PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Minggu, 18 Oktober 2009

langkahku hari ini

pagi ini aku menghitung hari..kamis, jumat, sabtu, minggu, senin...hari ke lima, masih panjang ....

biarkan aku melanjutkan pengembaraan ini...
rindu ku hari ini aku lipat
dalam balutan bantal kecilku,
nanti malam aku buka kembali

matahari semakin menyeka keringat orang orang yang bersemangat
aku sendiri dipojok dinding kamarku, membisu.

jariku memainkan keybord melukiskan isi kepalaku
hari ini satu satu rajutan benang tanggung jawab itu aku rangkai
apakah sempurna rangkaianku ?
Tuhan ....tanpa aku minta tentunya sudah tahu harus bagaimana,
posiskan diriku ke dalam orang orang yang beruntung,
menjadikan hari ini lebih baik
Tuhan...jadikan aku yang terbaik
dengan kreteriamu..

Selasa, 06 Oktober 2009

Romantisme

Rindu ini aku titipkan

Tangis batinku
Adalah jiwa jiwa rapuh
Perempuanku
Emosiku
Ada sisa sisa rindu
Aku titipkan
Entah kemana
Entah kesiapa
Ketika teriakan batinku meronta
Adalah perempuanku
Adalah jiwa jiwa rapuhku
Aku panggil namamu
Sisa kekuatan rindu ini masih ada
Nadiku berdenyut melontarkan namamu
Teriakan tak terdengar lagi
Lirih semakin lerih dan menghilang
Bukan berarti tiada,
Sisa rindu ini aku titip
Dalam surga.

Aku jelas mencintaimu
Bila lekang oleh waktu
Maka itu sejatinya adalah benda
Jika ini nyata adanya belum berarti bisa terlihat oleh kita
Aku jelas mencintaimu
Tidak terlihat , tidak nyata
Tapi ada


Mawar jingga ini berganti rupa
Bila itu simbul cinta
Mawar jingga ini telah berganti rupa
Usang karena rindu
Berubah karena waktu
Mawar jingga mati sia sia

Hatiku bukan itu
Cintaku bukan mawar jingga
Beku….meronta memanggilmu
diam…diam…diam…tetap membisu mengucap rindu , cinta, untukmu
mawar jingga

Jumat, 02 Oktober 2009

penjaja majalah stasiun tugu

wah...jangan jangan salah ucap....
kata syukur muntah dari mulut lugunya
"aku habis kehilangan satu kardus majalah baru"

telingaku semakin terpasang dengan peka
cerita demi cerita meluncur dengan binar matanya

derita itupun dirasanya dengan rela
kaki pincangnya membawa dia
memutar balikkan duka dan bahagia
menyusuri stasiun tugu

kemudian menghilang....
bayangan wajahnya bersamaku menyusuri rel kereta
kerelaannya menghujam ulu hatiku
mensyukri yang hilang ?

malaikatkah dia?
pak Dul, aku mencarimu esok
mendapatkan satu mutiara hatimu