PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Sabtu, 28 Februari 2015

TEKNIK KATALOGISASI DAN PENGEMBANGAN POLA KEMITRAAN BAGI PENGELOLA TBM

Materi ini banyak pertanyaan
Jawabannya tidak salah benar
Jawaban menjadi solusi penyelesaian
Yang memahami akan bisaberlanjut terus
Bersungguh sungguhlah, maka anda akan sukses
S a l a m  l i t e r a s i

Apa yang dimaksud TBM ? ruang berisi buku atau, buku yang harus ada di dalam ruang ? kemudian buku tersebut harus di baca atau masyarakat dipaksa membaca ? ketika tidak membaca , upaya apa yang harus dilakukan ? Apakah TBM itu harus ada di setiap desa ? atau TBM boleh ada boleh tidak ? Apakah TBM itu memang milik individu, atau bisa saja milik kelompok ?. Apakah TBM itu memang dikelola apa adanya atau sederhana ? apakah TBM harus dikelola dengan baik ? Kenapa harus dikelola dengan baik ? atau biar saja dikelola secara apa adanya ?

Begitu banyak pertanyaan yang ada dalam materi ini, tentu setiap jawaban tidak sama antara satu peserta dengan peserta lainnya. Setiap jawaban yang di lontarkan memiliki relatifitas masing masing. Tidak ada awaban yang salah, yang terpenting adalah mindset mengenai TBM, mengenai pengelolaan, mengenai tujuan, mengenai layanan sebuah TBM sudah tepat sesuai harapan masyarakat.

Sudahkan ? Bagaimana sebenarnya mengelola TBM yang baik, benar dan sesuai harapan masyarakat ?

Bagi TBM (Taman Bacaan Masyarakat atau Taman Belajar Masyarakat) apa yang dianggap penting ? Layanan ? Jumlah koleksi ? banyaknya kegiatan ? ruang yang bagus ? banyaknya bantuan ?.
-            Jika layanan maka keramahan, membuka layanan di jam yang memang dibutuhkan masyarakat penguna. Layanan juga dikaitkan dengan koleksi yang lengkap, ruang yang nyaman, banyaknya kegiatan. Semua bisa terwujud jika cukup dana, yang itu bisa di dapatkan dengan berbagai cara.
-            Jika koleksi dianggap penting maka manajemen pengelolaan, jumlah koleksi yang banyak, cara penelusuran, dan penataan tentu arus diperhatikan. Pemeliharaan, dan stock opname juga menjadi perhatian untuk koleksi yang banyak.
-            Banyaknya kegiatan akan mendukung ramainya TBM dikunjungi oleh kelompok usia dan pengunjung dalam mengikuti kegiatan tersebut.
-            Ruang yang bagus membuat pengunjung senang dan betah berada di dalamnya, tapi juga mesti harus dilengkapi dengan koleksi, layanan yang ramah.

Kesimpulannya : antara ruang, koleksi, layanan, kegiatan dan dana saling terkait untuk mewujudkan TBM yang berkesinambungan.

Pertanyaan berikutnya : apakah motivasi mendirikan TBM ? kegiatan sosial ? keprihatinan ? kepedulian ? kewajiban ? instruksi keharusan ? ingin mendapatkan sesuatu ? Lalu, apakah motivasi akan mempengaruhi cara layanan ? mempengaruhi kegiatan dan mempengaruhi sumber dana yang akan mensupport keberlangsungan ?. Apakah dengan motivasi yang berbeda hasilnya juga akan berbeda ?. Apakah dengan motivasi yang sama hasilnya menjadi sama ? Yang paling penting ketika membuat TBM adalah mindset pendiri dan pengelola bahwa TBM itu adalah media untuk mencerdaskan masyarakat. Melalui buku buku itulah masyarakat memiliki tiga tahap perubahan :
  1. Membentuk Habit
  2. Menciptakan Adictive
  3. Mengalami Perubahan.

Apa indikator keberhasilan TBM ? Pengunjung yang banyak ? banyaknya buku yang dipinjam ? banyaknya dana/sumbangan yang  diperoleh ? banyaknya publikasi di media masa dan jejaring sosial ? terjadinya peru bahan masyarakat ? Cara membuktikan secara kwalitatif dan kwantitatif bagaimana ? Ketika TBM didirikan maka untuk mengenalkan kepada masyaraat perlu dilakukan sosialisasi dengan berbagai cara, salah satunya dengan melakukan banyak aktivitas, publikasi media dan jejearing sosial. Layanan rutin dengan berbagai pendekatan strategis kepada semua lapisan masyarakat yang dilayani. Kemudian memudahkan bagi masyarakat mendapatkan koleksi atau kemudahan peminjaman buku, maka jika ini sudah terpenuhi dan berhasil maka TBM baru mencipatakan Habit membaca masyarakat. Perlu tindak lanjut dengan cara selalu menambah koleksi atau adanya buku baru secara rutin, sehingga ketika habit terbentuk masyarakat akan kecanduan (adictive). Jika TBM mampu menciptakan ketagihan membaca  maka TBM berada di level 2. Dengan melalui proses panjang yang relatif sekali ukuran waktu maka masyarakat akan mengalami perubahan perubahan kebiasaan dan gaya hidup tergantung buku apa yang biasa di bacanya.  Perubahan inilah sebenarnya TBM sudah dikatakan sukses.

Specifik jika bicara ketergantungan buku yang harus terus di suplay adalah bahan bacaan. Maka semakin bertambah bahan bacaan semakin harus di tata dengan baik, yaitu dengan menggunakan tata kelola yang baik. Istilah dalam dunia perpustakaan disebut sebagai KATALOGISASI.

Katalog : metode penyusunan item (berisi informasi atau keterangan tertentu) dilakukan secara sistematis baik menurut abjad maupun urutan logika yang lain. Menggunakan sistem Decimal Deway Clasification (DDC). DDC ini menggunakan kode angka 000 – 900. Seberapa penting ini dilakukan untuk sebuah TBM ?

Tujuan pengkatalogan adalah:
1.    Memudahkan sesesorang menemukan sebuah karya (baca : BUKU) yang telah diketahui pengarang, judul atau subjeknya.
2.    Memperlihatkan apa yang dimiliki perpustakaan melalui nama pengarang, subjek dan jenis literaturnya
3.    Membantu pemilihan sebuah karya seperti dalam hal edisinya secara bibliografis dan karakternya

menurut C.A. Cutter See more at: http://pengertiandaninfo.blogspot.com/2012/09/pengertian-katalog- perpustakaan.html#sthash.HNWUISiS.dpu

KATALOG sebenarnya memudahkan bagi petugas untuk mencari buku, jika bukunya ribuan, puluhan ribu bahkan sampai mencapai jutaan. Bagi pengguna, maka Katalog sebenarnya bermanfaat jika pengguna tersebut paham, supaya pengguna paham maka perlu ada sosialisasi atau disebut sebagai pendidikan buat pengguna. Kalau layanan bersifat tertutup maka itu tidak terlalu penting bagi pengguna, apalagi klu sudah ada sistem OPAC (0n line Public Accses Catalogue). Kalau layanan terbuka maka memahami katalog dan memanfaatkannya maka itu penting.

TBM perlu mengkatalog untuk memudahkan inventaris, memudahkan pengunjung/pengguna mencari buku. Meningkatkan layanan, karena semua menjadi tertib , mudah dan rapi. Katalog juga mendidik masyarakat pengguna untuk mengetahui secara cepat.

Jika pemilik TBM tidak paham dengan katalog maka ada buku pedoman yang bisa dipelajari dengan mudah. Katalog itu sebenarnya sederhana jika memang bukunya tidak banyak,  Dengan menggunakan kode angka DDC (Decimal Dewey Clasification) cukup hanya angka depannya saja 000 – 900. Atau menyusunnya berdasarkan subjek. Atau bisa saja menggunakan analog sendiri berdasarkan level content buku. Untuk pembaca tingkat dasar, sedang sampai bacaan berat. Hal ini bisa di buat sendiri asalkan konsisten.

Katalog penting sesuai tujuan yang diuraikan di atas, katalog itu MEMUDAHKAN, dan di sinilah seni nya menemukan kembali koleksi. Jika tidak di katalog maka sama saja kita punya banyak barang di rumah tanpa di catat inventaris kapan beli dan berapa harganya di letakkannya di mana, tidak mudah mengingatnya kembali jika tidak memiliki dokumentasi (pencatatan). Jadi sebenarnya jika memiliki TBM maka juga harus memiliki iilmu pemeliharannyanya. Jika tidak maka anda memiliki TBM yang tidak mampu memelihara. Yang paling sederhana pemilik TBM harus memiliki daftar koleksi.


pengembangan pola kemitraan bagi pengelola TBM
TBM yang telah didirikan apapun latar belakang pendirian, dan siapapun pendirinya akan bisa bertahan jika :
  1. TBM tersebut bagus dari sisi ruang, jumlah koleksi memadai, layanan ramah, dan gratis) memanjakan pengguna
  2. TBM di support oleh koleksi dan sumber dana yang terus berkesinambungan dengan cara menjalin sponsorship atau kemitraan
  3. TBM kreatif mengadakan berbagai kegiatan dan terus memperluas jaringan, untuk pengguna dan untuk kemitraan
  4. TBM membuat media promosi dan jejaring sosial yang regular di publish (media on line)

Yang pertama dilakukan adalah media on line, namun semua juga harus dilakukan dengan konsep kejuuran dan kesungguhan. Publik relation atau relationship itu di lakukan dengan hati yang tulus dan berbagai. Bukan ego dan menonjolkan diri, tapi menjalin kebersamaan dan saling memberi. Maka semua kembali pada niatan membentuk TBM dilatar belakangi (motivasinya) apa ?.

RELATIONSHIP TBM
 

















Yang menjadi dasar Kemitraan (Relationship) adalah perilaku (attitude) : kepandaian (seni) bagaimana menjalin kemitraan untuk banyak hal yang bermanfaat, simbiosis mutualisme. Manfaat kemitraan adalah :
  1. Mendapatkan informasi tentang berbagai hal
  2. Transfer pengetahuan karena saling membutuhkan
  3. Mendapatkan bantuan material untuk TBM (Silang Layan) atau sponsorship
  4. Sosialita untuk mengembangkan kapasitas diri

Cara Menjalin Kemitraan
  1. Pendekatan personal : kenal dan berinteraksi secara langsung dengan pendekatan pribadi
  2. Pendekatan profesi : kenal karena sesama TBM atau memiliki profesi yang sama
  3. Pendekatan sosial : pendekatan yang linier karena bergerak dalam bidang sosial atau pendekatan sosial dengan profesi yang berbeda.

Harus pandai melihat peluang dan memanfaatkan pertemanan dengan baik, harus di dasari ketulusan dan memang untuk sosial. Kemitraan itu saling menguntungkan, bukan sebelah pihak tapi kedua belah pihak mendapatkan value dari apa yg akan dan telah dilakukan. Harus pandai membuat konsep dengan indikator keberhasilan yang akan dilakukan untuk bisa dijadikan bahan yang bisa “DIUAL” untuk menjalin kemitraan. Tanpa konsep yang jelas orang akan bertanya “apa yg sudah diperbuat dan akan diperbuat”. Mencoba mengkonsep TBM dengan baik dan terukur.

Jangan pernh bosan bersilaturahmi, jangan pernah melupakan teman dan kenalan, saling membantu dan saling mengingatkan. Saling menasehati tapi tidak menggurui, saling memperluas jaringan dengan tidak melupakan yang sudah ada.


Tidak ada yang sulit dan tidak ada kata tidak bisa. Silahkan di coba, ingin TBM terus berkembang, lakukanlah. S a l a m  l i t e r a s i.