PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Rabu, 20 Februari 2013

User Oriented Integrated Library Services



Seminar FPPTI Jateng, Tegal 22-23 Februari 2013
User Oriented Integrated Library Services
Layanan Perpustakaan Terintegrasi Berbasis Pemustaka
Pandangan praktisi “pustakawan” Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia
Mengkritisi keberadaan UU no 43 2007 dan kondisi riil  di Indonesia berdasarkan pengalaman

Forword
Yang paling menyenangkan ketika tanpa beban, tanpa ada batas waktu kita memiliki banyak kesempatan untuk malahap buku yang paling kita butuhkan dengan alur tulisan atau cerita  menyenangkan, sambil rebahan setengah duduk, di sofa panjang, suasana ruang tenang, romantis dan sejuk. Serasa disurga ketika sambil membaca mengikuti alur cerita yang seru disamping tempat duduk kita tersedia minuman segar yang hangat, camilan lezat, dan ketika kita lapar, sudah ada yang menyiapkan makan siang kita. Terus sampai satu buku setebal 350 halaman buku berukuran 16x23 cm selesai terbaca, kemudian khayan kita masih berada dalam isi cerita, sampai akhirnya tertidur.  Liburan itu menjadi sangat romantis dan menyenangkan, karena buku yang kita baca ternyata buku cerita roman dimana khayalan kita berada dalam satu tempat yang luar biasa indah. Jadi anatar suasana, alur cerita dan lingkungan membuat kita akan mengulang ulang (candu) membaca buku.

Kemudian sisi lain ada seseorang yang sibuknya luar biasa, tiada hari tanpa travelling, mobilitas yang tinggi membuat orang tersebut bisa saja makan siang di Singapore, makan malam di Jepang dan paginya sudah berada di New York, berdering telp dengan kalimat pertanyaan pertama, “berada dimana sekarang” karena teman, keluaraga dan kolega paham betul aktivitasnya. Sebagai seorang konsultan bisnis lulus S3 tentunya tidak akan pernah berhenti bekerja, belajar dan berbagai aktivitas lainnya. Dengan demikian semua fasilitas kemudahan akan selalu menyertai kemana dia pergi, hiburan dikala senggang menunggu pesawat atau menunggu makanan datang disebuh restoran tentu hiburan yang paling menyenangkan adalah gadget yang selalu dalam genggaman. Informasi dan berita yang tidak pernah terlewatkan akan dia peroleh dari gadget. Tidak mengenal dan tak akan pernah masuk Perpustakaan orang seperti ini. Tapi apakah kita sadar bahwa informasi dan pengetahuan tetap menjadi kebutuhan utama.

Kembali ke makna sebuah perpustakaan dalam teori disebutkan bahwa Perpustakaan adalah sebuag ruang atau gedung yang di dalamnya ada layanan buku, dimana informasi, pengetahuan bisa diperoleh. Terasa teori ini sudah harus di up date. Perpustakaan adalah ruang dimanapun berada yang nyaman bagi orang yang ingin mengakses informasi, pengetahuan dan dokumen dengan murah, cepat dan akurat. Bagaimana bisa teori ini dikembangkan demikian ? tentu jawabnya tidak mungkin tidak memang keharusan pengembangan teori perpustakaan ddi sesuaikan perkembangan jaman.

KEBUTUHAN DASAR PEMUSTAKA :
1.        Layanan yang baik (service satisfaction) :
a.         Keanggunan dalam berbusana, baik itu busana formal, kasual, atau tradisional membuat mata mendapatkan vitamin penyedap. Sapaan yang ramah dari petugas adalah kesan pertama yang akan berlanjut pada komunikasi selanjutnya.
b.         Komunikasi dua arah yang berimbang akan membangun image perpustakaan. Keseimbangan komunikasi yang interaktif tentu harus di dasari oleh luasnya pengetahuan, karena pemustaka itu akan sangat heterogen. Kecapakan berkomunikasi memiliki sifat dasar yang ramah, pandai menyesuaikan diri dibarengi oleh kesabaran.
c.         Suasana bersih, nyaman, tenang adalah melengkapi suasana yang dibutuhkan oleh pemustaka untuk membuat suasana lebih rileks.
d.        Pemustaka merasa puas dari apa yang diperolehnya, tentu berdampak pada akan kembalinya pemustaka di waktu waktu yang akan datang, dan apabila memang tidak kembali, maka komunikasi lanjutan pasti akan terjadi..
2.        Informasi, pengetahuan (knowledge) : merupakan content keberadaan sebuah perpustakaan. Sehingga pemenuhannya adalah sebagai berikut :
a.         Jika koleksi berupa buku maka buku tersebut harus up to date atau buku yang selalu ada dengan varient multi disiplin ilmu. Tidak semua pemustaka mencari buku baru, jika sifatnya reseach maka topik keilmuwan pendukung research harus ada termasuk data.
b.         Koleksi non buku bentuknya bisa bermacam macam, apakah yang sifatnya digital atau bahkan peralatan, perlengkapan atau media pembelajaran sehingga koleksi non buku tersebut memang dibutuhkan oleh pemustaka mendukung semua aktivitasnya. Koleksi non buku ini bila perlu memiliki tempat khusus seperti corner.
c.         Koleksi yang tersimpan, baik yang menjadi rujukan (referensi) keberadaannya di perpustakaan itu sendiri misalnya naskah kuno, benda antik maupun yang tersimpan ditempat lain merupakan rekomendasi untuk berjejaring dengan perpustakaan lainnya.   
3.        Cepat, mudah, murah dan akurat : ini menyangkut kecepatan layanan, kecepatan memperoleh informasi, kemudahan mendapatkannya baik secara langsung, devivery, maupun referensi dan rekoemndasi. Murah, berarti dengan segala hal yang diperoleh pemustaka tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam, tapi semua yang dibutuhkan bisa di dapatkan. Akurat karena memang informasi yang diperoleh sumbernya bisa dipercaya atau dengan kata lain, kalau berupa buku maka buku tersebut berkualitas, penerbit dan penulisnya adalah orang orang yang berkompeten. Kalau informasi dan pengetahuan berupa non buku maka yang menjadi media atas informasi dan pengetahuan yang akan diperoleh sangat memuaskan dan mudah diperoleh.

SIAPA YANG WAJIB MEMENUHI KEBUTUHAN DASAR PEMUSTAKA
Jika bicara UU no 43 2007 maka pemerintah wajib menyediakan jasa layanan perpustakaan
Pasal 1
  • Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.
Pasal 2
         Perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.
Pasal 3
         Perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.
Pasal 4
         Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pasal 5
         (1) Masyarakat mempunyai hak yang sama untuk :
a. memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan;
b. mengusulkan keanggotaan Dewan Perpustakaan;
c. mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan;
d. berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan.
         (2) Masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus.
         (3) Masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang
         disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing.
Pasal 11
  1. Standar koleksi perpustakaan;
  2. Standar sarana dan prasarana;
  3. Standar pelayanan perpustakaan;
  4. Standar tenaga perpustakaan;
  5. Standar penyelenggaraan; dan
  6. Standar pengelolaan.
Pasal 14
  1. Prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka.
  2. Berdasarkan standar nasional perpustakaan.
  3. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.
  4. Dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan.
  5. Optimalsasi pelayanan kepada pemustaka.
  6. Kerja sama antar perpustakaan.
  7. Dilaksanakan melalui jejaring telematika.
Pasal 15
  1. Perpustakaan dibentuk sebagai wujud pelayanan kepada pemustaka dan masyarakat.
  2. Pembentukan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
  3. Pembentukan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memenuhi syarat:
a. memiliki koleksi perpustakaan;
b. memiliki tenaga perpustakaan;
c. memiliki sarana dan prasarana perpustakaan;
d. memiliki sumber pendanaan; dan
e. memberitahukan keberadaannya ke Perpustakaan Nasional.
Yang bisa disimpulkan bahwa penyelenggara selain Pemerintah juga bisa pihak lain asalakan memenuhi standar tersebut dalam UU dan Masyarakat memiliki Hak atas layanan Perpustakaan.
Dalam teori Perpustakaan di dalam Perpustakaan menyangkut 3 hal (tidak dijabarkan secara detail :
1.        Infrastruktur : Gedung, Bangunan, ruang à fisik Perpustakaan
2.        Content : koleksi buku dan non buku à Based Need Community
3.        Organisasi : Kepemilikan dan pengelolaan à Manajemen Perpustakaan

APAKAH HARUS ADA PENYERAGAMAN PERPUSTAKAAN.
Yang dimaksud penyeragaman perpustakaan disini bukan standar sebagaimana disebut pada pasal 11, melainkan varient bentuk layanan yang harus tersedia mengingat bahwa Indonesia secara geografis dan culture memiliki keberagaman. Sehingga layanan mobile library menjadi penting untuk area tertentu. Atau konsep perpustakaan desa, kita sebut sebagai Perpustakaan Retail sangat potensial dikembangkan. Namun demikian wilayah tertentu yang dianggap memiliki PAD tinggi umumnya daerah penghasil  minyak dan sumber mineral lainnya membangun Perpustakaan sebagai landmark adalah sesuatu yang menjadi kebanggaan, icon sebagai daerah intelektual menjadi model, bahwa pembangunan sumber daya manusia diberawal dari satu titik dimana Perpustakaan tersebut berada (jika mangacu pada UU pasal 1).

PERPUSTAKAAN KELILING (mobile Library)
Selain penyediaan mobil, bisa juga berbentuk perahu, speed boat, atau kapal, kita sebut sebagai perpustakaan terapung. Perpustakaan yang melayani masyarakat dengan memanfaat event tertentu dengan konsep gelaran buku kita sebut sebagai perpustakaan kaki lima.  Car Free Day yang berlaku dibeberapa kota besar ketika week end menjadi ajang potensial melakukan layanan. Layanan perpustakaan tidak harus dengan menggunakan mobil, seorang Pustakawan Entrepreneurship harus berani melakukan banyak terobosan dalam memberikan layanan prima langsung kepada pemustaka.

Layanan kaki lima bisa dilakukan menjadi sangat menarik dan disukai jika berdampingan dengan berbagai aktivitas di out door ketika event yang diikuti sangat relevant dan masyarakat banyak berkumpul di tempat terselenggaranya  acara. Kegiatan yang menyertai itu contohnya adalah bedah buku bersama penulis atau pemerhati buku. Mendongeng, atau mebacakan cerita, atau banyak lagi kegiatan lainnya misalnya berburu buku (mencari judul dengan cara cepat). Ketika gelar buku atau layanan perpustakaan kaki lima tentunya tidak menyediakan layanan peminjaman,  bisa saja asalkan ada id card yang terintegrasi dengan sofware yang tersedia, seharusnya memang demikian idealnya. Layanan dengan model apapun terintegrasi dan terkoneksi di sofware yang digunakan.
Kelebihan Mobil Perpustakaan keliling
-          Lebih murah (efisiensi) untuk ukuran waktu dan jangkauan layanan
-          Lebih bisa mengcover banyak masyarakat dengan cara pendekatan personil
-          Bisa sebagai bentuk advocay masyarakat dengan mobilitas fisik yang menarik
-          Bisa berfungsi ganda selaian perpustakaan yaitu promosi dan educasi

Kelemahan mobil Perpustakaan keliling
-          Operasinal BBM tergantung luasan jangkauan
-          Maintenant dan resiko accident
-          Memiliki keterbatasan daya tampung buku

PERPUSTAKAAN RETAIL
Konsep ini mengadopsi sistem retail yang diterapkan oleh Bank Pemerintah terbesar di indonesia dimana bank tersebut melakukan layanan sampai pada tingkat kecamatan di seluruh wilayah Indonesia, atau konsep retail dari minimarket ternama, karena seluruh wilayah Indonesia hampir semua ada minimarket ini. Kalau dilihat konsepnya maka sudah jelas adalah mendekatkan diri ke konsumen. Konsep inipun bisa diadopsi untuk layanan perpustakaan, sudah terlihat perkembangan yang bagus, tumbuh suburnya perpustakaan desa atau yang lebih dikenal sebagai TBM (Taman Bacaan Masyarakat).

Masih menjadi polemik keberadaan TBM dan Perpustakaan desa, ada yang membahas masalah pengertian berdasarkan teori yang diyakini, ada yang mempermasalahkan struktur hirarki yang ada, siapa dan bagaimana penanggung jawabnya, ada juga yang mempermasalahkan standarisasinya, ada juga yang mempermasalahkan sumber dana dan kepemilikan. Pada intinya bahwa persamaan persamaan yang ada harus diyakini kebenarannya dan membiarkan perbedaan itu menjadi pengkayaan potensi mencerdaskan masyarakat. Namun demikian ketika pertentangan ini semakin tajam maka akan terjadi pengkotakan yang menimbulkan kebingungan sebagian masyarakat.

Yang jelas dari pandangan praktisi bahwa TBM dan Perpustakaan sama sama bergerak sebagai Perpustakaan Retail jika konsep layanannya lebih dekat dengan pemusataka. Simple saja karena perpustakaan dibangun dengan konsep dasar kesederhanaan, apa adanya dengan dana swadaya atau apabila mendapatkan bantuan maka itu cukup untuk menghidupi sesaat (operational cost shot time).

Perpustakaan ritail ini jika semakin banyak, dan tumbuh dari masyarakat maka akan mengakar semakin kuat sehingga jangkauan layanan yang mendekati masyarakat itu memberikan kemudahan dan berdampak pada percepatan kecerdasan masyarakat itu sendiri. Konotasi perpustakaan retail bisa diartikan murah meriah dengan segala kesederhanaannya.

INTEGRASI LAYANAN PERPUSTAKAAN
Apapun nama dan bentuk perpustakaan jika semua terintegrasi maka akan menjadi kekuatan besar, integrasi yang dimaksudkan dalam kamus bahasa Indonesia adalah pembauran dalam satu kesatuan yang utuh  disini diartikan sebagai :
1.        Jejaring untuk koleksi yang nantikan akan menjadi union katalog dalam satu kabupaten / propinsi bahkan Nasional
2.        Jejaring untuk swadaya petugas dan sumber dana
3.        Jejaring untuk berbagai aktivitas yang terkait masalah kampanye baca, advocay perpustakaan dan lainnya.
4.        Jejaring untuk kemudahan layanan bagi masyarakat
5.        Jejaring untuk support Informasi tehnologi

Kalau kata pepatah satu lidi tak berarti, seikat akan menjadi kuat, demikian makna integrasi dalam membangun perpustakaan berbasis komunitas (baca : pemustaka) dimata praktisi hal yang paling membahagiakan adalah bisa memberikan layanan terbaik dan berkelanjutan kepada masyarakat dengan barbagai buku, informasi, pengetahuan dan peningkatan kapasitas masyarakat mencapai kecerdasan yang berimbang sehingga perpustakaan bisa menjadi agent of change bagi masyarakat.

Kalau bicara informasi dan tehnologi dalam komponen perpustakaan maka menjadi hal yang memang wajib dan harus dipaksakan dalam memberikan fasilitas dan layanan kepada masyarakat karena dunia sekarang sudah tak terpisahkan oleh komponen IT, masyarakat tanpa sadar sudah menfungsikan IT dalam kehidupan sehari hari walaupun dengan kesederhanaan alat dan fasilitas yang tersedia. Masyarakat biasanya tidak menyadari kebutuhannya, masyarakat baru menyadari ketika ada model yang bisa di contoh dan telah sukses memnafaatkannya.

Demikian sekilas tuangan pengetahuan, pemahaman dan ideologi yang diyakini oleh seorang pustakawan praktisi.  Untuk Seminar FPPTI Jateng 14-15 Desember 2012 di Tegal.


Refrensi
  1. Kamus bahasa Indonesia Pusat Bahasa Dep Pendidikan Nasional Balai Pustaka 2005
  2. Catatan dan pengalaman pribadi
  3. UU no 43 tahun 2007 Perpustakaan