PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Senin, 12 Desember 2011

Lembaran hidup hari ini

Pagi ini ada satu pelajaran tambahan, sebenarnya pelajaran ini sudah pernah diterima, namun pagi ini sedikit merenung. Ketika bangun subuh, sesuai ajaran orang tua dan agama yang aku percaya, maka bangun subuh itu hukumnya wajib dan tidak bisa ditawar lagi. Selesai menjalankan kebutuhan ritual pagi, sebagai bentuk pendekatan hati kepada sang Penciptanya, sejenak tertegun.... Tuhan, akan Engkau jadikan apa, orang yang tidak pernah mau bangun pagi ?.

Kemudian ritual beres beres rumah, sambil mendengarkan alunan musik, ini disebut ritual olah otot disertai olah rasa, karena yakin Kebersihan adalah sebagian dari iman. mulai dari meja kerja, dapur, kamar mandi, mobil, memasukkan semua apa yang akan dibawa ke kantor, hari ini beda, bawa bantal, peralatan dapur dan isi kulkas, dibawa ke kantor karena akan ada RAPB. Kemudian cuci baju, sambil mandi, jeda sejenak membersihkan lokasi tempat cuci baju yang tidak terlihat cling lagi. Terdengarlah orang serumah yang baru bangun tidur, sosok perempuan muda usia masih belasan atau sekitar 20 tahunan, mengucapkan selamat pagi, di saat pukul 5.45, ke kamar mandi, melaksanakan ritual Sholat, kemudian ke dapur bikin mie instan, makan di depan TV, mandi, berdandan dan siap berangkat. Terheran dia ketika melihat mobil sudah penuh dengan barang barang yang akan dibawa, tak ada pertanyaan bagi dia, kecuali kata "wow sudah siap semua ya", aku terdiam mendengar ucapannya, terheran mendengar sikapnya.

Seperti pertanyaanku pagi tadi di depan sang "Penguasa" akan engkau jadikan apa orang seperti ini ? ... yang terjawab adalah, agar aku mensyukuri nikmat, bahwa aku diberikan olah gerak jiwa dan spritualku untuk menunaikan kewajiban sebagai hamba, mensyukuri dan bisa mengucapkan terima kasih kepada orang tua yang telah mengajari kebaikan dan kedisiplinan sebagai manusia yang bertanggung jawab, sebagai rasa cinta akan kesehatan yang telah diberikan Tuhan, sebagai rasa rendah hati, bahwa manusia memang diciptakan berbeda untuk saling melengkapi, sebagai rasa syukur bahwa tidak merepotkan orang lain, sebagai rasa bangga bahwa aku sudah melakukan banyak hal di 2 jam pertama setelah aku bangun pagi.

Kasihan sekali anak ini yang hidupnya hanya bisa melakukan ritual shalad dan makan pagi, tanpa tahu harus ngapain atas rumah yang ditempati, tidak juga kamar tidur yang dipakainya. Kalau hidup lebih banyak makan dan tidur apa jadinya ? lebih senang bergantung pada orang lain, semua sudah beres, tidak paham apa yang harus dilakukan, tidak paham bahwa ada permasalahan yang menimpanya, ada ketidak beresan atas olah spiritualnya, atas kesalahan batin yang tidak memiliki kepekaan sosial.

Dalam sebuah pernyataannya, yang paling aku ingat adalah "Betapa kasihan kalau kerja selalu pulang malam, bagaimana keluarga di rumah" dia penganut paham "Mangan ra mangan yen kumpul" (lebih baik tidak makan yang penting kumpul keluarga) padahal sebuah keluarga bisa berbahagia ketika bisa berkumpul disertai kecukupan kebutuhan lahir dan batin, dan kecukupan lahir (materi) di jaman sekarang lebih dari sekedar empat sehat lima sempurna, ada faktor hiburan, ada faktor edukatif, ada faktor investasi. Betapa kasihan pola pikir anak muda ini, masih kental dengan tradisi tanpa menyadari betapa masa yang akan datang lebih kompetitif, dan betapa kasihan bahwa dia tidak paham sebagai perempuan dia harus mendidik anaknya dengan bersekolah yang lebih tinggi dan itu dibutuhkan biaya, bahwa masa depan perempuan bukan lagi bergantung pada keringat suami tapi harus sama sama berkeringat.

Apalagi yang harus dinasehatkan kepadanya, ketika hidup lebih dinikmati dengan diam, makan dan tidur, betapa dia dibuai oleh angan angan membentuk keluarga bahagia walaupun itu belum dialaminya, dan tanpa di dasari ilmu yang cukup, apakah di dasari banyaknya tidur dan "bermimpi", hanya Tuhan yang tahu akan nasib seseorang.

Dari pengamatan, tidak ada orang yang berhasil tanpa kerja keras, disiplin dan berbagi. Ada banyak orang yang terpuruk di masa tuanya, karena kemalasan dan ketergantungan pada orang lain dan pada kekayaan warisan orang tua.

Semoga pelajaran hari ini, membuat ku semakin mensyukuri dan semakin rajin lagi untuk bisa berbagi pada banyak orang akan suatu kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar