang jelas dan terukur maka perpustakaan akan lebih maksimal lagi dalam pengembangan perpustakaan, namun tidak merata diseluruh Jawa timur tergantung potensi masing masing daerah.

Dana CSR tersebut sebenarnya diatur dalam UU no 40 tahun 2007 pasal 74 khususnya perusahaan yang mengelola sumber daya alam. Perusahaan tersebut mengeluarkan tanggung jawab sosialnya dibebankan kedalam biaya produksi. Jadi harus dikeluarkan sekalipun perusahaan tersebut belum beroperasi atau belum mendapatkan keuantungan.

Maka dihimbau kepada Perpustakaan untuk mengambil peluang kemitraan ini dengan cara :
1.      Kenal lebih dekat
2.      Membuat konsep yang jelas
3.      Mengadakan loby dan presentasi atas konsep tersebut
4.      Menjalin MOU
5.      Mengimplementasikan dengan baik dan terukur
6.      Mempertanggung jawabkan dalam bentuk laporan (transaparansi)
7.      Mempublikasi kesuksesan yan dilakukan
8.      Manfaatnya dirasakan oleh masyarakat

Jangka waktu yang diperlukan untuk menggalang kemitraan tersebut biasanya proses selama 1 sampai 12 bulan karena pihak swasta tentu memiliki kebiakan dalam berkerjasama karena dipengaruhi oleh faktor kepercayaan, profesionalisme kerja, kapasitas yang dimiliki parnert, dan seluruh dokumentasi yang harus dipertanggung jawabkan dalam bentuk laporan.

Apabila peluang CSR tidak dimanfaatkan dan perpustakaan hanya mengandalkan APBD dan APBN saja maka apa yang dilakukan hanya sebatas kewajiban sesuai tupoksi yang ada. Dan jika peluang CSR sungguh sungguh dilakukan maka prestasi perpustakaan adalah percepatan perubahan pencerdasan masyarakat segera terwujud.


YPPI DAN MITRA KERJA DALAM MENGEMBANGKAN PERUSTAKAAN
Potensi CSR  harus dimanfaatkan secara maksimal dengan berbagai pendekatan :
1.        Pendekatan personal (Prestasi dan kepercayaan) : Melakukan pembuktian terlebih dahulu (upaya maksimal) berbagai kegiatan literasi sesuai TUPOKSI Kantor Perpustakaan dan Arsip. Kegiatan tersebut harus diekspos baik secara on line jejearing sosial atau media masa. Klipping atau pendokumentasian dengan baik. Mengundang Stake holder dan selalu menyertakan masyarakat disetiap kegiatan.
2.        Pendekatan kedinasan (Profesional) : regulasi sangat alat hukum untuk mensukseskan atau memudahkan kerjasama bisa berlangsung. Dan UU no 40 tahun 2007 sudah mendukung adanya CSR yang bisa digunakan untuk percepatan pencerdasan masyarakat melalui perpustakaan. Kedinasan ini bisa saja atau harus diback up oleh kepala pemerintahan di daerah.

UU no 40 tahun 2007 Perseroan Terbatas : Pasal 74 kewajiban perusahaan memberikan sebagaian tanggung jawab sosailnya kepada masyarakat sekitar.
 i.          Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan.
ii.          Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran.
iii.          Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
iv.          Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) selama 8 tahun sudah berhasil mendapatkan 10 mobil perpustakaan keliling, membangun beberapa perpustakaan desa/kelurahan / TBM. Perpustakaan khusus dan berbagai seminar menggalang gerakan literasi di seluruh wilayah Indonesia. Pengalaman inilah yang di share dalam kesempatan rapat tehnis koordinasi perpustakaan se Jawa timur. Namun demikian semua akan bergantung pada niat dan kesungguhan masing masing perpustakaan di daerah masing masing.

YPPI sebagai lembaga swasta yang tidak mendapatkan support dana pemerintah terus berupaya membantu pemerintah mengembangkan perpustakaan dengan caranya. Cara yang ditempuh adalah bentuk peluang yang diambil dari regulasi yang ada (UU no 40 2007). CSR di perusahaan diyakinkan oleh YPPI bahwa Program Perpustakaan jika dilakukan dengan konsep yang jelas dan indikator yang terukur maka Program CSR tersebut akan menjadi pilot model.

Contoh yang sudah dilakukan oleh YPPI adalah membangun :
1.      5 TBM Surabaya
2.      6 TBM Pasuruan
3.      2 TBM Karawang
4.      1 Rumah Kreatif Bogor
5.      2 Perpustakaan Sekolah (Kuningan dan Rembang)
6.      6 Sudut Baca Muba
7.      2 mobil  Surabaya dan Pasuruan
8.      2 mobil di Bojonegoro
9.      1 mobil di Muba
10.  1 Mobil di Bangka
11.  3 Mobil di Anambas
12.  1 Mobil di Gresik
13.  7 Sampoerna Corner di 7 PT
14.  3 Employee Library (Sampoerna, Indonesia power, Pertamina Semarang)
15.  Reading Corner di Rumah Sakit
16.  49 Perpustakaan PAUD di DKI

MITRA YPPI
1.      Bank Indonesia
2.      MCL Bojonegoro
3.      Sampoerna
4.      JOB Pertamina (Hess) Taliman
5.      Pertamina Semarang
6.      Conoco Phillips Indonesia
7.      PGN SAKA
8.      The Asia Foundation
9.      Indonesia Power
10.  Ikatan Alumni SMA I Bangka
11.  SMA N I Rembang
12.  UNS + RSI

MOU yang sudah dilakukan YPPI
1.      Tahun 2007-2008 : MCL Mobil Pusat Informasi di Bojonegoro
2.      Tahun 2008 – 2009 : BI di Bogor Rumah Kreatif
3.      Tahun 2008 – 2011 : Sampoerna PPS di Surabaya, Pasuruan dan Karawang
4.      Tahun 2008 – 2011 : JOB Pertamina Talisman di Bayung
5.      Tahun 2009 – 2011 : Sampoerna Corner
6.      Tahun 2011 – 2012 : Ikatan Alumni Papin dan SMA I Rembang
7.      Tahun 2011 – 2012 : Pertamina Semarang
8.      Tahun 2012 – 2015 : Conoco Philips Indonesia
9.      Tahun 2014 : PGN SAKA dan Bank Indonesia
10.  Tahun 2015 : PETCON


PENGHARGAAN
King Sejong Literacy Prize : penhargaan dari Unesco 2012 atas keberhasilan menekan angka buta huruf yang korelasinya dengan pertumbuhan ekonomi yang telah diperoleh Jawa Timur tahun 2012. Hal ini membuktikan bahwa Jawa timur memiliki komitment memberantas buta haruf atau gerakan literasi. Untuk itu perlu kesungguhan setiap perpustakaan kabupaten dan kota diseluruh Jawa Timur untuk bersemangat melakukan gerakan literasi dengan menggalang kemitraan bersama swasta dan stake holder,

YPPI pernah mendapatkan Nugra Jasa Pustaloka dari Perpustakaan Nasional tahun 2012, sebagai kategori Tokoh Maysarakat yang memiliki kepedulian membangun perpustakaan. Anugerah penghargaan tersebut bukan sebagai tujuan YPPI tapi Tanpa penghargaan YPPI terus bergerak melakukan gerakan literasi. Sehingga perjuangan tidak berhenti begitu saja.

Untuk mensuksesakan gerakan literasi ini Pemerintah sudah membentuk wadah disebut sebagai GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca). GPMB  bertujuan :

1.        Membangkitkan semangat dan kemauan masyarakat untuk membaca serta menjadikan membaca sebagai budaya di masyarakat;
2.        Mengembangkan dan meningkatkan peran perpustakaan dan seluruh unsur masyarakat dalam pengembangan minat dan budaya gemar membaca;
3.         Turut mewujudkan pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya, manusia yang berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur sebagai subyek pembangunan nasional.

Gerakan literasi tidak bisa dipisahkan dengan wadahnya yaitu GPMB maka sebaiknya setiap Perpustakaan kabupaten / kota perlu membantuk GPMB ini dan melakukan gerakan aktif dalam meningkatkan minat baca masyarakat. Untuk gerakan tersebut dibutuhkan kemitraan bersama swasta dan stakeholder dan secara integrasi melakukan gerakan yang sama sehingga segera terwujud masyarakat yang cerdas sesuai amanah UU Dasar 45 alinea IV.


Referensi :

6.      http://www.tribunnews.com/regional/2014/12/06/1700-perusahaan-di-jatim-belum-daftar-ke-bpjs-