PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Kamis, 28 November 2013

INTEGRITAS PUSTAKAWAN DALAM MENGEMBANGKAN LAYANAN PERPUSTAKAAN



introduction
Layanan perpustakaan secara awam di artikan adanya petugas perpustakaan yang siap melayani pemustaka dalam meminjam buku. Buku apapun yang di cari oleh pemustaka maka seorang Pustakawan dipastikan tahu persis buku tersebut ada atau tidak, dimiliki atau tidak oleh perpustakaan. Padahal seiring dengan kemajuan tehnologi dan globalisasi informasi maka pustakawan dituntut tidak hanya paham dengan koleksi tidak hanya paham dengan LAYANAN PRIMA, tapi harus memahai kebutuhan pemustaka termasuk pada perilaku pemustaka.

Sebuah Perpustakaan sebelum melayani maka ada banyak proses yang harus dilalui, mulai dari kebijakan, penyiapan anggaran, proses pengadaan koleksi, proses katalogisasi (entry data) perawatan, networking, pertanggung jawaban, kehumasan, publikasi, sosialisasi dan administrasi. Segala gerakan ini dilakukan oleh orang orang  yang tepat dan bisa bekerja secara tim, saling mendukung sehingga menjadi satu kesatuan kelembagaan yang disebut perpustakaan.  Bagian tehnis, dan strategis , di dalam sistem manajemen saling mendukung, mutasi staff bertujuan untuk  bisa mendapatkan pengalaman dan keahlian yang berjenjang dalam mendapatkan karier yang baik di masa masa yang akan datang. Sehingga pustakawan ada pilihan di dalam meniti karier di jalur struktural atau fungsional. Penilaian tentunya tidak saja dari sisi keilmuan tapi juga berbagai faktor pendukung diantaranya kredibilitas,  loyalitas, dedikasi dan integritas.  Begitu juga yang terjadi di perusahaan swasta.

Integritas adalah roh dari seorang pustakawan karena secara total pustakawan akan mempersembahkan  jiwa, raga dan kehidupannya untuk mengembangkan perpustakaan. Segala upaya akan dilakukan, rela berkorban untuk mewujudkan kecintaan tersebut dalam sebuah wadah dimana pustakawan tersebut berada dalam satu lembaga. Baik ditingkat, birokrasi, akademisi, praktisi maupun sosialita kehidupan sehari hari. 
Pengertian INTEGRITAS
Menurut kamus bahasa Indonesia integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yg menunjukkan kesatuan yangg utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yg memancarkan kewibawaan dan kejujuran. Integritas (Integrity) bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kebijakan organisasi serta kode etik profesi, walaupun dalam keadaan yang sulit untuk melakukan ini. Dengan kata lain, “satunya kata dengan perbuatan”. Mengkomunikasikan maksud, ide dan perasaan secara terbuka, jujur dan langsung sekalipun dalam negosiasi yang sulit dengan pihak lain. integritas berhubungan dengan dedikasi atau pengerahan segala daya dan upaya untuk mencapai satu tujuan. Integritas ini yang menjaga seseorang supaya tidak keluar dari jalurnya dalam mencapai sesuatu.

Seorang pemimpin yang berintegritas, tidak akan mudah korupsi atau memperkaya diri dengan menyalahgunakan wewenang. Seorang pengusaha yang berintegritas tidak akan menghalalkan segala cara supaya usahanya lancar dan mendapatkan keuntungan tinggi. Orang yang memiliki integritas tetap terjaga dari hal-hal yang mendistraksi dirinya dari tujuan mulia. Singkatnya adalah orang yang memiliki integritas lebih menyukai proses yang benar untuk menghasilkan sesuatu yang benar. Hasil tidak menjustifikasi proses dan proses tidak menjustifikasi hasil, keduanya harus berjalan dengan baik dan benar. Orang yang berintegritas itu anti jalan pintas, apalagi mendapakan sesuatu dengan cara meretas.
Pendapat lain mengenai Integritas
·         Dalam kesempatan ngobrol via Chatting bersama pak Ida Fajar (Mahasiswa S3 Perpustakaan Texas sekaligus dosen dan kepala Perpustakaan UGM) integrity artinya the state of being whole and undivided, seluruh jiwa raga dicurahkan untuk kepustakawanan, diartikan sebagai memegang teguh prinsip dan memiliki jiwa kepustakawanan. atau kualitas pribadi yang mendukung peningkatan kepustakawanan
·         Integritas menurut Mario Teguh : kesetiaan kepada yang benar
·         Pendapat Pribadi Integritas adalah : Fokus , total dan konsisten dengan penuh kejujuran, menjalankan profesi kepustakawan untuk melakukan banyak perubahan yang bermanfaat buat bangsa dan negara (trini)

Ciri Integritas
1.       Kualitas pribadi untuk berlaku jujur dan mengukuhi prinsip-prinsip moral.
2.       Kepatuhan yang kukuh terhadap nilai-nilai moral dan artistik
3.       Kondisi yang tidak cacat
4.       Keseluruhan atau totalitas
Rounded Rectangle: Integritas Rounded Rectangle: PERPUSTAKAAN
Kebutuhan Pemustaka
 
Perilaku Pemustaka
 
Layanan Prima
 
                      sukses
INTEGRITAS PUSTAKAWAN
Pustakawan sebagai pelayan (pejuang literasi) dan Perpustakaan sebagai penyedia layanan maka harmonisasi hubungan dan saling melengkapi menjadi kunci pertama untuk memasuki gerbang Kepustakawanan yang siap mencerdasakan masyarakat. Harmonisasi adalah keselarasan antara pustakawan sebagai profesi yang bekerja dengan perpustakaan sebagai tempat atau wadah bagi pustakawan mengaktualisasi diri dan profesinya. Tidak ada kata juragan dan buruh di perpustakaan, yang ada adalah dukungan pimpinan dalam bentuk kebijakan atau support yang lain di setiap pustakawan menjalankan profesinya dengan penuh tanggung jawab. Atau sebaliknya pustakawan bisa menjalankan apa yang menjadi kebijakan pimpinan dengan penuh suka cita. Jika hubungan keselarasan dan hormonisasi berjalan baik maka perpustakaan bisa berkemang dengan baik.

Setelah memasuki gerbang pertama kepustakawanan maka diperlukan kunci berikutnya untuk membuka ruang kepustakawanan yang berisi koleksi. Penguasaan koleksi jenis koleksi mulai klas 000 – 900 , judul buku, terjaminnya ruang kepustakawan yang berisi koleksi bisa mudah diakses oleh masyarakat. Di ruang ini perlu adalanya Layanan Prima, keramahan, penguasan informasi, membuat pemustaka nyaman, senang dan betah berada dalam ruang perpustakaan. Apakah semua pemustaka yang datang memang butuh buku? butuh bacaan, butuh pengetahuan ?. Jika jawabannya ya, maka service satisfiction harus diterapkan, jika jawabannya tidak maka butuh kunci ke tiga yaitu, memahami perilaku pemustaka atau masyarakat disekitar Perpustakaan. Jika masyarakat diharapkan bisa cerdas, dan masih enggan datang ke Perpustakaan maka diperlukan pengetahuan, kreativitas dan ketrampilan untuk bisa membawa atau mendekatkan perpustakaan kepada masyarakat. Maka kunci ketiga disebut sebagai kreativitas dan ketrampilan mencerdaskan masyarakat. Berbagai aktivitas yang menarik tentunya perlu dilakukan oleh pustakawan.

Bentuk kreativitas harus dimiliki oleh pustakawan supaya ada banyak kegiatan di perpustakaan, tidak ada alasan tidak ada dana, asal kreatif maka semua bisa berjalan dengan baik. Kreatif memanfaatkan jaringan (pertemanan), kratif melakukan kegiatan, yang bisa menarik masyarakat datang, tanpa harus mengeluarkan biaya besar, kreatif melakukan sosialisasi dan publikasi di berbagai jejaring sosial dan media lainnya. Kreatif memanfaatkan peluang, kreatif dengan berbagai cara sehingga perpustakaan terus hidup, diminati dan dikunjungi oleh masyarakat banyak. Tanpa kreatifitas apa jadinya perpustakaan, sepi, mati dan tak berpenghuni.

Kunci selanjutnya adalah apakah benar bahwa pustakawan harus serba tahu dan siap kapanpun melakukan layanan ? jika bicara masalah integrasi maka pustakawan siap ditempatkan dimana saja, kapan saja dan bekerja untuk masyarakat, tidak terkotak dalam ruang yang pada umumnya orang menyebut perpustakaan, tidak terkotak pada institusi pemerintah, tidak terkotak pada institusi perpustakaan. Berani bergaul diluar koridor perpustakaan, di dunia yang lebih luas lagi dengan lintas sektoral. Sosial media dimanfaatkan tidak saja serumpun dan sekomunitas tapi mengikuti berbagai komunitas untuk mengenalkan perpustakaan pada dunia yang lebih luas lagi. Dan semakin banyak networking semakin banyak peluang, dan semakin banyak tahu. Jika sudah demikian maka akan ada kemudahan kemudahan yang tak terduga jika kita memiliki banyak teman.

Untuk bisa menjalankan kunci pertama, kedua, ketiga, ke empat bahkan mencapai sukses maka INTEGRITAS adalah jiwa yang harus dimiliki dan melekat sampai kapanpun, tak lekang oleh usia dan waktu. Berada dimanapun baik sebagai birokrat, akademisi, praktisi dan sosialita maka integritas harus tetap ada. Sekali integritas luntur maka tidak akan berarti apa apa. Seorang pustakawan yang memiliki integritas maka sampai kapanpun tetap berjuang di jalur yang konsisten yaitu di perpustakaan..

Integritas Pustakawan sesuai bidang yang ditekuni
      Birokrasi : duduk di pemerintahan, menentukan kebijakan, baik jabatan struktur atau fungsional maupun pekerja tehnis di pemerintahan
      Akademisi : dosen, peneliti, training, diklat, terus mengembangkan keilmuwan bidang perpustakaan
      Praktisi : aktif dipergerakan, membuat perpustakaan komunitas, layanan mobil perpustakaan, berbagai kegiatan literasi, kampanye, menulis, menerbitkan buku.
      Sosialita : membentuk komunitas, aktif dipergerakan, kampanye, dan melakukan filantrophy untuk pengembangan perpustakaan.

Contoh Pustakawan yang memiliki integritas
1.       Prof Sulistyo Basuku – Integritas kepustakawanan di jalur akademis
2.       Blasius Sudarsono – Integritas kepustakawanan di jalur Birokrat (Pustakawan utama)
3.       Oie Pustakawan Medayu Agung – Integritas kepustakawan melalui jalur rasa nasionalis
4.       Adwityani Subagia – Integritas Kepustakawanan di jalur organisasi Klub Perpustakaan indonesia
5.       Eko Cahyono Perpustakaan Anam Bangsa – Integritas kepustakawanan dari masyarakat
6.       Gol A Gong – Integritas kepustakawanan dari jalur penulis buku
7.       Yesy Gusman – integritas kepustakawanan di jalur sosialitas

MEMAHAMI MAKNA INTEGRITAS
Integritas berkenaan dengan jati diri. Integritas berbicara mengenai kesejatian bukan kemunafikan, kemurnian bukan pura-pura. Integritas menyatakan apa adanya diri kita secara tulus. Suatu keberanian dan keteguhan untuk menyatakan diri dengan jujur tanpa manipulasi demi keuntungan atau motivasi tertentu. Orang yang berintegritas adalah orang yang memiliki keutuhan dan keselarasan dalam pikiran, perasaan, sikap perbuatan dan perkataan. Semua aspek dalam dirinya internal dan eksternal tetap sinkron dan harmonis. Tidak ada rekayasa atau kepalsuan.

Beberapa contoh diatas yaitu tokoh kepustakawanan yang memiliki integritas, kita lihat bahwa seluruh hidupnya, seluruh jiwa dan raganya untuk memperjuangkan kepustakawanan. Tentu mengalami pasang surut, perjuangan yang bukan tanpa rintangan dan hambatan, bukan tanpa pengorbanan, baik pengorbanan materi, waktu bahkan kepentingan keluarga akan menjadi nomor sekian setelah tujuan perjuangannya tercapai. Tahapan waktu yang dilalui seringkali membuat seorang Pustakawan yang memiliki integritas tinggi mendapatkan cacian, kritikan bahkan persoalan demi persoalan, namun dengan keteguhan hati, dan semangat juang tinggi maka akan tercapai apa yang diperjuangkannya.

Jadi seorang yang memiliki integritas adalah orang yang memiliki daya juang yang bagus, tidak mudah menyerah bahkan hampir sama dengan seorang entrepreneur harus memiliki empat nilai dasar yaitu disiplin, integritas, passion, dan respect. Keempat landasan nilai tersebut akan melekat dan terus ada dalam setiap langkah perjuangannya. Dan keempat nilai dasar tersebut juga merupakan kunci menuju kesuksesan, dari contoh diatas semua berhasil dalam dunia kepustakawanan, setelah melewati masa perjuangan yang butuh waktu lama. Melalui berbagai proses dari waktu ke waktu maka akan semakin kuat dan meyakinkan bahwa jalan yang telah diperjuangkan adalah jalan kebenaran. Jika kepustakawanan Indonesia memiliki lebih banyak lagi pustakawan yang memiliki integritas tinggi maka perpustakaan sebagai tempat pembelajaran sepanjang hayat akan segera terealisasi dengan baik.

Organisasi kepustakawan akan membawa manfaat buat anggotanya, perpustakaan akan menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat, perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan buat belajar, tempat yang akan membawa perubahan secara sosial, ekonomi dan budaya. Tempat yang akan menjadi landmark bagi sebuah kota, provinsi dan negara, akan menjadi simbol peradaban bangsa. Jika pustakawan mulai dari tingkat pusat sampai daerah memiliki intergritas yang bagus, maka INDONESIA akan menjadi negara yang luar biasa, tidak percaya dan ingin bukti ? mari kita menjadi Pustakawan yang memiliki integritas.

Mengingat pasal 1 ayat 6 dalam UU 43 tahun 2007 bahwa Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran  sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status
sosial-ekonomi
ayat 7 Perpustakaan khusus adalah perpustakaan yang diperuntukkan secara terbatas bagi pemustaka di lingkungan lembaga pemerintah, lembaga masyarakat, lembaga pendidikan keagamaan, rumah ibadah, atau organisasi lain.
Ayat 8.
Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.
Ayat 9
Pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan.
10. bahan perpustakaan – 11 Masyarakat sampai - 12 Organisasi profesi pustakawan

Dengan adanya UU 43 tahun 2007 maka pustakawan perlu memahami pasal demi pasal dan memaknainya sebagai suatu bentuk kewajiban untuk membantu pemerintah merealisasikan apa yang seharusnya menjadi hak masyarakat. Contoh di salah satu pasal menyebutkan bahwa setiap masyarakat mendapat hak yang sama dalam memperoleh layanan perpustakaan, apakah terpikir bagaimana kelompok disable memperolah hak nya mengakses perpustakaan ?, jika anda seorang Pustakawan yang memiliki integritas maka sudah langsung tergerak untuk melakukan apa yang belum dilakukan oleh pemerintah, jika anda berada dalam lingkungan pemerintah anda wajib mengingatkan apa yang belum dilakukan pemerintah yang itu merupakah hak masyarakat.

Tokoh Yang Mendapatkan Anugerah Integritas 2012 versi KUPAS (komunitas Pengusaha Anti Suap), persyaratan : jujur, bertanggung jawab, visioner, disiplin, mampu bekerja sama, adil, dan peduli,”
1.       Ary Ginanjar Agustian,
2.       Joko Widodo,
3.       Komaruddin Hidayat,
4.       Mahfud MD,
5.       Abraham Samad,
6.       Dahlan Iskan
7.       Anies Baswedan.

PERTANYAAN UTAMA
1.           Apakah Layanan Prima masih menjadi kunci kesuksesan bagi sebuah Perpustakaan ?
2.           Apakah jumlah koleksi atau koleksi yang lengkap menjadi kunci berikutnya untuk kesuksesan sebuah perpustakaan ?
3.           Apakah kesuksesan Perpustakaan itu di lihat dari banyaknya jumlah pengunjung atau peminjam buku ?,
4.           Apakah jika masyarakat sudah terbentuk reading habit (kebiasaan membaca) itu pertanda majunya sebuah peradaban ? dan Apakah itu peran utama sebuah Perpustakaan ?
5.           Apakah Jika negara masyarakatnya tidak suka membaca akan menjadi hancur ?
6.           Apakah Pustakawan yang akan dipersalahkan ?
7.           Apakah sebagai Pustakawan seharusnya bisa mencerdasakan masyarakat ?
8.           Apakah seorang Pustakawan seharusnya bisa mengubah peradaban masyarakat ?
9.           Apakah Pustakawan itu profesi yang paling dicari ?
10.        Apakah seorang pustakawan bangga dengan profesinya?
11.        Apakah Seorang pustakawan adalah sebuah cita cita dan panggilan Jiwa ?
12.        Apakah seorang pustakawan perlu memiliki INTEGRITAS ?
13.        Bentuk integritas pustakawan seperti apa ?
14.        Apakah pertanyaan diatas harus di jawab oleh calon Pustakawan sebelum bekerja di Perpustakaan ?.
15.        Apa yang sudah anda lakukan sebagai seorang pustakawan ?
Cerita Mengenai Integritas (fakta sejarah)
Jakarta 1950
“Aduh, Ayah! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu bahwa akan diadakan pemotongan uang? Yaaa, uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi?”
Sepotong kalimat bernada sedikit penyesalan itu terlontar dari mulut Rachmi Hatta, istri Wakil Presiden saat itu, Mohammad Hatta. Ceritanya, Ibu Rachmi yang ingin membeli mesin jahit telah menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta. Namun, ketika tabungannya telah cukup untuk membeli mesin jahit idamannya, tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1. Walhasil, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rachmi menurun sehingga tidak cukup untuk membeli mesin jahit. Padahal yang mengumumkan sanering itu adalah Bung Hatta, suaminya sendiri.
Lalu, apa yang disampaikan Bung Hatta kepada istrinya yang mempunyai panggilan akrab Yuke itu?
“Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu, kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberi tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!”
“Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sungguh pun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya!”
Itulah salah satu kisah yang menunjukkan integritas seorang Bung Hatta. Beliau pantang menyalahgunakan posisi dan wewenangnya sebagai pejabat negara untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Ia memegang teguh amanat yang diberikan rakyat dengan penuh tanggung jawab.
Andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah baginya untuk mendapatkan mesin jahit untuk istri tercintanya. Bung Hatta dapat meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya. Namun, Bung Hatta tidak melakukannya. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri. Bung Hatta sudah mencerminkan bahwa dia tidak hanya jujur, namun juga uncorruptable (tidak terkorupsikan). Ia tidak mau menodai kejujuran hatinya dengan melakukan tindak korupsi. Bung Hatta adalah tipe pemimpin yang tidak berdiri di atas menara gading kekuasaannya. Ia hadir di tengah rakyat, juga merasakan apa yang rakyat rasakan, menanggung derita yang sama sebagaimana yang diderita rakyat.

Referensi :




Senin, 04 November 2013

MENJADIKAN TBM SEBAIK BAIK PERPUSTAKAAN



Sukses itu butuh perjuangan dan belajar berproses untuk mencapainya
Bincang Bincang TBM di KAMPOENG BATJA Jember, 4 Oktober 2013

Tidak ada yang salah jika menggunakan istilah Taman Bacaan Masyarakat, atau Tempat Belajar Masyarakat (TBM), atau bisa lebih keren lagi Community Learning Centre. Mudah dipahami maksudnya. Hanya saja yang suka kritis bertanya, apa beda TBM dan Perpustakaan kalau di jawab tidak ada bedanya, maka selesai sudah. Jika tetap kritis dengan pertanyaan kenapa menyebut diri TBM, tidak Perpustakaan, maka dijawab saja ya suka suka saja, karena ini kita sendiri yang membuat, memiliki dan memeliharanya, selesai sudah, tapi jika terus di desak, mengacu pada aturan mana, UU, Perpus atau sejenisnya, ya kita mengatur sendiri saja. Yang penting adalah kita telah berbuat dan membawa manfaat.

Itulah sebuah wacana yang sering kita dengarkan di masyarakat, bagi Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI=YEPI) maka boleh saja menggunakan istilah TBM/PERPUSTAKAAN/CLC/READING CORNER/SUDUT BACA yang jelas itu adalah sebuah ruang, gedung, bangunan dimana dilayankan buku buku dan masyarakat boleh datang, membaca, meminjam dan melakukan aktivitas. Baik bukunya banyak, sedang atau sedikit jumlahnya. Baik yang mandiri maupun yang dibantu Pemerintah dari manapun kelembagaannya apakah Perpusnas, ataukah DIKNAS. Itu sederhana pengertian Perpustakaan menurut masyarakat awam. Jika akademisi yang berbicara tentang Perpustakaan dan TBM maka akan dibedakan dari sisi jumlah Koleksi dan layanan. Bahkan teori pengertian Perpustakaan untuk masa sekarang sudah tidak relevan lagi, karena menyebut gedung dan koleksi menjadi bentuk fisik sebuah Perpustakaan tidak berlaku di masa sekarang dimana yang disebut Google adalah sudah menjadi acuan referensi sebagaian besar masyarakat. Tidak harus datang ke Perpustakaan/TBM, tidak harus membeli buku, bisa diakses dimana mana dalam hitungan detik dengan ribuan bahkan jutaan topik yang bisa mudah di dapatkan. Sekarang apa pengertian Perpustakaan atau TBM ?.

TBM / PERPUSTAKAAN ADALAH PILIHAN
Apakah yang dimaksud adalah pilihan buat masyarakat atau pilihan buat Pustakawan atau pilihan buat pendiri maupun aktivis yang loyal akan keberadaan TBM/perpustakaan itu sendiri. Kita bahas satu persatu dimulai dari pilihan buat pengguna atau istilah di dalam UU no 43 tahun 2007 disebut sebagai pemustaka. Yang kedua pilihan bagi pustakawan atau aktivis perpustakaan, yang ketiga adalah dari sisi Pendiri / pemilik.
-        Pilihan buat Pemustaka :
1.     Kurang familiar dengan internet menjadikan TBM/Perpustakaan menjadi sebuah kebutuhan akses informasi
2.     TBM/Pepustakaan yang bagus, menyenangkan, nyaman menjadi pilihan untuk selalu datang, berkunjung dan melakukan aktivitas literasi
3.     Alasan Geografis, dekat dengan tempat tinggal
4.     Karena ada tugas belajar / kebutuhan dasar akan informasi dan tidak ada pilihan lain
5.      Peningkatan kapasitas diri yang itu bisa di dapatkan di TBM/Perpustakaan
6.     Karena alasan lain, yang diluar ke 5 hal tersebut, misal, janjian dengan pihak lain, menjadi Landmark
-        Pilihan buat Pustakawan
1.     Passion atau disebut panggilan jiwa
2.     Karena tidak ada pilihan lain
-        Pilihan Pendiri atau aktivis
1.       Trend
2.       Passion
3.       Sodakoh/pilihan yang dianggap baik

MEMAHAMI  TBM
1.     Fisik : secara kasat mata terlihat dari lokasi yang strategis, gedung yang megah, ruang yang nyaman, asri, fasilites lengkap, dalam skope yang lebih kecil maka dikatakan ideal jika terlihat minimalis, modern, tenang, nyaman, uniq, asri, sejuk, tenang dengan ruang yang serasa dirumah. Yang jelas semua orang datang pasti senang, dan betah berada di dalamnya.
2.     Fungsi : pasal 1 UU no 43 2007, sebuah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.
3.       Tujuan : tergantung pada pemilik, pendiri, pengelola, masing masing berbeda , bisa dikelompok kan berdasarkan usia pemakai atau koleksi yang ada di dalamnya, atau karena UU atau Peraturan Pemerintah daerah jika itu kepemilikannya adalah Pemerintah, Jika milik pribadi, kelompok atau swasta (perusahaan) maka tujuan bergantung pada kepentingan atau visi misi hidup.
4.       Koleksi : jumlah tergantung kemampuan dan jumlah pemustaka yang menjadi target capaian. Klassifikasi buku tergantung juga kepada target capaian berdasarkan kebutuhan, setiap daerah, wilayah sangat dipengaruhi oleh pemustaka dan kebijakan. Perlu memiliki pemahaman khusus terkait pengadaan karena akan berdampak pada jumlah kunjungan dan peminjaman pengguna. Koleksi yang banyak dan sering berganti tentunya lebih diminati dibanding jumlah banyak tidak pernah bertambah atau jumlah sedikit dan tidak pernah berubah. Penekannya adalah seringnya muncul buku baru. Tapi jika perpustakaan khusus untuk penelitian maka buku koleksi tertentu menjadi favorite pengguna.
5.       Layanan : selain masalah waktu, layanan terkait dengan petugas, ruang, gerak, dan suasana.
6.       Kegiatan : gerakan peningkatan minat baca akan berorientasi pada “membaca” berupaya bagaimana masyarakat mau membaca, tapi jika penekannya apada perubahan masyarakat maka akan dilakukan gerakan bagaimana isi buku bisa menjadi aktualisasi diri. Tema tergantung masyarakat kecenderungannya lebih pada tema yang sesuai kebutuhan hidup. Dibutuhkan kreativitas dan inovasi dalam pengembangan dari waktu ke waktu mengikuti arus global informasi
7.       Dana : uang bukan segalanya untuk bisa menghidupi perpustakaan, yang dibutuhkan adalah dana yang cukup memadai dalam pengelolaan keberlangsungan perpustakaan. Dana sedikit dengan kegiatan luar biasa besar dan banyak bisa dilakukan jika semua komponen mendukung. Akses kerjasama mudah dan komitment komponen strategis bisa terlibat aktif setiap gerak pengembangan perpustakaan.
8.       Networking : strategi pemanfaatan dan strategi perluasan jaringan tidak saja pada stake holder tapi juga pada lintas sektoral di luar pagar kepustakawanan. Karena setiap akses jalur neworking akan diperoleh jalur jalur yang akan memudahkan strategi pencapaian keberhasilan sustainble.
9.       Regulasi : sebagai landasan hukum dalam pengelolaan dan keberlangsungan sebuag gerak tugas TBM/Perpustakaan di masyarakat. Jika regulasi dapat mendukung semua komponen yang bisa bergerak bersama maka 8 hal tersebut diatas tidak akan menjadi kendala.
10.    Sustainability : komponen 1-9 dengan mudah bisa di capai dan kendala bisa diselesaikan dengan baik

TBM/Perpustakaan yang tidak ada bedanya akan sama mengacu pada ketentuan UU no 43 tahun 2007, diantaranya Pasal 15 : Pembentukan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) paling sedikit memenuhi syarat:
a. memiliki koleksi perpustakaan;
b. memiliki tenaga perpustakaan;
c. memiliki sarana dan prasarana perpustakaan;
d. memiliki sumber pendanaan; dan
e. memberitahukan keberadaannya ke Perpustakaan Nasional.

Pasal 16
Penyelenggaraan perpustakaan berdasarkan kepemilikan terdiri atas:
a. perpustakaan pemerintah;
b. perpustakaan provinsi;
c. perpustakaan kabupaten/kota;
d. perpustakaan kecamatan;
e. perpustakaan desa;
f. perpustakaan masyarakat;
g. perpustakaan keluarga; dan
h. perpustakaan pribadi.

LANGKAH UNTUK MENJADI YANG TERBAIK TBM IDEAL
1.       Komitment dan fokus dalam menjalankan dan mengembangkan TBM
2.       Mengetahui ilmunya : klasifikasi, katalog, administrasi, manajemen
3.       Mengetahui tugas dan Fungsinya : layanan, kegiatan, kedekatan dengan pengguna
4.       Memiliki Tujuan yang jelas : mau dibawa arah dan capaian keberhasilan
5.       Bisa berlangsung terus menerus (sustainibility) : semua komponen mendukung

CARANYA :
Brainstorming untuk mencari jalan keluar dengan segala potensi yang dimiliki. Panduannya tetap pada 10 dasar utama tersebut di atas, langkah langkahnya menapaki jalan yang berliku, mendaki dan hutan belantara yang menjadi pilihan hidup untuk terus berjuang dijalur literasi berkontribusi pencerdasan masyarakat mencapai INDONESIA CERDAS.