PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Senin, 20 Juni 2011

Pustakawan

Hari ini seorang sahabat merayuku untuk menyelesiakan studiku, ada penghargaan yang salah satu syarat mesti seorang "Berilmu"perpustakaan, dengan mencibir aku katakan bahwa Penghargaan duniawi tidak aku butuhkan.

Aku akan menyelesaikan studiku karena malu menyandang "kegagalan" dalam berstudi, bukan aku tak mau meneruskan, bukan karena aku tak butuh ijasah, bukan karena karierku sudah berakhir, tapi aku akan kejar ilmunya.

Satu sisi aku menangisi ambisiku yang tak pernah berujung, manangisi obsesiku yang tak pernah berakhir, menangisi ide kreatifku yang tak disambut gembira oleh teamku. Aku sadar kegilaanku semakin menjadi ketika sosok sosoh manusia Indonesia terpuruk oleh watak bringas keserakahan akan materi, terpuruk atas arogansi kekuasaan, terpuruk atas ketertindasan oleh moral2 cerdas rang tak religius. Sungguh menyiksa batinku. Dan pagi ini aku menangis, diruang tak tersentuh dalam kemayaan aku curahkan segala keluh kesahku.

Pagi ini aku kehabisan kata, komunikasi mandeg tersumbat oleh kegalauan, dan semua aku biarkan, menunggu apa yang terjadi. Aku harus segera pergi. Ku kejar hasrat hati, kukejar impian dan ambisiku bersama yang kumau.

Ragaku merenung setiap hitam kelamnya malam, adakah ampunan, adakah menggugah perasaan, adakah menggugah jiwa jiwa mati tak bernurani. Tak ada ide, hanya jasadnya yang bekerja, hanya raganya yang bicara, bersama otak otak beku, kaku.

Aku lama tak menyentuh blog ini, aku lama tak bicara bersama nuraniku. aku punya semangat, aku punya niat, aku memiliki kepasrahan dan aku yakini yang ada. Sukses ku kejar dan tak kan hilang, rejeki kupegang tak kan melayang. semoga malam ini aku kembali memiliki kekuatan dahsyat bersama keiklasan dan doaku akan menghujat kalbuku.

Untuk cerdaskan anak bangsa,