PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Rabu, 15 Desember 2010

Langkahku Menyusuri Cita Citaku

Keduanya aku anggap penting, Yogja - Surabaya, tapi membagi secara proporsional itu kadang menimbulkan ketidak adilan. Aku sadarai bahwa kepentingan umum lebih aku dahulukan meskipun Yogja secara jelas adalah kepentingan pribadi namun demikian hal yang pribadi tersebut membawa dampak pada kepentingan umum juga.

Akhirnya aku putuskan untuk kembali ke Surabaya, sudah aku selesaikan tugas Yogja, sebait doa, aku munajadkan "Semoga Maha Guru Memahami Kondisiku, Memaafkanku, dan Memberikan nilai buat raportku" , langkah kaki menuju kereta gerbong satu seat satu. Sebelum meninggalkan kota Yogja aku sudah tidak menyadari lagi, tubuhku bersandar pada kursi, melipat tubuh, kepala aku posisikan diatas bantal kecil kereta, sayup sayup aku mendengar ada tambahan penumpang, bisikan hatiku pada setengah kesadaran otakku, sampai Solo. Kereta melaju, terdengar kemudian teriakan pecel pecel, bawah sadarku berbisik, Madiun, terus melaju dengan tubuhku yang semakin meringkut beku.

Gairahku bangkit ketika sampai mendekati Surabaya, melaju kereta menyusuri relnya, perlahan aku tatap email satu satu, genggaman tanganku adalah mewakilli semakin sempitnya dunia ini aku merasakan tehnologi tanpa batas. Ah..aku berguman ini lagi ini lagi, Tuhan apakah ini bentuk jenuhku, semoga aku selalu dipertemukan orang orang "Gila" yang bisa merubah wajah Indonesia. Itulah Nafsu jiwaku, aku tuliskan bait bait email untuk sang"Penguasa" aku sampaikan lips service dengan tutur kata indah mengikuti irama sistem yang tercipta. Aku tutup kembali hand phone ku, bergegas aku berdiri, membuka dan menutup kembali pintu kereta setelah hajat seniku terbuang dalam kloset kereta.

Turun, dan melangkah membawa beban dalam ranselku, ada laptop, ada 3 buku, ada 1 t-shirt hijau setengah kumal, ada beberapa kabel, ada bedak dan lipstick yang mencerminkan bahwa aku masih perempuan, ada tissue yangg beku, ada saputangan yang kusam, ada apalagi aku tak ingat pasti. Menapaki jalan Wonokromo, berbelok ke Jagir, aku perlahan menatap bangunan kompeni yang kokoh, tua dan terawat, aku tengok gelapnya sungai membawa arus. Aku tengok kembali kanan tubuhku, aku nyengir, ini bagian dari seribu macam kehidupan dunia. Seonggok tubuh kurus penarik becak yang terlelap, aku menerawang, menduga bahwa orang ini bahagia dalam tidur pulasnya. Kutemukan lagi tubuh mungil bersandar pada kardus dia adalah penjaja kompresor, kutengok lagi tubuh lelaki berdiri, membuang hasratnya sembarangan, kudengar klakson dari lelaki hidung belang, tak sedikitpun aku mau melihatnya, sekalipun aku sadar bahwa betapa bodohnya dia, karena menduga bahwa perempuan yang berjalan di tengah malam ini bukan perempuan biasa, bukan perawan hidung belang. Terus melaju membawa tubuhku pada gemerlap lampu, ini adalah pasar sayur, ramai ditengah malam dengan berpacunya roda ekonomi rakyat tanpa gemerlap.

Yang membuatku aneh adalah ketika membaca beberapa spanduk yang terpasang di kantor pemerintahan, bunyi spanduk adalah himbauan untuk anti korupsi, ketawaku terbahak bahak membacanya, ternyata kalimat itu lebih lucu dari badut, lebih lucu dari Srimulat, karena sebenarnya siapa yang tidak kenal "Gayus" begitu gencarnya lembaga tersebut menulis anti korupsi. Sambil melangkah dengan pasti aku tinggalkan badut itu yang menempel disetiap dinding pagar kantor "Gayus".

Kerumunan sepeda motor yang berjajar membuat aku senyum tersipu, itu yang aku cari, bukan alasan lapar aku harus makan, aku ingin duduk bersama mereka, pecel yang mengandalkan rasa pedas, tempe secuil seperti harga dan rasanya. perlahan mulutku merefleksi tanganku, bergerak mengikuti irama syaraf otakku, aku menghadapi tukang sayur. Disebalah tukang sayur tua tertidur istri tercintanya, aku bertanya kemana anak anaknya ? hampir pasti anaknya dirumah untuk berjaga. Keramahan penjual pecel ini membuat senyum banyak orang terlempar bersama pundi pundi recehan yang terus mengalir, lima ribu rupiah untuk sepiring pecel tanpa nasi, 2 potong tempe, dua potong kaki ayam, dan segelas teh yang tdk nyaman untuk aku minum.

Aku duduk dibangku tukang parkir, aku tenteng plastik yang berisakan jagung manis dan singkong, aku membayangkan besuk aku akan sarapan singkong dan makan siangku bersama jagung. Ngobrol sedikit bersama tukang parkir, tanpa jelas maknanya, aku seberangkan kakiku menuju jalur jalan menuju rumah. Taxi warna orange terhenti dan tubuhku telah berada didalamnya, dibawa melaju menyusuri Jagir dan Sepanjang. Sampai pada laju mendekati rumahku, aku melihat mobil perpustakaan keliling masih tergelatak di depan kekasihku. YPPI menjadi jiwa dan ragaku, menjadi kekasih dalam hidupku, dan karenanya malam ini aku kembali ke Surabaya.

Letihku aku sandarkan dalam gairah malam ini, aku nikmati teh kesayanganku, aku tulis kembali blog yang sempet tertidur. Semoga mimpiku siang tadi akan terwujud esok hari setelah aku lewati malam ini dengan potongan potongan doa yang terangkai. Semoga Tuhan menyertai.