PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Sabtu, 26 Juni 2010

HARI ANAK NASIONAL 2010

Kami Anak Indonesia, Jujur, Berakhlak Mulia, Sehat, Cerdas dan Berprestasi" adalah sub tema untuk Hari Anak Nasional 2010, saya sedang berfikir, apa peran Pustakawan ketika hari anak ? atau apa yang bisa kita lakukan untuk anak ? bukan anak sendiri lho...itu sich tidak perlu ditanya, tapi anak Indonesia.

Peluang ada karena kita melihat kekurangan, peluang ada karena kita melihat kebutuhan, peluang ada karena kita ciptakan. Sudah bisakah kita menciptakan peluang ? kalau sudah, itu menjadi bagian dari jiwa entrepreneurship. Terkait dengan Anak, bukan saja kita menyediakan mainan atau fasilitas penunjang sekolah, tapi peluang Anak bisa diambil dari berbagai kegiatan yang bisa dilakukan bersama anak.

Melihat tema utama dari hari anak yaitu "Anak Indonesia Belajar Untuk Masa Depan". maka belajar apa saja dalam bentuk berbagai kegiatan , maka apa yang bisa kita lakukan ?

Contoh
Dolanan Tradisonal yang kita lakukan secara kelompok ditempat bermain , di taman taman kota, di sekolah, di balai RW, menjadikan anak bisa belajar banyak hal :
1. Belajar bersosialisasi dengan lingkungan
2. Belajar menjalin solidaritas
3. Belajar mengasah kepekaan sosial
4. Belajar memahami nilai tradisi warisan leluhur
5. Belajar menghargai hak orang lain
6. Belajar menghargai waktu, kapan harus belajar dan kapan perlu bermain
7. Belajar sportifitas
8. Belajar kreatif dan mengasah kecerdasan melalui permainan
9. Belajar banyak hal lagi

Kapan kita mulai menyadari untuk bisa mengakomodir kebutuhan belajar anak melalui dolanan ? sibuk kah kita ? tidak memiliki waktu ? anak sudah tidak tertarik lagi dengan dolanan ? semakin sibuk dan tidak memiliki waktu kita semakin kehilangan apa yang disebut Haritage dan komponen lain yang melekat di dalamnya.

Peluang inilah, bisa kita renungkan dan tidak salah kalau kita coba, kapan lagi, hari anak Juli mendatang bisa menjadi awal dari memulai, tidak ada kata terlambat.

Selamat berjuang para Pustakawan, anak menjadi asset Bangsa yang berharga, peran kita untuk menjadikannya generasi yang cerdas, jujur dan menatap masa depan dengan menjadi manusia yang berkwalitas.

Kamis, 03 Juni 2010

Guangzhou dalam hidupku

Tulisan ini sifatnya hanya menulis, tanpa dilator belakangi sebuah studi literature, cros cek atau konfirmasi terlebih dulu, karena ini dianggap sebagai sebuah catatan perjalanan, dan masih under construction, suatu saat akan selalu di edit dan disempurnakan.

Sebelum Hari ini, dan Aku berjalan untuk menggapai Hari esok, karena catatan hari ini merupakan bentuk realisasi sebuah harapan empat belas tahun yang lalu, sepulang dari Mekah, ingat pesan Rasulluallah, bahwa tuntutlah Ilmu sampai ke negeri China, dan inilah perjalanan yang sebenarnya belum mendapatkan banyak hal, namun yang 7 hari semoga membawa arti.

Hari I, 27 Mei
Empat belas tahun yang lalu ketika itu aku mengatakan bahwa aku ingin pergi ke China sebagai negara tujuan ke dua setalah tanah suci, dan tapat diusiaku yang ke 43 aku berangkat mewujudkan impiankuAlasan yang kurang masuk akal kenapa aku harus ke China adalah memetik hadist rosul bahwa tuntutlah ilmu smp ke negeri China, apakah keberangkatanku kali ini akan menuntut ilmu, antara ya dan tidak, ya karena ada niat untuk studi banding perpustakaan melengkapi data tesis yang sedang ku kejar, tapi juga heran perpustakaan mana yang akan aku kunjungi? karena aku tidak membawa informasi tentang itu.Ada hal lain selain ilmu dan pengalalaman perjalanan yang akan aku cari, hati kecilku merasakan menemukan kembali apa yang pernah hilang dalam hidupku, lima jam perjalanan aku tempuh dari Jakarta ke Guangzho, perutku lapar menunggu ransum dari pesawat, aku habiskan waktuku dengan membaca dan menuliskan kebekuan hatiku, seperti dinginnya pesawat ini.Beberapa waktu ini aku merasakan betapa kesabaranku menurun karena menghadapi teamku yang dua orang, aku rasakan banyak berubah. Akhirnya aku putuskan untuk mengeluarkan mereka dengan membahasakannya sebagai bentuk collingdown.Beban rasa kadang menjadikan jiwa ini capek namun tanggung jawab tetap memaksaku untuk terus bertahan, ada banyak hal yang ingin aku raih, aku menyebutnya sebagai ambisi dan kemudian aku buat sistem dan aturan untuk mewujudkannya.Kerinduan pada kakakku aku buang jauh jauh supaya tdk merasa cengeng, dari detik ke detik hidupku berada dalam tatapan laptop, dari menit ke menit aku menuangkan ide dan gagasanku dalam lembaran lembaran tulisan, dari hari ke hari aku datang dan pergi dari satu perpustakaan ke perpustakaan yang lain. Hidupku sangat dinamis, kadang aku merindukan untuk bisa punya waktu sejenak berada di dapur, menikmati naluriku sebagai perempuan. Kadang aku mengingat keajaiban keajaiban dalam hidupku, dan hari ini keajaban telah datang kembali padaku.Perjalanan ini aku lakukan sendiri dengan bekal seadanya, tanpa persiapan khusus, tanpa memiliki rencana kemana dan bagaimana nanti. Sababat baiku menjemputku disana, entah akan dibawa kemana aku nantinya.Ada kejadian lucu saat dipesawat, rangsum kedua atau terakhir roti buatku ternyata expired, hal yang tidak sengaja aku ketahui , awalnya karena memang malas makan roti, iseng aku teliti bungkusnya, dan ternyata Tuhan memang baik dan melindungi aku, setelah ketahuan bahwa roti itu expired seluruh penumpang yang duduk dibelakang heboh meneliti kembali roti yang belum dimakan atau mencari bungkus roti yang telanjur masuk perut, entah apa yang mestinya dilakukan oleh awak cabin, selain kata maaf yang terlontar dari mulut manis pramugari, ternyata pramugari di depan kami menyalahkan pihak catering, ini menunjukkan sistem dan koordinasi yang kurang baik, cerminan kurang profesionalan sebuah layanan maskapaiSesampai di bandara, aku coba berpose untuk mendokumentasikan bagian dari memori hidupku, tentunya ingin berkuliner yang aku rasa belum pernah aku temukan, aku biarkan lidahku menemukan sensasi yang berbeda dari biasanya. Chines food aku rasakan di penginapan, sahabatku ini jago masak, bersama istri dan anak semata wayangnya yang cantik kami makan di apartemen tempat tinggalnya.Cuaca panas, tdk berbeda dgn Surabaya, airport lebih nyaman di Jakarta dan aku tidak menganal tulisannya, yang aku tahu bahwa aku berada di Baiyun Airpot, arti Baiyun adalah awan putih, bahasa yang romantis kedengarannya. Naik bus dari Baiyun ke Guangzho menyenangkan, bebas macet dan alamnya tidak jauh beda dgn Jakarta atau Surabaya, ongkos busnya 16 RMB (yuan). Jalanan bagus, pohonnya, taman kotanya. menyenangkan tapi begitu masuk kota Guangzho ternyata macet juga. Kota Guangzhou bersih, banyak perempuan menggunakan payung ketika jalan kaki mungkin takut matahari, ada beberapa yang bersepeda tapi sangat sedikit hampir jarang ditemui motor. Ternyata motor di China dilarang penggunaannya kecuali untuk orang orang yang invalid.Stasiun Yuexiu park adalah transit untuk menuju ke Gongyuan qian, dan sebelum ke apartemen mampir minum di Rabit ketemu Fitri, anak sahabatku yang sekarang sudah terlihat remaja kecil, cantik anak ini, kulitnya yang bersih adalah genetika ibunya, ya sedikit sekali muka bapaknya, wajah Indonesianya terlihat sekali karena tidak ada mata sipit. Begitu ketemu Fitri, ada kesan anak ini baik sekali, dan senang sekali dia karena merasa ketemu saudara, maklum ibunya anak tunggal, dan Fitri sendiri juga anak tunggal. Wah peraturan nich, gumanku, karena China dengan penduduk satu milyard perlu juga dibatasi. Akhirnya perjalanan dilanjut ke kengkou, tarip trainnya 3 RMB, kalau pelajar tarpnya,1,5. Sampai di ruang tebgah apartemen ketemu lagi teh dengan penyajian tradisional China, cangkir kecil sekali teguk, beda sekali dengan saat di Rabbit minum teh susu mutiara dengan gelas gede. Setiap hari Fitri naik ojek dari stasion atau metro dan ke Four Season Garden, tarip 3 RMB.Sebelum ritual tidur, aku dan sahabat discuss seputer dunia perpustakaan di Indonesia, dia ini dulu care banget sama 1001 buku di Bali, komunitas pecinta buku dan anak, yang di tahun awal berdirinya 1001 buku aku aktif, kemudian aku menapaki dunia perpustakaan sampai sekarang.Dikamar Fitri, sebuah kamar yang tentu saja berukuran kecil, bertemakan dunia laut kamar Fitri tertata rapi, ada lap top di meja, beberapa boneka berukuran kecil dan dipojok ada pohon bambu mencirikan Negeri tirai bambu, aku rebahkan tubuhku, berangan angan bahwa besuk akan mendapatkan pengalaman menarik.

Hari ke dua 28 Mei 2010
Mengunjungi perpustakaan Guangzhou dan Toko BukuPagi ini mengantar Fitri ke sekolah dgn Train, tidak jauh dari sekolah ada taman rakyat (Yin Min Park) dengan banyak patung, banyak orang tua beraktivitas senam, ngobrol sekedar jalan jalan. Taman begitu tertata rapi, bersih tidak ada orang jualan seperti di Indonesia, dan anehnya ada prasasti yang ditanda tangani walikota Guangzho dengan walikota Surabaya Bambang DH yang menjelaskan bahwa Guanzhou adalah kota kembarnya Surabaya, yang kembar apanya ya.Sebelah taman ada stasiun diberi nama stasiun taman rakyat. Tepat dibelakang taman ada kantor walikota. Kota ini begitu bersih, tertata rapi dan begitu rindang. kami menyusuri jalan sampai ke belakang melalui jalan bawah tanah, maka akhirnya sampailah ke Sun Yat Sen Memorial Park.Taman Sun Yat Sen menjadi tujuan utama dengan Auditorium yang megah, sekeliling auditorium tertulis sejarah perkembangan politik yang terkait dengan Sun Yat Sen, terpampanglah gambar Soekarno sebagai sahabat Sun, setelah berkeliling maka kami bergeser ke sebelahnya yaitu kantor Gubernur, namun tidak sampai masuk karena selain ada penjaga juga karena memang tidak memiliki kepentingan apa apa.Tujuan berikutnya adalah Perpustakaan Guangzhou, gedung perpustakaan megah dengan koleksi buku lebih dari satu juta judul, yang terletak di lantai satu sampai 4, kemudian dilengkapi dengan ausio visual, ruang baca khus tuna netra dan banyak lagi koleksi koran dan majalah. Laynan perpustakaan buka mulai pukul 09-21. Jjumlah pengunjung tak terhitung lagi, sekali pinjam satu orang bisa 5 buku, ruang anak dan ruang study berada di sebelah gedung perpustakaan.Tak lupa kami mengunjungi perpustakaan Chun shan atau Perpustakaan Sun Yat Sen sayangnya perpustakaan sedang renovasi sehingga dilarang maauk.Karena hari Jumat maka tujuan yang menarik berikutnya adalah masjid, kami terlambat karena begitu sampai sana sudah selesai sholat Jumat, yang kami temui begitu banyak manusia berbagai etnis sedang lalu lalang di sekitaran masjid sambil mengerumini pedagang makanan, hidungku kecium bau sate, wah ada orang madura nich, pikirku, ternyata sate yang dijual dilengkapi dengan roti cane dikerubuti komunitas india yang berada disekitar tempat tersebut. Begitu masuk maajid rasanya tidak seperti di masjid, ada bwberapa renovasi ada mercusuar tua yang umurnya sdh ratusan tahun, pengurus masjid rasanya bukan asli china, berjenggot dan sedikit sawo matang, ramah, istrinya mengenakan jilbab dan terlihat face china asli dengan mata sipitnya.Begitu selesai ritual di masjid, aku refresing di salon yang tidak jauh dari masjid, untuk sekedar cuci dan merapikan rambut yang kusus.Menemukan KFC di Park and Shop yang tepat berada di depan taman rakyat, mencoba mencicipi Teh Susu Mutiara dengan harga 8 RMB. teh ini tidak mungkin ada di KFC Indonesia.Makan malam di rihe japanes food, ada rice teh yang menghangatkan, didahului dengan makanan pembuka chi berupa rumput laut, disusul dengan makanan yang lain. Kami pulang sama sama dengan istri, anak dan sahabatku. Aku mencoba membeli tiket train sendiri, ah bias. Lulus nich berarti aku besuk jalan sendiri aja.
Wilayah apartemen terbagi dalam beberapa Distric , ID card atau KTP nya Ind di urus oleh kepolisian. Dan negara komunis ini pegawainya tidak berseragam, kecuali angkatan atau tentaranya. Semua terkesan santai tapi mereka kerja keras dan serius, rasanya hidup di Guangzhou ini mesti berkompetisi untuk bisa hidup layak, kalau tidak kerja keras akan tergilas, demikian kesan yang bisa aku tanggap dari lalu lalang manusia mencari rejeki.Akses internet cari informasi untuk besuk sambil menyusun agenda bahwa besuk akan ke Guangzhou library : no 42 Zhongshan Si Rd www.gzlib.gov.cnChildren Library 149, Yanjiang Xi Rd http://www.gzst.org.cn

Hari ke tiga 29 Mei 2010
Berkunjung ke Perpustakaan cabang Guangzhou yang berada di komplek apartemen Fang Cun Hua Yuan, berada di lantai 3 Tower pada sisi kanan dari pintu masuk. Perpustakaan buka pada tengah hari sampai malamBegitu terasa jauh ketika perjalanan dengan bus menuju pusat kota, masuk bookstore UN namanya seperti Gramedianya di Indonesia. Menyusuri Jalan Beijing Lu
Jalan lagi menapaki pinggiran sungai Mutiara (Xi Shu), hujan sampai pada batas river, sebenarnya tujuannya cari Hotel, namun aku tidak cocok disamping rada rada tidak bersih, juga karena sepi, dan aroma Hongkong atau Maccao gitu....banyak para lelaki bermata sipit dan bule. Kepengin sekali menikmati perjalanan di sepanjang river di malam hari, pasti asyik. Dengan hujan yang semakian deras, aku menikmati sate kambing dan jagung resbus, aneh khan ? minumnya air kelapa. Dan hujan inilah yang membuat sepatuku lem nya lepas, wah maklum sepatu murah dan memang murahan, baru beli dari Bandung memang khusus untuk traveling tapi ternyata memang harus yang kuat. Pulang ke rumah, sampai malam dan basah kuyup. Tidak banyak cerita hari ini, tapi rasanya jiwaku sedikit terbelenggu dengan agenda yang aku tidak tahu dan tidak jelas, aku orang yang sulit diatur, karena aku merasa mampu berbuat sendiri dan merasa selalu ingin mencarai sensasi sendiri, tpe orang yang ingin kemanapun sendiri, menentukan cara dan langkah sendiri. Mudah mudahan kebebasan bisa segera datang. Aku lebih suka keluar masuk kampung, lebih suka kehidupan yang unik, aku sangat menghindari mall atau plaza. Aku sangat menghindari hingar bingar kehidupan kota, walalupun sesekali aku ingin menengok sisi lain kehidupan hingar bingar tersebut, karena pasti ada yang beda, di sudut sudut kota ketika malam tiba. Semoga, aku tidur dalam lelah berselimutkan dingin dan menanti esok yang selalu akan lebih baik.

Hari ke empat 30 Mei
Bertepatan dgn hri minggu, ketemu teman dari Makasar, bersama sama minum teh di Restoran Muslim di Zhong Shan Lok Rd 325, dalam satu meja ada 11 orang, sepuluh diantaranya perempuan.Bioma tujuan mereka manabur uang, aku hanya mengikuti saja, sekedar tahu ada apa di Bioma, dari lantai ke lantai aku jelajahi. Barangnya mulai murah dan murahan sampai mahal, bermerek dan bagus. Aku tidak belanja kecuali ada rasa sayang kalau duit di tabur dinegeri orang untuk sekedar fasion, kecuali baju adat china yang kebetulan dapat harga murah 80 RMB, pasar selayaknya Tanah Abang di Jkt.Tujuan berikutnya adalah Baiyun trading , pusat penjualan tas murah berkualitas. Di sini aku lebih tertarik nongkrong sama pedagang bulu binatang. Sambil makan jagung rebus. aku coba ngobrol dengan bahasa tarsan, di sini aku melihat banyak warna kulit dan ternyata tujuan wisata belanja. Perutku rasanya belum kenyang juga, aku santap buah melon kuning, kalau di Indonesia aku tidak mau makan melon karena pestisida, di sini wassalam dech. Manis sekali dan dua potong aku lahap habis.Rombongan ibu ibu ini masih juga berkeliling entah apa yang menarik bagi mereka, sampai pukul 16.30 tak kunjung selesai juga, aku berencana segera bergegas ke Baijing road.Pengin makan mie asli cap halal, dan pengin sekali tidur nyenyak, bangun pagi dan pergi lagi, karena rasanya aku harus melupakan Baijing, tapi dalam hati aku masih berharap ada keajaiban Tuhan untuk sampai di sana.



Hari ke lima (31 Mei 2010)

Semangatku hari ini lebih pada aku merasakan kebebasan berekpresi dalam menentukan pilihan kemana aku harus melangkah kan kaki. Dan begitu semangatnya jam 7 pagi aku sudah keluar hotel untuk melihat kehidupan pagi di Guangzhou, tidak banyak berbeda dengan Indonesia. Ke sekolah, ke kantor, ke Pasar, Bekerja, membersihkan kota dan sebagainya.

Aku hanya jalan kaki mengelilingi seputaran hotel tempatku menginap di Jalan Haoxian sampai ke taman rakyat, sampai Sun Yat Sen Memorial Hall, akhirnya kembali ke Hotel lagi setelah tas belanja penuh. Ada beberapa barang yang aku beli untuk sekedar oleh oleh. Melanjutkan naik bus sekitar pukul 11.00 ke arah yang aku tidak tahu, nomor busnya 133, sampai pada tujuan akhir bus tersebut, aku kembali naik bus dengan nomor yang sama. Setelah jeda beberapa lama aku menemukan kedai teh, yang orangnya pandai berbahasa Inggris, aku dijamu dengan teh, dan belanja teh juga. Sebagaimana umumnya orang Indonesia, kalau tidak nawar bukan orang Indonesia, dari harga yang ditawarkan 250 RMB akhirnya sampai aku dapat harga 230 RMB dan sudah tidak bisa ditawar lagi, wah lumayan hemat 20 RMB dengan beberapa teh dan satu paket cangkir untuk minum teh. Ketika melihat ada toko buah, akhirnya aku baru sadar sudah lebih dari 1 minggu enggak makan buah, karena di Guangzhou sendiri tidak terbiasa orang makan buah, yang terlihat adalah makan nasi dan mie. Beli mangga dan jambu air yang ukurannya lebih besar dari ukuran rata rata buah di Indonesia, wah dengan satu mangga rasanya perutku pasti kenyang, tapi aku makan nanti malam saja, karena tidak ada pisau, dan jambu bisa aku pakai untuk makan siang, 2 buah jambu rasanya cukup mengenyangkan.

Siang sekitar pukul 14, aku masuk ke supermarket, aku menemukan kemasan mie yang unik dan bisa aku bawa pulang. Mencari pasta gigi yang dulunya aku sering pakai dan sekarang di Indonesia harganya sudah mahal, sekitar 25 ribu, disini aku lihat harganya sekitar 15 ribu rupiah. Aku beli satu, beli beberapa sabun mandi seperti yang aku pakai, sikat gigi, shampo, semua produk yang sebenarnya ada juga di Indonesia, tapi karena tulisannya china, ya beli karena tulisannya aja, aneh juga ya, kenapa aku beli, untuk kwalitas khan tentu sudah standar.

Tidak terasa sudah sore ketika pantatku ini terasa panas, banyak duduk dalam bus, sudah keliling kota Guangzho, aku sudah banyak mengambil foto dari dalam bus, walaupun hasilnya tidak begitu bagus, tapi aku rasa cukup bisa memberikan informasi. Selama pengamatanku di Guangzhou tidak banyak Bank asing, Bank yang aku lihat Bank of China, Bank of Guangzhou, China Construction Bank, dan akhirnya aku menemukan juga Citi Bank, wah aneh juga, jangan jangan Cuma satu di tempat ini, dan tidak ada cabang ditempat lain di Guangzhou yang luas ini, aku juga tidak menemukan Bank perwakilan Indonesia? dimana ya, dalam perjalanan di sepanjang jalan xxx aku menemukan ada deretan restoran yang diantaranya adalah Pandan Indonesia, Thailand, Turki, ini mungkin pusat makan Internasional.

Menemukan Musium Revolusi Guangzhou, aku turun di halte, dan langsung masuk ke musium yang ramai sekali dikunjungi orang, untuk berolah raga, anak anak sekolah melakukan aktivitas senam sore, ada yang cuma sekedar nongkrong, ada yang badminton, di tempat seperti ini tidak dipakai untuk pacaran dan berbuat mesum, selayaknya di Indonesia. Padahal dilihat suasanya sangat memungkinkan karena rimbun, asri, adem, dan banyak pojok2 yang romantis, malah banyak terlihat pasangan suami istri yang usia lanjut mungkin mereka bernostalgia atau menjaga keromantisan, karena memang banyak orang China yang lebih suka keluar rumah karena apartemen sebagai rumah mereka berukuran kecil.

Beberapa patung Presiden lengkap dengan story kepemimpinannya, tertata rapi diantara belukar yang eksotik, ada kolam yang di tengahnya jembatan batu yang elok, ada taman bunga warna merah di sepanjang jalan menuju monumen. Monumen tersebut berupa patung tangan menggenggam senjata, monumen perjuangan, begitulah kira kira. Pagar depan yang tinggi berwarna merah menunjukkan kekuatan perjuangan, depan persis berderet gedung bertingkat, menjulang disertai lalu lalang mobil, bus dan pejalan kaki yang tidak pernah surut sebelum tengah malam tiba.

Setelah puas berpose di dalam musium, karena ada yang membantu memotretku dengan berbagai gaya. Orang ini sebelum membantuku mengikuti ku entah kenapa, karena kita menggunakan bahasa tarsan, orangnya tinggi kekar dan rupanya yang menarik bagi dia adalah handphone ku, dia heran (mungkin) dengan handphoneku yang di China ini dijual dengan harga yang sama dengan Indonesia, dan iklannya sedang gencar gencarnya aku lihat dibeberapa media di Guangzhou ini. Dari situlah dia bisa punya kesempatan menggunakan handphoneku untuk memotret diriku yang selalu ingin bergaya.

Bus sebagai alat transportasi cukup murah, sekali naik 2 RMB atau sekitar 3 ribu rupiah dan itu dengan jarak tempuh yang cukup jauh, sekitar 40 km, mengililingi rute rute yang telah tertata dengan jadwal yang sangat teratur. Halte berfungsi dengan baik, naik dari depan, dan turun melalui pintu belakang. Setiap orang yang naik, mesti masukkan uang 2 yuan pas, baik berupa koin maupun uang kertas, dan pada umumnya masyarakat lebih memilih menggunakan kartu, yang bisa diisi ulang.

Tiba di hotel sekitar pukul 19.00, rasanya aku lapar sekali, tapi aku berfikir apakah aku akan memakan mie terus menerus selama di sini, sulit sekali menemukan makanan halal, ya, aku masih memiliki buah. Makan malamku cukup dengan buah, kebetulan ada toko yang menjual cutter di depan hotel, mangga yang ukurannya cukup besar aku habiskan dalam sekejap. Aktivitas selanjutnya buka laptop, mentransfer semua dokumentasi hari ini, dan menuliskan apa yang tercatat dalam ingatanku, akhirnya tidurku pulas sekali.

Hari ke enam (1 Juni 2010)
Menulis menjadi agendaku yang tercecer dan karena ditelp sahabat untuk ketemu di railway station, kami janjian di railway untuk sama sama menengok sahabat deket dari Jakarta yang sakit. Ketemuan tertunda beberapa waktu karena aku keasyikan menulis, maaf sahabat. Begitu sudah muncul di station, buru buru ke Modern Hospital, banyak orang Indonesia berobat ke sini, kenapa ya ? tentunya alasan layanan dan spesialis dokternya. Kalau aku rasa seorang dokter harus memiliki sinse of humor yang tinggi karena itu bagian dari terapi, kalau dipikir mereka terkendala bahasa tapi kenapa memilih Guangzho untuk berobat ? entahlah, aku tidak berusaha mencari tahu jawabannya, dalam otakku terpikir ada Baiyun Mountain di sekitar sini yang harusnya bisa aku kunjungi. Terlihat olehku 2 perempuan muda, yang ramah, dengan bahasa Indonesia yang fasih sekali, ini dia kuncinya, transleter yang memiliki jiwa Relationship yang bagus sekali. Chi Chi namanya, masih belia sekali dibagian administrasi dan satu lagi perawat yang namanya Sri Rahayu, unik, face nya padahal China banget. Menurut Chi Chi, papanya berasal dari Surabaya , tahun 65 kembali ke China dan bertemu dengan mama nya yang kebetulan Nenek Chi Chi juga asal Indonesia. Maka Chi Chi belajar bahasa Indonesia dari Papa nya. Sedangkan yang Sri Rahayu, aku belum sempet ngobrol banyak karena dia sibuk sekali, tapi dia punya nama China apa ya, entahlah, dalam waktu sekejab dia menghilang, mengurus pasien-pasiennya. Ibu sahabat ku ini katanya sakir paru, dia diijinkan oleh dokter pulang selama 3 minggu dan harus kembali lagi, untuk menuntaskan penyakitnya yang katanya sedikit lagi sembuh. Aku berfikir mengenai berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya dan segala akomodasi yang terjadi, ya Tuhan, berikanlah aku selalu kesehatan, dan nikmat sekali ternyata sehat. Menjaga keseimbangan hidup itulah kuncinya, lahir dan batin, materi dan spiritual.

Mampir ke Pasar grosir tas, sepatu dan ikat pinggang , tempat yang sedikit semrawut , banyak orang kulit hitam dan arab datang ke tempat ini, pastinya mereka berdagang. Kekuatan tekat biasanya mengalahkan ketidak mampuan berkomunikasi, toh dagang salah satu yang dibutuhkan ketika transaksi adalah angka, dan semua beres. Aku tidak tertarik dengan dunia perdagangan dan di sini aku lebih senang mengamati dari sisi sosial masyarakatnya secara sekilas, bagaimana gelandangan hidup di daerah seperti ini, si tua renta yang mengais sampah, kemudian bagaimana orang orang invalid bekerja dengan gigih untuk menghidupi diri dan keluarganya dengan sepeda motor roda tiga, yang jalannya sembarangan tanpa mengikuti rambu yang ada, dan seolah mereka diprioritaskan karena ke-invalitannya, dan mirip sekali dengan bajaj di Jakarta. Bukan bentuk motornya tapi polah tingkahnya. Aku menikmati saja apa yang terjadi, naik apapun, makan apapun , kondisi apapun ok sajalah. Dan begitu juga ketika makan siang yang waktu menunjukkan pukul 13.00, aku sendiri masih belum terlalu lapar, masuk ke restoran muslim, mengasikkan, makan sayur, sedikit nasi, dan mencicipi sambal ala China yang dimasukkan dalam botol, tidak terasa pedas. Aku melihat China terkenal dengan mie, seolah menjadi makanan pokok, dan aku senang sekali bisa melihat orang membuat mie, show pembuatan mie dilakukan di dapur tanpa peralatan mesin penggiling, semua dilakukan dengan tangan. Salah satu anak pemilik restoran yang ganteng dan masih muda, dia mengatakan tidak sekolah, dan hanya lulus SD, ketika kami tanyakan kenapa tidak sekolah, dia menjawab lebih suka bekerja membantu oran tua, terlihat adik nya perempuan yang manis, mirip wajah orang Indonesia, berjilbab, dengan pipi yang kemerahan. Ada bapak yang lebih tua, sebagai kasir, mungkin ini Kakek si anak perempuan cantik berjilbab, dan ada lagi laki laki setengah baya yang mungkin adalah bapak si anak ini, berarti ada tiga generasi yang secara bersama sama mengelola restoran muslim. Makanan pesanan kami disajikan, entah apa ini aku tidak tahu, yang jelas sayur sejenis kacang panjang, disertai satu menu lagi, kentang, daging dan paprika, rasanya tajam rempah, beraroma khas chines food yang tajam. Aku menikmati makan siangku dengan santai sambil berfikir, habis ini kemana lagi ya ?.

Kami naik kereta menuju pinggiran kota Guangzhou, namanya Jiaomnen, sebuah stasiun yang hampir paling akhir. Sepanjang perjalanan terlihat tanah pertanian, yang terlihat berbeda karena di tutup dengan semacam jaring warna hitam, tanaman yang terlihat adalah sayur, pepaya, dan pisang. Aku sempet melihat ada banyak daun waru. Apartemen apartemen baru yang belum ada penghuninya juga banyak dibangun, semacam kota baru dipinggiran kota. Udaranya terasa lebih sejuk, dibanding di kota Guangzhou, jelas lebih sepi, dan terasa lebih nyaman, sama seperti suasana pedesaan di Indonesia namun lebih tertata bergaya modern dengan apartemen dan jalan yang rapi. Ada beberapa bukit di kanan dan kiri yang nampak lebih pada bukit kecil yang hijau, ada sungai yang aku lihat lebar dan dalam seperti sungai sungai di Sumatra, hanya bedanya tidak ada penduduk yang bertempat tinggal disepanjang sungai. Terlihat beberapa alat berat, dan industri. Begitu sampai di station kami tidak turun ke bawah, tapi kembali ke station ke arah kota. Tujuan berikutnya adalah sebuah pulau kecil. Disebutnya sebagai Kota pelajar, luas sekali dan masih sepi. Banyak mahasiswa yang lalu lalang, namun banyak juga masyarakat lokal pendukung kebutuhan mahasiswa, berjualan makanan, sebagai tukang ojek. Asrama atau apartemen melengkapi fasilitas yang ada, aku melihat library, bentuk gedung yang setengah melingkar berwana coklat, terpikir olehku tentunya bagus, karena terlihat gedung yang masih baru. Fasilitas olah raga menjadi hal penting dan harus ada di China. Kami berkeliling dengan bus, sampai ke tengah kota, bertepatan dengan jam pulang kantor, jadi serasa padat dan sedikit macet, tapi tidak separah Jakarta, masih teratasi dengan baik, merambat dan pasti jalan. Sampai pada jalan yang berjajar berbagai restoran International karena berbagai negara ada, kami berpisah untuk menuju tempat masing masing. Aku melanjutkan perjalanan dengan bus no 133, karena jalur itu yang aku tahu, dan turunlah di depan rumah sakit, disebelah kantor Pemerintahan yang aku tidak paham kantor apa. Aku merasakan lapar, atau karena melihat ada Kungfu restoran, aku masuk restoran tersebut yang terlihat sedikit sepi, hanya ada satu dua pengunjung saja, aku pesan mie, wah ternyata mie nya dari tepung beras, aku merasa tidak begitu cocok dengan makanan ini, tapi tetap aku makan juga, walaupun tidak bisa menghabiskan karena porsinya terlalu besar. Selesai makan aku keluar restoran dan menyeberang menuju hotel, kembali rintik hujan membuat udara terasa dingin. Kamarku cukup nyaman, rutinitas di kamar aku lakukan lagi, dan

Banyak pengusaha yang memilih mobil pribadi untuk perjalanan hidup

Nanti malam aku berencana menikmati malam panjang di sungai Mutiara sambil makan malam, dapet enggak ya, wah ternyata masih dalam angan saja, belum kesampaian untuk menikmati malam di sepanjang sungai mutiara, memang Guangzhou tidak bisa kita hadir dalam sepuluh hari. Kenangan

Hari ke Tujuh (2 Juni)
Pagi ini begitu buka jendela aku lihat hujan menyapa, wah ini pertanda aku harus menyelesaikan tulisanku yang tertunda beberapa hari ini, kalau keluar rasanya sangat tidak nyaman karena aku tidak memiliki payung, dan jalan basah. Beberapa hari ini aku merasa kelelahan begitu sampai di Hotel, karena lebih banyak jalan kaki menyusuri jalan jalan Guangzhou. Sehingga begitu sampai hotel terlelap aku dalam tidur sampai pagi, aku yang terbiasa bangun jam 4 atau 5 pagi, di Guangzhou bangun pukul 06.00, tapi masih kebagian waktu untuk Sholat Subuh, karena memang masih terlihat gelap.

Telpku berdering, sahabatku mengajak aku ke Shen Shen, janji ketemuan di Railway jam 10, ya ok lah. Tapi ketika jam 10 aku menuju Railway, dengan metro (kereta) biayanya 3 RMB dengan jarak tempuh dekat atau jauh sama saja. Sampai di Railway station hujan masih mengguyur dan rasanya tidak nyaman kalau harus ke Shen Shen, apalagi sulit sekali rasanya aku mendapatkan toilet, waduh sangat menyiksaku, karena aku merasa sering sekali harus buang air kecil, padahal tidak banyak minum, begitu sampai di toilet di Railway station aku buang air sampai tuntas, tapi begitu menuju kereta, terasa lagi mau buang air, waduh kenapa ya ?. Sampai akhirnya aku batalkan untuk tidak ke Shen Shen dan temanku setuju, karena memang tidak memungkinkan. Dan Aku merasa bingung ketika harus kembali ke Hotel, aku tidak mengingat dari stasion apa aku tadi berangkat, begitu melihat peta, aku perkirakan pasti di sekitar Zhongshan Yilu aku harus turun, begitu sampai station yang aku perkirakan dekat, sebenarnya aku tidak salah, hanya saja aku bingung, kemana aku sebaiknya melangkahkan kakiku. Begitu melihat pasar, maka aku masuk, dan menikmati pasar wilayah yang paling aku suka, aku menemukan penjual teh, dan cangkir ala China untuk minum teh, beberapa teh dan cangkir aku beli, sekedar kenang kenangan aku foto bersama pemilik teh. Sebelum menemukan toko teh aku sempet mendokumentasikan beberapa transaksi di pasar, tidak ada sayur atau buah yang berukuran kecil, buah sirkaya yang di Indonesia rata rata seukuran bola tenis, disini 3 kali lipatnya, ingin aku beli dan merasakan, tetapi begitu ditimbang dan harganya 20 RMB maka aku batalkan untuk membeli, satu buah sirkaya 30 ribu wah nilai yang mahal, padahal kalau dilihat ukurannya memang bisa mengenyangkan perut. Buah naga terlihat banyak dipasar ini, dan tentunya harganya lebih murah dari Indonesia. Aku melihat pedagang ayam, mulai dari ayam hidup, ayam sudah terpotong dan siap di masak, juga lengkap dengan telur, terlihat bersih, dan anehnya ada juga ayam cemani, ayam yang warnanya hitam, menurut kepercayaan memang itu ayam untuk obat. Pedagang ikan menempati kios paling ujung, ikan segar dengan ukuran yang besar, kepala ikan juga banyak diminati pembeli, jadi ingat gulai kepala ikan di Indonesia. Ada juga yang jual kodok hidup dan beberapa binatang yang aku tidak mengenalnya, entah apa warnanya hitam atau mungin cokalt pekat, seperti ubur ubur tapi juga berbentuk seperti kerang. Daging sapi dan kambing tidak ada di pasar ini, lebih banyak daging babi, sosis dan beberapa daging cincang yang sudah dibumbui.

Jalan sepanjang Beijing Lu menjadi patokan buatku untuk menuju ke hotel, tidak bosan aku berada di sekitar sini, selain ramai, juga lebih lengkap dan serba ada, walaupun aku juga tidak butuh belanja apapun, suasana etnis China kental sekali.
Masih juga hujan dan semakin deras, aku merasa memang harus beli payung, banyak pilihan payung mulai dari yang 10 RMB sampai ad ajuga yang 100 RMB, aku beli yang sedang sedang saja 49 RMB. Segera kembali ke Hotel dan menyelesaikan segala urusan kerjaan. Sampai pukul 17.00, aku mandi, makan di hotel dan siap berangkat melangkahkan kaki kemanapun sesuai busa yang aku bisa naik dan kembali lagi tanpa tersesat.

Bus nomor 27 yang akhirnya jadi transportasiku, aku naik dari halte yang terdekat dengan hotel, aku tidak tahu tempat apa tujuan akhir bus ini, tapi aku menemukan pedagang buah yang murah dibanding pasar di Beijing Lu yang aku temui sebelumnya. Duren montong seharga 8 RMB per kilo, kemudian aku pilih yang terkecil dan ternyata seharga 24 RMB, aku minta dikupas dan dimasukkan dalam kemasan stereoform, penuh, wah murah ini, kalau di Indonesia bisa sampai 60 ribu rupiah. Tidak aku habiskan duren dan aku berniat membawa ke hotel, aku berjalan masuk ke pasar, disini terlihat pedagang kaki lima, sayur, buah, kemudian ada los ikan, daging, telur, dan pedagang kelontong. Tatapanku tertuju pada toko teh, yang juga menjual teko dan cangkir untuk minum teh. Jauh lebih murah dari sebelumnya, akhir nya aku beli beberapa, aku pikir bisa untuk oleh oleh. Aku lihat duitku terkuras tinggal beberapa RMB, ya sudahlah nanti aku berniat untuk mengambil duit di ATM bank og China dekat Hotel. Perburuanku pada teh dan tempatnya membuat aku merasa terpuaskan, aku belanja 60 RMB mendapatkan beberapa model teko dan peralatan minum teh bergaya China.

Begitu keluar pasar, aku sedikit bingung, ke arah mana ya, tidak terlihat olehku bus nomor 27, aku menyeberang halte dan menanyakan satu kata yang aku ingat Beijing Lu, langsung orang menjawab 236, dengan menunjuk angka yang terdaftar di halte tersebut. Di China ini petunjuk sangat lengkap dan mudah dipahami, hanya saja tulisannya yang aku tidak mengerti. Akhirnya bus 236 datang dan tidak begitu ramai penunpang, karena sudah menunjukkan pukul 22.00. Sampai di Beijing Lu, sopir bus teriak, Beijing Lu, aku masih bingung, Beijing Lu kok seperti ini, aku minta turun di halte setelahnya, dan aku tambah bingung, kemana ya sebaiknya kakiku melangkah. Sudah biar saja yang penting jalan, sampailah pada toko mainan, aku masuk ke dalam, dan melihat ada boneka kecil berbentuk kambing, sebagai simbol China dan menjadi icon Sea Games yang akan datang, aku beli 2 paket berisi masing masing 10 boneka dengan harga 15 RMB. Begitu keluar toko aku mendengar orang China berbahasa Indonesia, langsung aku sapa, ternyata orang ini dari Malang dan baru pertama datang ke Guangzhou, dia menyangka bahwa aku dari Hongkong, wah TKW nich, apakah penampilanku mirip TKW ? maklum TKW sekarang juga modis. Kami ngobrol sejenak, kemudian aku pergi berlalu masih dengan kebingunganku. Aku tanya Beijing lu, orang menunjuk arah yang membelakangiku. Sekali lagi dengan suasana yang etnis, dengan lampion merah yang menggantung di pohon, menjadikan suasana yang tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa pemotretan. Tidak banyak orang yang peduli dengan apa yang kita lakukan, tapi dengan gayaku ada juga beberapa yang menegur dengan bahasa mereka, akrena aku melakukan pemotretan sendiri dengan camera otomatis. Sampai di ujung jalan Beijing Lu, baru aku melangkahkan kaki ke arah Hotel.

Sampai di Bank of China aku masuk ke ruang ATM, ya Tuhan ATMku tertelan, gara gara aku tidak tahu duitnya dmana, dan cara mangembilnya bagaimana, memang tidak seperti di Indonesia. Untungnya ada pelajat atau karyawan yang fasih bahasa Inggris membantuku untuk menghubungi call center, dan aku diminta besuk jam 9 datang ke bank untuk mengambil kartu ATM yang tertelan. Sedikit berkeringat aku karena duitku tinggal bebera Yuan, aku khawatir bahwa akan ada biaya ketika di airport. Begitu aku telp temanku ternyata tidak ada biaya apapun, tapi aku perlu duit untuk naik taxi ke bus Airport, tapi mudah mudhaan cukup.

Pukul 23.30 aku masih sibuk memindahkan foto foto dari camera ke laptop, dan aku masih email ke beberapa kolega, sampai pukul 24.00 aku merasa senang karena besuk pulang. Sambil berkemas dan merapikan tas dan belanjaan hari ini, aku merasa bahwa oleh oleh yang aku bawa sudah cukup, walaupun sangat sederhana, aku juga belum tahu untuk siapa dalam bentuk apa.

Hari ke Delapan (3 Juni)
Bahwa hari ini aku akan pulang, rasanya akan ada beban berat yang harus aku kerjakan, Lembaga tempat aku bekerja selama ini perlu ada banyak perubahan, aku bertekat bahwa harus berhasil, harus ada orang orang baru yang cukup kompeten untuk membesarkan YPPI. Hari sebelumnya aku sempet chatting dengan sahabatku yang sekarang ini tinggal di Bandung. Semoga apa yang kami bicarakan melalui chatting menjadikan niat yang baik dan membawa perubahan setelah aku pulang. Aku juga berencana jumat pagi akan ke tempat temanku untuk diskusi dengan apa yang akan aku lakukan dalam beberapa hari ini.

Aku juga rindu sama kakakku, yang mungkin sudah 6 bulan ini kami tidak pernah bertemu, aku ingin membawa oleh oleh khusus untuknya. Sekalipun kakak ku ini tidak begitu bahagia dengan benda benda, dia lebih suka uang kali ya, dan aku membayangkan ketika aku berikan teh dari China, dia akan menjawab, ah biasa saja rasanya, lebih enak teh Indonesia, dia paling sulit menerima hal baru, sulit menerima perubahan. Teringat ketika aku pulang dari Toraja, aku bawakan dia kopi yang terkenal dan tentunya mahal untuk ukuran dia, tapi sama dia dicampur kopi yang beli dari pasar, yang biasa dia berikan ke suaminya, waduh mak,,,, kataku. Itulah kakaku yang lugu, aku membawayangkan keluguannya dan aku rindu.

Dari pagi aku melanjutkan menulis dan kirim email, aku ingat harus ke Bank, untuk mengurus ATM ku yang tertelan kemaren, sampai di Bank pukul 08.45, belum buka dan aku harus menunggu di depan, tapi securitynya baik, dia memberikan nomor antrean padaku, nomor 1, ok, aku yang pertama, ada beberapa nasabah yang juga mengantre. Tepat pukul 09. bank di buka, dan aku disambut oleh perempuan cantik berdiri siap membantu yang datang, aku menyampaikan permasalahanku, dan yang pertama dia minta adlaah pasportku, ternyata dalam waktu singkat ATM sudah berada ditanganku, wah, kalau di Indonesia butuh waktu berapa lama ya, untuk pengurusan ATM yang tertelan ? karena aku belum pernah mengalaminya, justru kemaren aku sangat kawatir karena hari ini aku harus pulang. Kepuasan pelanggan menjadi hal penting, karena kesan pertama akan menentukan penilaian. Kembali ke hotel yang Cuma beberapa langkah, aku meneruskan menulis dan telp ke shaabatku jam berapa dan dimana mesti ketemu, dia mengantarku ke bandara. Dari Hotel aku mengurus chek outku dengan kembalian uang depositku yang lumayan bisa menambah duit. Mudah mudahan cukup gumanku.

Sampai di Hotel tempat bus ke bandara berhenti, aku dibantu megurus tiket bus, dan barang barangku yang belum terkemas dengan rapi. Sama sahabatku aku dikasih tahu tembat Konjen RI berkantor, dan tempat lounge bus, nyaman, rapi dan ada teh corner yang harganya lumayan mahal. Sambil bercerita mengenai teh, temanku memberikan alamat milist pecinta teh, ya ok, aku akan ikuti, karena beberapa hari di China aku sudah mencoba beberapa rasa teh. Temenku rasanya pengin menggerutu ketika aku disuguhi teh, dan aku bilang bahwa rasanya aneh sedikit seperti coklat, mungkin dia pikir lidahku abnormal, barangkali juga, dan yang membuat aku suka teh disini adalah tanpa gula, jadi relatif aman.

Bus siap berangkat, dan dua tasku masuk bagasi bus, segera meluncur dan aku duduk diberisan depan samping kanan, karena di China sopir berada di posisi kiri sehingga jalan berada disebelah kanan. Melaju kencang dan aku merasa sebentar lagi tiba di Indonesia, aku merasa rindu dengan masakan Indonesia, aku rindu makan sambal, aku rindu tempat tidurku yang sudah 2 minggu aku tinggalkan, akrena sebelum aku ke Guangzhou terlebih dahulu berada di Palembang dan Jakarta. Sampai di Bandara, counter tiket belum buka, aku bisa mengemas ulang tas dan koperku, rapi sudah, aku sedikit malu karena aku membawa makanan bihun kesukaanku dan apel yang aku dapat dari hotel jatah sarapanku, ah biar saja, untuk bekal makan siangku, karena aku sudah kehabisan duit, tadi saja sewaktu bayar tiket bus, untuk dua orang duitku kurang 4 Yuan. Begitu counter tiket dibuka, aku berada pada urutan pertama, dan beres sudah, urusan chek in. Sambil menunggu waktu, aku diajak ke kedai minum, sambil ngobrol ke sana ke mari, aku sedikit malu karena berkali kali ditraktir sama dia. Aku merasa banyak merepotkan dia, merasa banyak mengambil waktu dia, dan tentu segala hal yang sudah banyak dikeluarkan untuk ku, aku sendiri sudah 3 malam tidur di rumahnya, aku tidak tahu ucapan apa selain terima kasih.

Aku hanya dititipin minyak buat orang tuanya di Bangkalan, dan aku janji mau mengantarkan langsung ke alamat, sambil kenal sama keluarganya, dan menjadikan bagian dari keluarga besarnya, aku juga pamit sama istrinya via telpon, aku sebenarnya menyukai anak gadisnya yang cantik, ingin rasanya akau bawa ke Indonesia.

Setelah pamit, aku menjelajahi wilayah pedalaman bandara Baiyun, luas, megah, dan banyak store dengan menjual kemawahan, dan louge louge VIP berderet, aku menuju ruang tunggu biasa 8 A, sekali lagi aku berpose dibeberapa tempat. Aku ingat waktu sholat, aku tidak ingin mencari tempat sholat, aku yakin akan sulit di dapat, akhirnya aku sholat dibalik dinding yang cukup tidak terlihat banyak orang.

Dan tidak berapa lama boarding dibuka, berjejer antara orang Indonesia dan China, rapi, teratur dengan petugas yang ramah, dan mesin otomatis yang memudahkan pengecekan tiket. Masuk pesawat dengan set nomor 5 D, aku bersebelahan dengan seorang bapak, berperawakan China, aku tahu bahwa ternyata dia seorang dokter specialist kanker yang oleh pemerintah China sudah diakui dan mendapat sertifikat sebagai supervisor. Tapi di Indonesia dia tidak menjadi bagian dari IDI, dia akhirnya cerita menegnai IDI, mengenai ilmu kedokteran China, mengenai pengobatan China, mengenaibudaya China, mengenai sistem pemerintahan China, mengenai profesi dia, mengenai keresahan dia untuk bisa menularkan ilmu yang dimilikinya, mengenai bagaimana menjaga kesehatan. Wah aku beruntung sekali hari ini, banyak ilmu yang aku dapatkan, dia juga memberikan resep untuk konsumsi kacang hijau atau kacang tanah, yang tumbuh tunas, dia cerita tentang soup untuk kanker, banyak hal dan semua bermanfaat.

Sampai di Cengkareng pukul 18.45, lebih cepat 15 menit dari yang tertulis di tiket, aku langsung menuju kepenerbangan berikutnya, Surabaya.