PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Jumat, 30 November 2012



Perpustakaan Doeloe, sekarang
dan yang akan datang
dies natalies unair
1 desember 2012

Dilihat dari sudut pandang mana kita bisa katakan bahwa perpustakaan dulu berbeda dengan sekarang maupun yang akan datang. Persoalan waktu akan menentukan kondisi atau kondisi yang akan menentukan keberadaan suatu perpustakaan, akan kita telaah lebih lanjut dalm tulisan ini.

Menurut teori perpustakaan maka perpustakaan bisa dilihat dari 3 jenis pendekatan yaitu pendekatan infrastruktur (gedung dan fasilitas), pendekatan content (koleksi) dan pendekatan organisasi (institusi pengelola)

Kalau perpustakaan dilihat dari sisi waktu, yaitu perpustakaan dahulu, sekarang dan yang akan datang maka ada batas transformasi (perubahan) maka akan dilihat dari sisi fungsi dan manfaat perpustakaan tersebut.

Antara sisi pendekatan menurut teori, manfaat dan fungsi tentu saling terkait karena manfaat dan fungsi dari infrastruktur, content dan organisasi akan berbeda dari masa ke masa. Perbedaan dari masa ke masa itu sendiri akan dipengaruhi oleh berbagai hal yaitu kebutuhan masyarakat, kepentingan dan tuntutan jaman.

Kalau menyebut waktu dahulu tentu harus dibatasi juga mulai tahun berapa sampai berapa, waktu sekarang juga ditentukan batas berapa tahun, dan masa yang akan datang apakah kategori besuk, minggu depan, bulan depan, tahun depan atau tahun kapan. Sehingga dengan batasan itu kita akan menentukan berubahan apa saja yang terjadi.

Contoh konkrit dari transformasi yang terjadi ketika kita memandang perpustakaan dulu, sekarang dan yang akan datang adalah sbb : tehnologi informasi yang menyertai keberadaan perpustakaan dari sisi content buku atau koleksi non buku, tehnologi yang mempengaruhi infrastruktur, adanya regulasi yaitu keberadaan UU no 43 2007, Kemendiknas 25 tahun 2008,

Kalau dijabarkan secara lebih specific maka dengan rentang waktu 10 atau 20 tahun dapat dimulai dari tahun lahirnya perpustakaan nasional tahun 1980 maka bisa di berikan batasan bahwa :

Perpustakaan
Infrastruktur
Content
Organisasi
1.      Tempo dulu 1980 – 2000

Rak buku tinggi, tebal, kayu, coklat
Buku ilmiah, fiksi, non fiksi sesuatu yang serius

Pemerintah
2.      Masa sekarang 2000 – 2020
Full color, pencahayaan bagus, minimalis, modern

Buku, non buku, e-journal, e-book, virtual
Pemerintah, individu, swasta, kelompok

UU 43 2007
3.         Masa Yang akan datang 2020 - 2040
Di rumah
virtual
Bebas / siapapun

Apa yang disampaikan diatas dilandasi oleh sebuah teori dan pemahaman keilmuwan, tapi dari sisi praktisi maka perbedaan perpustakaan apabila dilihat dari berbedaan waktu maka dibedakan menjadi :
1.            Hardware : infrastruktur atau casing, bagaimana secara fisik perpustakaan bisa dilihat dengan fasilitas kemudahan yang menyertainya.
2.            Software : content à koleksi, kegiatan, layanan, networking
3.            Resources : sumber dana, sumber daya, dan sumber inspirasi, kreativitas, motivasi, inovasi.

Masalah waktu dibuat rentang sesuai apa yang menurut kita sesuai, misalnya sebelum tahun 2000, setelah tahun 2000 dan yang akan datang di masukkan tahun mulai 2025. Sehingga dari 3 komponen diatas akan terlihat perbedaannya. Mengenai transformasi yang terjadi maka akan  nampak jelas ketika terjadi perubahan perubahan di perpustakaan.
Faktor yang mempengaruhi transformasi :
1.      Kebutuhan masyarakat, à informasi, pengetahuan, hiburan, referensi, literature study, research,
2.      Kepentingan à dana, prestisius, jabatan, performance,
3.      Tuntutan jaman.--> ICT, kecepatan mendapatkan informasi, praktis, efisien,

Fungsi Perpustakaan
·         Dulu                                  : mencari informasi, ilmu, pengetahuan, reserch
·         Sekarang                           : edutainment, penuangan berbagai aktivitas dan kreativitas, search (mesin pencarian)
·         Yang akan datang                         : semua hal yang dibutuhkan di carinya diperpustakaan (digitalization)

Manfaat Perpustakaan berdasarkan waktu
1.      Tempat membaca
2.      Mendapatkan pemenuhan kebutuhan
3.      Tempat meeting point
4.      Tempat Rekreasi
5.      Learning Centre
6.      Menjadi agent of change


Referensi
1.   Transformasi Perpustakaan lembaga pemerintah seiring dengan perkembangan tehnologi informasi dan komunikasi (Blasius Sudarsono)
3.   http://jpa.aptik.or.id/artikel/TRANSFORMASI%20DUNIA%20PERPUSTAKAAN2.pdf



Rabu, 28 November 2012



STRATEGI PUSTAKAWAN DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI
UNTUK MENJAWAB TANTANGAN GLOBAL
UPT Perpustakaan Politehnik Negeri
Seminar, 27 November 2012

Kompetensi dimata seorang praktisi yang terpikir adalah bagaimana bisa berkarya untuk dinikmati dan bermanfaat buat banyak orang, seorang praktisi tidak pernah berfikir sertifikasi karena sudah jelas bahwa itu selembar kertas yang hanya sebagian orang yang bisa memperolah dan medapatkan pengakuan dengan segala bentuk kompensasinya.

Permasalahan kompetensi masih menjadi perdebatan, terkait dengan tunjangan, dan masih terus diperjuangkan dan itu menjadi problem bagi pustakawan itu sendiri, dan bagi praktisi maka hal itu tidak pernah dipedulikan, yang penting bagaimana terus berkarya.

Cuplikan pasal 31 UU 43 tahun 2007 dan pasal 14 UU 14 tahun 2005 Guru dan Dosen
1.      penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejateraan sosial;
2.      pembinaan karier sesuai dengan tuntutan pengembangan kualitas; dan
3.      kesempatan untuk menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas perpustakaan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan tugas.

Pasal 14 UU 14 2005
1.    memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup minimum dan jaminan kesejahteraan sosial;
2.    mendapatkan promosi dan penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja;
3.    memperoleh perlindungan dalam melaksanakan tugas dan hak atas kekayaan intelektual;
4.    memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi;
5.    memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk menunjang kelancaran tugas keprofesionalan;
6.    memiliki kebebasan dalam memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan, dan/atau sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru, dan peraturan perundangundangan;
7.    memperoleh rasa aman dan jaminan keselamatan dalam melaksanakan tugas;
8.    memiliki kebebasan untuk berserikat dalam organisasi profesi;
9.    memiliki kesempatan untuk berperan dalam penentuan kebijakan pendidikan;
10.                        memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi;
11.                        memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Keduanya membahas masalah tunjangan, kesempatan, menunjang kelancaran profesi, organisasi.

Dibandingkan dengan seniman dan budayawan maka pengakuan dari masyarakat juga diakui masyarakat karena karyanya. Masyarakat tahu profesi guru karena berada di dekat masyarakat, tapi tidak banyak yang tahu apa itu pustakawan, kalau dekat dengan masyarakat, maka masyarakat tahunya perpustakaan dan petugasnya, bukan profesinya. Sehingga dengan alasan itulah seorang praktisi yang berkecimpung langsung dengan masyarakat menganggap bahwa tidak penting sebuah standarisasi kompetensi.

Seorang entrepreneurship, pengakuan atas karyanya (kesuksesan)  itu karena sebuah proses yang begitu gigih dilalui kemudian orang lain melihat keberhasilan dari apa yang dimiliki. Dalam diri seorang entrepreneursip maka yang ada adalah sebuah perjuangan dalam dunia kompetisi, berpacu melawan kondisi dunia dengan segala rintangan dan tantangannya, ketika berhasil menaklukkan kompetitor atau membuat sesuatu dan di situlah sisi keberhasilan yang dirasakan.

Pustakawan jika memahami tantangan dan memiliki jiwa entreprenuer maka dengan segala semangatnya (passion) berjuang menaklukkan segala tantangan yang ada. Tantangan pustakawan tidak pernah dirasakan apabila pustakawan berada di zona nyaman. Apa itu zona nyaman ?

Zona nyaman Pustakawan :
1.      Mendapatkan gaji tetap, mendapatkan tunjangn dan masa depan yang jelas (pensiun)
2.      Mengerjakan rutinitas, dan senang mengerjakannya
3.      Tidak ada pressure di lingkungannya, dirasakan enjoy

Zona yang tidak nyaman (serba tidak jelas) :
1.      Gaji, kondisi, kerjaan, situasi, status......
2.      Pekerjaan yang memang bukan hal yang disukai (bosan, emosi, menggerutu)
3.      Orang “bermasalah” menjadi tidak bersemangat, membuat masalah baru

Pilihannya adalah menjadi yang biasa saja atau yang luar biasa, Kenapa ? Profesi Pustakawan yang belum popular menjadi tantangan tersendiri bagi semua Pustakawan, standarisasi kepustakawan, sertifikasi pustakawan, dan kredibilitas pustakawan masih harus banyak dibenahin.
Yang dilakukan Pustakawan
Pustakawan Entrepreneurship
Pustakawan non Entrepreunership
ñ  Tidak betah jika berada dalam suatu zona yang nyaman
ñ  Selalu kreatif dan inovatif menciptakan sesuatu yang berbeda
ñ  Selalu tidak bisa tahan melihat yang monoton
ñ  Selalu ingin berbuat banyak hal
ñ  Memiliki jiwa petualang
ñ  Tenang, damai, monoton, biasa saja
ñ  Pengetahuan statis, mengerjakan rutinitas
ñ  Pada posisi staff, bukan pengambil kebijakan
ñ  Mensyukuri hidup dengan cara menerima apa adanya apa yang sekarang di dapatkan (upaya tdk pernah dilakukan)

Sikap Dasar Pustakawan
  1. Percaya diri --> confident, bangga atas profesinya
  2. Bekerja dengan hati, --> consisten, menekuni dunia secara fokus dan total
  3. Peduli dengan apa yang terjadi, --> competen, selalu meningkatkan kapasitas dirinya sesuai tuntutan jaman.

Permasalahan Pustakawan : Tehnologi, informasi dan Komunikasi, ada yang bersikap masih setengah setengah karena lahir di era masa lalu tapi ada juga yang agresif mendalami tehnologi informasi karena memang demikianlah tuntutannya, sehingga pustakawan ini masih berada diantara persimpangan menyambut tantangan dunia global.

Kompetensi adalah seseorang yang menguasai pekerjaannya, memiliki motivasi, mempunyai kemampuan, memiliki keterampilan serta secara konsisten menjalankan tanggung jawab dengan standar yang ditetapkan. (Aspey, dikutip nanan khasanah:2008).
Ciri-ciri kompetensi ada 2 jenis yaitu:
1.      Kompetensi profesional yaitu yang terkait dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen dan penelitian, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi.
2.      Kompetensi Individu, yang menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yangg dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebihnya, serta dapat bertahan terhadap perubahan & perkembangan dalam dunia kerjanya.
3.      Kompetensi Jabatan atas Profesinya : regulasi yang harus diikuti untuk mendapatkan pengakuan dengan berbagai persyaratan yang harus dipenuhi sehingga jabatan yang melekat dapat menjadikannya melakukan perubahan sehingga nilai profesi teraktualisasi dengan baik.
4.      Kompetensi Masyarakat : bersama masyarakat melakukan persiapan, pelayanan, pengembangan perpustakaan masyarakat dengan berbagai pemanfaatan peluang yang ada untuk perubahan.

 Tantangan (Global) Pustakawan
1.      Dari dalam diri pustakawan sendiri, apakah karena ingin di zona nyaman atau karena tidak memiliki sikap dasar sebagai Pustakawan (tidak confident, tidak consiten dan bermasalah)
2.      Dari Kondisi dan perubahan perilaku masyarakat terkait dunia tehnologi, informasi dan komunikasi yang semakin cepat berkembang sehingga kecepatannya harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas diri pustakawan
3.      Dari linkungan pendidikan, masyarakat dan pemerintah yang membentuk diri pustakawan lebih bersifat pesimis atau agresif, tergantung bagaimana dalam diri pustakawan memiliki sikap perjuangn.

Dibutuhkan nyali dan keberanian tersendiri apabila pustakawan akan mendapatkan kebebasan meng-ekpresikan sikap, perilaku dalam mendedikasikan profesinya yang sebenarnya. Adapaun cara yang bisa ditempuh adalah :
1.      Berada dalam dunia akademisi : menjadi dosen yang mumpuni, mencetak lulusan yang bener benar memahami profesinya dengan memberikan kebebasan alumni memilih pilihan dunia kerjanya yang maha luas.
2.      Berada dalam gedung Perpustakaan, baik milik pemerintah maupun non pemerintah, ber inovasi, kreatif, cerdas melihat peluang dan tantangan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat untuk kebutuhan informasi, tehnologi,  komunikasi dan pengetahuan.
3.      Berada ditengah masyarakat melakukan berbagai kegiatan yang fokus pada pengembangan perpustaaan dalam arti kemanfaatan dan fungsi sebuah perpustakaan, jalur non formal ini lebih fokus pada sosial activity dengan pemanfaatan sumber daya dan dana yang digali secara mandiri.
4.      Berada di luar jalur yang secara langsung ada tidak langsung mendukung keberadaan perpustakaan dan pengembangannya. Berbagai bentuk fasilitas, skill, sofware hard ware pendukung terus difokuskan pada dukungan kemajuan perpustakaan.

Peluang Pustakawan
1.      Berada dalam dunia akademisi : semakin diminatinya jurusan perpustakaan terkait dengan UU no 43 tahun 2007, Kemendiknas no 25 tahun 2008.
2.      Berada dalam gedung Perpustakaan, baik milik pemerintah maupun non pemerintah, adanya otonomi daerah, pemekaran kabupaten dan provinsi.
3.      Berada ditengah masyarakat melakukan berbagai kegiatan terkait UU no 40 tahun 2007 dan ISO 26.000
4.      Berada di luar jalur yang secara langsung ada tidak langsung memback up perkembangan perpustakaan yang semakin menjamur.

AKADEMISI DAN PRAKTISI
Pustakawan yang menekuni dunia akademi, akan terus mengembangkan keilmuwan dan teori yang ada, kemudian berupaya secara terus menerus transfer knowladge kepada mahasiswa dan kelompok terkait sehingga kelompok ini memhami betul keilmuwan perpustakaan. Akademisi juga memiliki tanggung jawab sosial atas kegiatan masyarakat yang terkait dunia perpustakaan.

Pustakan non akademisi yang berada dalam gedung maupun diluar gedung akan berupaya mengimplementasi keilmuwan kepustakawanan baik yang diperolah dari jalur formal maupun non formal sebagai upaya aktualisasi keilmuwan dan keprofesionalan atas nama “Perpustakaan” yang sebenarnya

Aktivis adalah kelompok yang mendedikasikan hidupnya untuk aktif pencerdasan masyarakat yang memposisikan diri berada diantara kedua kelompok diatas, tanpa mendapatkan pendidikan khusus. Karena passion, loyalitas dan kepedulian sosial terhadap kondisi masyarakat itulah yang membuat kelompok aktivias ini terus mengembangkan perpustakaan dalam bentuk lain.

Akademi dan praktisi bisa bekerjasama dengan baik tanpa ada konflik kepentingan maupun gap intelektual karena jalur jalan yang dilalui berbeda namun tujuan nya sama. Mengutip tulisan Blasius Sudarsono maka jalan Pustakawan itu mendaki dan berliku, yang akan dituju adalah puncak kesuksesan. Tidak semua Pustakawan mampu mendaki, tidak semua Pustakawan mampu menempuh jalan berliku, tidak semua mampu berjuang mencapai kesuksesan. Ada yang bukan Pustakawan (dalam arti pengakuan) tapi mampu mendaki dan mau menapaki jalan berliku untuk bersama sama Pustakawan mencapai kesuksesan. Inila kondisi riil yang ada dalam masyarakat kepustakawanan Indonesia. Ketika penulis berkiblat pada apa yang disampaikan Blasius Sudarsono maka itulah sebuah ideologi yang dipahami. Ada ideologi lain yang mempengaruhi yaitu ideologi teori yang begitu kuat ditanamkan oleh seorang Putu Laksman Pendit, sekalipun penulis berseberangan jalan namun masih mampu menerima sinyal ideologi yang terus disuarakan oleh seorang Putu. Penulis mengagumi Putu karena keilmuwan nya yang kuat dan terus dikembangkan melalui beberapa tulisan dan kritik tajamnya akan situasi Kepustakawanan Indonesia.

Praktisi mampu memanfaatkan networkingnya untuk mendapatkan peluang mengembangkan perpustakaan di manapun diwilayah negeri ini, apapun bentuk perpustakaan tersebut  tujuannya adalah sama yaitu mencerdaskan masyarakat. Perpustakaan sebagai media pencerdasan masyarakat akan menjadi egen perubahan dari masyarakat itu sendiri. Pembekalan seorang praktisi dalam menempuh jalan berliku tidak saja keilmuwan kepustakawan tapi juga jiwa entrepreneurship. Sisi kelebihan inilah yang secara alamiah ternyata lebih mendapatkan pengakuan dari masyarakat yang sudah menerima manfaat atas media perpustakaan yang tersedia di lingkungannya.

Secara tidak sadar ada kompetisi antara “Pustakawan” dan “Pustakawan” ada banyak polimik yang sedang hangat dibicarakan di jejaring sosial, ada banyak pendapat dan persepsi atas masing masing diri “Pustakawan”. Ada semacam “perang dingin” atas pengakuan apa yang sudah dilakukan, kiprah dan pemantapan profesinya. Ini yang sebenarnya bukti keberhasilan dunia Perpustakaan di Indonesia, dari sisi kompetisi.

Sadar atau tidak disadari peran Perpustakaan Nasional dalam segala aspek dirasakan kurang maksimal oleh sebagaian kelompok, ketika itu diperankan oleh pihak lain (baca : Kemendiknas) maka masih saja dipersoalkan kenapa tidak dalam satu pintu saja untuk pengembangan perpustakaan di Indonesia, kenapa harus ada istilah lain selain perpustakaan. Disini sangat menarik karena kritis dan kecerdasan masyarakat mulai berkembang. Ada sebagian masyarakat yang terus jalan dengan ideologinya apakah berkiblat ke Perpusnas atau berkiblat ke Kemindiknas, atau berkiblat ke Teori, maka semua itu syah syah saja tanpa harus saling mengganggu jalur masing masing.

Kembali kepada apa yang dikatakan Blasius Sudarsono, maka itulah jalan pendakian yang berliku yang ditempuh oleh masing masing kelompok, melalui jalur jalan masing masing yang sebenarnya tujuannya adalah sama, yaitu Kesuksesan.  Indikator kesuksesan disini yang penulis pahami adalah PENCERDASAN MASYARAKAT MELALUI MEDIA PERPUSTAKAAN. Atau dibalik bahwa PERPUSTAKAAN TELAH MENJADI AGEN PERUBAHAN BAGI MASYARAKAT.
Masing masing memerankan dan memposisikan diri dengan segala kapasitas yang dimiliki dan tentunya berhasrat mengembangkan untuk kepentingan bersama, kepentingan masyarakat mencapai Indonesia Cerdas. Persoalan kemampuan juga sangat relatif yang penting disini adalah seberapa besar kontribusi yang telah diperbuat oleh individu yang menyebut dirinya “PUSTAKAWAN”

STRATEGI MERAIH PELUANG
Apa yang disampaikan diatas, bahwa sebenarnya Pustakawan bersaing dengan google (baca : informatika) dan “Pustakawan tanpa pengakuan” (Pustakawan TP”) , maka apa yang sebnarnya terjadi seorang PUSTAKAWAN harus memiliki Strategi yang baik, dalam menempatkan diri dan psosisinya di masyarakat.

Adapun strategi yang harus ditempuh adalah :
1.      Selalu meningkatkan kapasitas diri dan berlaku profesional dalam meraih jalur sukses
2.      Networking dengan berbagai pihak yang terkait termasuk “Pustakawan TP” untuk sebuah aktuaslisasi diri (keiklasan)
3.      Menggait peluang peluang yang ada dalam koridor Legal dan Policy yang berlaku
4.      Penguasaan tehnologi, informasi dan komunikasi secara cepat dan cerdas

SIKAP BIJAK PUSTAKAWAN
Memahami sebuah kompetensi makna filosofinya, adalah sebuah aktualisasi diri menjadi sebaik baik pustakawan, yaitu pustakawan yang membawa banyak manfaat buat bangsa negara dan masyarakat.

Menyadari bahwa hidup itu juga selalu berkompetisi maka siapapun yang menjadi pemenangnya, sikap sportifitas harus tetap dijunjung tinggi, namun masa (waktu) itu akan berputar seiring dengan bagaimana kita menyikapinya, perubahan hidup di dasari oleh sebuah perjuangan bagaimana kita bisa meraih yang terbaik.

Kembali kepada pehamanan kompetensi yaitu seseorang yang menguasai pekerjaannya, memiliki motivasi, mempunyai kemampuan, memiliki keterampilan serta secara konsisten menjalankan tanggung jawab dengan standar yang ditetapkan. Maka Pustakawan harus menyikapi dengan bijak dengan membaca peluang dan mengatur strategi sehingga tidak “tertinggal” oleh waktu dan tidak mampu meraih puncak kesuksesan karena kehabisan amunisi menempuh jalan berliku dan mendaki.

SUMMARY
TIDAK ADA YANG BISA MERUBAH NASIB PUSTAKAWAN KECUALI PUSTAKAWAN ITU SENDIRI, SIAP MENGHADAPI TANTANGAN DENGAN PROFESIONALITAS DAN PASSION UNTUK MERAIH SUKSES

Text Box: Profile Penulis 
Trini Haryanti, lahir di Jawa 1967, Bangga Menjadi Pustakawan sejak tahun 2000,
base on Surabaya, call 031-8792119 / 0811950025, email pustakaindonesia@gmail.com , 
Jalur Pendidikan Formal di Pasca MIP UGM belum terselesaikan, SD, SMP, SMA, S1 ok
Pendiri dan Pimpinan Pondok Pesantren Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia
              
 

Referensi
4.      Undang Undang 40 Tahun 2007 Peseroan Terbatas
5.      UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN
6.      UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2007 TENTANG PERPUSTAKAAN.

Terima Kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami, T