PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Senin, 01 Oktober 2012

San Mateo itu mengingatan aku pada sosok Stave Job



Kota yang tenang dengan udara sejuk, mengesankan penduduknya damai. Di saat jam sibuk, semua bekerja di dalam ruang kantor masing masing. Suhu udara sekitar 12 derajat celcius dan terika matahari yang fulgar membuat suasana nyaman. Dari bandara San Francisco ditempuh sekitar 45 menit itulah kota San Mateo dengan beberapa fasilitas Hotel, aku diantar menuju Hotel tidak lagi berdua bersama kang Herman tapi ada delegasi dari Cambodia, Laos, Myanmar dan berkumpulah 13 orang dari 9 negara dalam satu hotel.
Dinner dimulai di hotel Holiday in yang menyediakan fasilitas restoran, berada kurang lebih 100 meter dari tempat menginap, menu makanan ala America tersaji di meja panjang di depan 16 orang. Sedikit canggung para peserta berusaha menikmati makanan, soup nasi, burger, soup asparagus, dan calamara menjadi pilihanku. Rasanya kurang nendang nich kalau hanya dengan cumi goreng tanpa kentang atau nasi, aku pesan soup nasi berdua sama kang Herman dalam satu mangkok. Setelah dinner, breafing dan semua peserta kembali ke Hotel, istirahat setelah lebih dari 24 jam perjalanan dari Surabaya ke San Mateo.
Rasanya masih harus adaptasi tubuh dan ritme kehidupan baru, tepat pukul 8 kami harus melanjutkan perjalanan ke Sato Jose di Perpustakaan Martin Luther King, tokoh yang memperjuangkan persamaan hak tanpa membedakan ras. Sepanjang perjalanan aku menikmati suasana yang menurut pemikiranku bahwa Indonesia tetap surga, karena apa yang ada di depan mataku sepanjang perjalanan semua juga ada di Indonesia. Bahkan di sini San Mateo aku tidak menemukan hamparan sawah yang indah bagaikan permadani hijau. Itulah surga bagi kehiduanku Indonesia, dan aku tidak akan meninggalkannya.
Yang mungkin belum ada di Indonesia adalah sosok  Stave Job, yang aku kagumi, setelah aku menikmati hasil karyanya dan di kota inilah katanya Stave Job bekerja, dan menghabiskan kehidupan bersama karya karyanya. Ketika sore ada kesempatan aku masuk ke apple store yang megah di mall San Mateo, terpajanglah apple dengan segala jenis type dan macamnya, sayang sekali tidak ada satupun yang bisa aku bawa pulang karena yang namanya iphone sudah tertanam nomor handphone lokal. Demikian juga dengan ipadnya. Aku Cuma bisa menikmati, sambil berlalu masuklah aku ke dalam rumah pizza, untuk mengisi perut yang sudah lapar. Ternyata rasananya tidak jauh beda, paparoni pizza.
Semakin akrab bersama delegasi ketika breakfast dan saling bertukar cendera mata dari daerah masing masing. Membanggakan karena tentunya membawa nama bangsa. Bahasa Inggris yang saling belepotan tentu tidak menjadi masalah asal bisa menangkap maksudnya. Ada yang tidak bisa sehingga lebih banyak diam, tapi yang lancar dan fasih dia akan banyak bicara. Kehangatan suasana dari hari kehari semakian akrab, aku menemukan sosok mom yang lucu, setiapkali dia bicara orang tertawa, dia santai, cerdas, sederhana,  jabatan sebagai kepala perpustakaan Universitas ternama di negaranya dia sangat sederhana. Ada yang energik, dengan gaya berbicara patah patah, ketika tahu memang dia memiliki karier yag bagus dengan usianya yang relatif masih muda menjadi kepala perpustakaan di perguruan tinggi di Cambodia. Masing masing punya cerita.
Dua malam tiga hari berada di San Mateo semua delegasi dibawa ke San Fracisco, yang ternyata semua peserta memang baru pertama kalinya. Dikira hotel para delegasi dengan enjoy mau istirahat karena masih terasa capek dengan berbagai agenda yang diikuti selama 3 hari apalagi perjalanan dari negara masing masing ke California tentunya butuh waktu panjang bisa lebih dari 20 jam di dalam pesawat, kalau dihitung dengan transit di beberapa kota atau negara maka bisa memakan waktu 30 jam.
Ternyata yang dikunjungi adalah kantor Asia Foundation, disambut ramah dengan sambutan wakil direktur yang fasih berbahasa Indonesia, menjadikan aku sedikit bangga karena bisa ngobrol banyak hal tentang Indonesia. Mr Grain, tinggi besar dan kegantengannya masih nampak, kembali kami para delegasi disugihi makan siang ala America, maka makanlah kami dengan lahap karena lapar bukan karena jenis makanannya. Setelah jalan kaki cukup jauh ketika dari kantor Asia Foundation ke Hotel maka, rasanya teman teman delegasi istirahat demikian juga aku yg selalu menunggu hari esok, dengan semangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar