PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Senin, 06 Mei 2013

Meng-LSM-kan Pustakawan



Meng-LSM-kan Pustakawan
Mengenal lebih dekat pada Profesi dan Pemustaka
(opini sebagai orang LSM yang menjadi pustakawan)

Kalau disebut sebagai bakat alam maka tidak lagi perlu dilatih dan di didik, tinggal dipertajam dengan menggunakan cara berkarya, itulah mungkin sebutan jiwa orang LSM.
Bisa hidup dimana saja, bisa bergaya apa saja, bisa dekat dengan siapa saja, bisa masuk disemua golongan, bisa beradabtasi dengan cepat, penampilan sederhana, bersahaja, apa adanya, jujur, mengedepankan kepentingan umum sampai pada level anti kemapanan, jiwa sosialnya luar biasa. Mungkin masih banyak sebutan lagi yang lebih miring, penampilan kasual, tas ransel, tidak rapi dan anti perlente, sedikit terkesan jorok karena makan bisa disembarang tempat. Kenapa mereka begitu ? karena dengan begitu mudah dikenal dan masuk disetiap golongan untuk menyampaikan ideologi yang dianut, menyebar ajaran melalui visi misi yang diembannya, melakukan perubahan dengan perlahan dan pasti, sabar dan sangat rendah hati.

Makanya orang LSM jika bergerak dipilar pilar CSR akan bisa diterima apabila tidak mengenakan topeng visi pengamanan perusahaan yang “amboradul”. Bergerak di bidang pendidikan maka LSM ini biasanya dipergerakan sekolah inclusive, mendekat pada kaum marginal, sekolah dengan berbasis community need. Terkesan sederhana bahkan cenderung apa adanya tapi bobot materi yang diajarkan biasanya memiliki kemampuan kompetisi yang tidak diragukan lagi. Lebih fokus pada bidang yang ditekuni (expert). Proses yang dilakukan tanpa dipaksakan mengalir apa adanya, dan model seperti ini sangat disukai oleh masyarakat.

Bidang kesehatan maka lebih menyukai terapi kesehatan back to nature, berbasis pada kearifan lokal, warisan leluhur dan memprosesnya menjadi produk ramah lingkungan dan seterusnya. Kebersihan juga akan dikaitkan bagaimana mengelola alam dengan cara recycle.

Bidang ekonomi, maka tumbuhnya perekonomian didasarkan pada gotong royong dan kebersamaan, bukan pada monopoli dan hukum rimba. Disini biasanya peran orang LSM sebagai mediasi ataupun pelaku yang akan menjadi model perekonomian baru, baik melalui sektor pertanian, peternakan, perikanan, perdagangan maupun sektor kehutanan. Sektor industri bermain di level buruh maka menciptakan buruh cerdas dan kritis akan hak dna kewajibannya.

Bicara secara khusus mengenai PUSTAKAWAN sebagai profesi yang tidak popular di masyarakat maka Pustakawan perlu mengubah jiwa dan batinnya menjadi orang LSM. Jika berhasil membentuk karakternya menjadi orang LSM sejati, maka sangat mudah masuk kesagala kelompok masyarakat, membawakan pengetahuan bukan memberikan buku secara fisik, membawa informasi melalui bentuk bentuk diskusi kerakyatan. Membawa kecerdasan melalui berbagai kegiatan ketrampilan, membawa perubahan dengan media perpustakaan. Memahami perpustakaan menjadi sesuatu yang lebih global. Bukan sebuah ruang dengan buku sebagai jantungnya, bukan gedung yang megah dengan segala sistemnya yang serba canggih, tapi membawa kesederhanaan yang bisa diakses masyarakat tingkat bawah. Jika LSM mampu membangun sistem tercanggih berada dalam satu gedung megah maka bukan sebuah monumental yang dibanggakan, tapi sebuah media yang familiar diakses siapapun, menjadi kebanggaan karena fungsinya, bukan sebuah proyek menguntungkan. Itulah sekiranya jiwa LSM yang sebenarnya. Maka profesi pustakawan akan mudah dikenal masyarakat, mudah dipahami masyrakat, lebih mudah diterima.

Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia adalah sebuah LSM yang didalamnya adalah sekumpulan orang orang yang berjiwa LSM termasuk Pustakawan juga harus bisa menjiwai LSM. LSM yang mengembangkan perpustakaan berbasis komunitas diseluruh wilayah Indonesia dengan memanfaatkan CSR untuk seluruh operasionalnya. Pustakawan bukan LSM sangat terlihat berbeda jika dibanding orang LSM, perbedaanya adalah dari fasilitas yang diminta untuk bekerja saja sudah beda, orang LSM menggunakan tehnologi tepat guna, artinya apa yang ada digunakan dengan tepat, tapi bagi Pustakawan terlebih yang lulusan dari perguruan tinggi ternama, meminta fasilitas yang harus memadai. Transportasi mennggunakan mobil dan driver sebagai pelengkapnya, konsumsi tidak mau makan di kaki lima, mesti diresto yang tertutup, kesehatan dijaga penuh dengan makan 3 x plus lauk pauk yang dikatakan empat sehat lima sempurna. Penginapan minimal yang berbintang satu, tidak mengenal kelas melati. Alhasil ketika dipaksa membumi mengikuti cara LSM maka strees tingkat tinggi dengan segala keterpaksaan mengikutinya, yang akhirnya berpengaruh pada kinerja.

Orang LSM dituntut untuk bekerja serba bisa, mulai dari menuliskan atau memprogramkan apa yang akan dikerjakan, mengkoordinasikan, melaksanakan sampai membuat laporan, bahkan  administrasi juga harus dikerjakan sendiri, tidak pakai waktu lama, serba cepat dan tepat, efisiensi biaya. Dengan efisiensi maka semakin banyak hal bisa dilakukan, sehingga terkesan orang LSM hidup sederhana dan dengan segala kesederhanaannya itulah maka orang LSM dianggap berpihak pada masyarakat (grass rote). Jika suatu saat ada LSM yang mampu memiliki asset dan fasilitas kendaraan maka fungsi untamanya adalah untuk kepentingan umum, kepentingan pribadi terkesan tidak terurus.

Sekarang kalau kita lihat Pustakawan Indonesia, maka bekerja adalah sebuah kewajiban untuk mendapatkan imbalan yang setimpal, karena merasa cukup memiliki ilmu, pengetahuan yang di dapatkan disekolah tinggi sebuah universitas. Pilihan akan jatuh di tempat yang nyaman dengan segala fasilitas yang cukup memadai, berpakaian rapi, duduk melayani, beramah tamah dengan semua pengunjung, tanpa berkeringat karena ruangan cukup sejuk. Jika yang datang kelas atas, maka keramahannya bertambah 100%, jika golongan menengah keramahan cukup 50%, jika yang datang kelompok bawah maka kesibukan datang tiba tiba dan tidak memiliki waktu untuk melayani, silahkan mencari sendiri buku yang ada, maaf kami sedang sibuk, begitu kira kira ucapannya. Jika diminta datang ke daerah mendampingi perpustakaan maka, halo tolong kami besuk dijemput ya dibandara pukul 10.30, kemudian begitu duduk dimobil jemputan maka yan ditanya pertama kali adalah kuliner apa yang enak di daerah ini. Meluncurlah mobil tersebut ke tempat tujuan kuliner. Selesai makan pagi separuh siang maka chek in dulu di hotel, duduk dan merabhkan diri, karena perjalanan dianggap meleleahkan. Selesai rebahan dan berdandan baru dijemput untuk diantar ke lokasi, penyambutan dengan segala entertaintnya cukup membuat senang semua pihak, dan malam kuliner lagi. Kenyamanan fasilitas dan kerja cukup adalah standar yang sudah layak di dapatkan Pustakawan, masalah hasil itu soal nanti, yang penting jalan. Kemudian ketika hal ini dari tahun ketahun dilakukan dengan ritme yang sama maka terakumulasi menjadi sistem yang berakhir pada sebuah kegagalan dan tidak berkembangnya perpustakaan dengan baik.

Pustakawan LSM mulai pagi mandi, nyiapain mobil, berangkat layanan, menyapa masyarakat yang dilaluinya, berhenti membuka mobil, menunggu pengunjung datang, bermandikan matahari, dengan senang hati menyapa satu demi satu pengunjung bercengkerama, bercanda, apa kabar hari ini, masak apa hari ini, panen apa hari ini, hasil melautnya bagaimana ? dan masih banyak pertanyaan yang terlomtar dari pustakawan LSM dengan aroma mataharinya. Kemudian ketika dia lapar, mencari warung yang ada disekitarnya, membeli cukup untuk dibagi kepada yang saat itu ada, jika ada rejeki maka pengunjung perpustakaan memberinya makan, minum atau kue, nikmat rasanya. Ketika ada anak kecil datang diajaknya menyanyi atau mendongeng di bawah atap langit, sejuk angin membawa kedamaian hati. Luar biasa nikmat rasanya. Daerah terpencil untuk mencapainya dibutuhkan pengorbanan meninggalkan keluarga, menikmati apa yang ada yang sebenarnya beda adat dan budaya, tapi dinikmati sebagai sebuah karunia. Tanpa mengeluh dan berharap pulang, karena dinikmati sebagai pengabdian kepada bangsa dan negara. Itulah jiwa jiwa LSM yang menggunakan topeng keputakawanan yang kadang dicela oleh pemilik topeng. Karena untuk menggunakan topeng itu mesti berilmu dan bersekolah katanya.

LSM ditingkat konseptor, akan selalu kreatif membuat terobosan dan tidak lagi berfikir budaya membaca, tapi terus bergulir menjadi budaya kreatif dan invatif, secara otomatis siapa yang kreatif dan inovatif itu hasil kerja membaca. Maka Pustakawan LSM terus mendekati masyarakat untuk bersama sama mengkreatifkan program perpustakaan yang berkesinambungan, memandirikan perpustakaan tanpa bergantung siapapun. Pustakawan LSM mendekati corporate dan orang potensial untuk diberdayakan kemakmurannya menjadi sebuah daya kreasi. LSM Perpustakaan terus berfikir kritis mendekati Pemerintah dan memberinya role model bahwa Perpustakaan itu adalah sesuatu yang berjiwa dan menjiwai masyarakat. Perpustakaan dimasa sekarang dan akan datang itu berada dekat dengan masyarakat, berada paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Peran penting pemerintah adalah penyedia fasilitas, fungsi pemerintah menggerakkan masyarakat sehingga fasilitas yang tersedia berfungsi baik, ketika berfungsi baik, maka syarat syarat penyambung kecerdasan akan terus tumbuh dan berkembang mengikuti gerak langkah kegiatan yang dilakukan perpustakaan.

Universitas sebagai pencetak pustakawan yang profesional seharusnya mengubah mindset apa dan bagaimana perpustakaan itu berada dan melakukan fungsi yang sebenarnya. Maka Pustakawan entrepreneur perlu dicetak untuk terus bergerak menjadi insan mandiri yang mampu menciptakan lapangan kerja sebagai Perpustakaan dan Pustakawan sekaligus dalam satu jiwa. Entrepreneurship Pustakawan itu mampu melakukan gerakan spontan baik berorientasi pada social networking maupun pada profiteble untuk kehidupannya. Tidak sulit jika niat dan jiwanya sudah menyatu menuju sukses hidup, sukses hidup adalah menjadi Pustakawan sebaik baik Pustakawan yaitu yang bermanfaat sebanyak banyaknya pemustaka dan msyarakat umum, bahkan bangsa dan negara.

Kalau kita mengatakan belum terlambat untuk mengubah dan berubah maka bisa kita mulai sekarang, menyatukan hati membentuk satu jiwa menuju visi yang sama adalah upaya mengubah keadaan. Meng-LSM kan pustakawan bukan berarti semua diubah menjadi LSM, tapi secara proporsional ada yang berperan menjadi LSM, sekalipun dosen, sebagai akademisi juga perlu meng-up grate otaknya, jika mnejadi pejabat perlu instal ulang komponen dan jiwa kepustakawanan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat. Jika menjadi mahasiswa maka perlu banyak mendownload ilmu ilmu yang melengkapi Kepustakawanan dan Pustakawan yang entrepreneurship. Jika masyarakat maka perlu menggunakan kacamata untuk melihat dengan jelas siapa dan bagaimana peran Pustakawan yang sesungguhnya sebagai profesi yang berperan penting.

Pengalaman berbicara bahwa dedikasi dan loyalitas di dunia kepustakawan menghantarkan kesuksesan pada skema terapan jiwa dan kepribadian LSM. Menghantarkan kegagalan dalam mengurus lembaga jika pustakawan berorientasi pada penyediaan fasilitas untuk kenyamanan hidup Pustakawan nya itu sendiri. Jika ingin mendiskusikan ini lebih jauh lagi maka contoh kongkrit ada di depan mata kita semua. Kesuksesan itu sebagai proses untuk menjadi manusia sebaik baik manusia, bukan menjadi kabnggaan karena akan bermuara pada kesombongan, kerendahan hati akan mencipatakan kedamaian dimuka bumi dan seisinya termasuk para pustakawan dari berbegai eleman dan institusi yang menaungi. Sertifikasi dan pengakuan adalah kertas yang bertuliskan hitam putih atas pengakuan diri, bukan pada karya nyata. Semoga kita semua menyadari sama sama bahwa kehidupan ini menjadi lebih berarti jika kita mampu mengubah diri kita masing masing menjadi Pustskawan sebaik baik Pustakawan.

Salam literasi untuk negeri.
Trini