PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Jumat, 05 Juni 2009

Ki Semar

Katakanlah namanya Harta, dan Nona salah satu staf dari Negara Astina. Terjadi kesepakatan kerjasama untuk program pencerdasan masyarakat. Alhasil disepakati angka program yang didalamnya ada 15 sen (titipan) untuk mereka. Alamak mati aku..menggerutu si Kendil yang mencoba berfikir positif bahwa angka itu bukan mengambil dari angka untuk masyarakat tapi tambahan yang diberikan oleh Harta dan Nona yang diambil kembali.
Si Kendil terus berfikir (karena hatinya tetap tidak tenang)wah.. 15 sen klu membuat mereka tidak kaya kenapa tidak dibelikan buku saja?
Ketika dana turun melalui Ki Semar, maka ki Semar minta bagian, si Kendil putar otak untuk menghindari "Program (Proyek) Haram" ini..... Ketika di Kereta menuju rumah ki Semar , si Kendil berfikir sambil ngantuk menahan flu nya yang mengganggu.
Sudah 2 bulan ini si Kendil jiwanya sedikit terganggu lantaran banyak hal dan penyebab, kalau di list mungkin hampir satu bab, 17 halaman dan bisa dijadikan buku, untuk melengkapi tulisan dari lembaran lembaran hidup si kendil lainnya yang 42 tahun sudah hidup nya berada di dunia dan separuhnya sudah digunakan untuk pengembaraan dari yang susah, senang dijalaninya.
Kembali masalah Ki Semar yang minta bagian, Kendil merasa bulan ini dan ke depan harus bekerja dan berdoa lebih keras lagi, Kendil diingatkan untuk lebih dekat lagi kepada pemilik alam ini.Kereta yang ditumpangi sampai juga ke stasiun Cendana di ibukota Negeri Astina, yang dituju mushola untuk sholat Subuh, kemudian berjalan mencari Bus kota no 11 yang diingat itu menuju ke Universitas Kisabdo yang dikenal dengan istilah UKI, Kendil mau menuju ke kota yang setiap harinya Hujan, disitulah ki Semar berada, rasanya Kendil harus mengejar waktu untuk segera sampai ke sana, dengan harapan dana bisa segera diterima untuk membayar hutang buku yang sudah dibelinya.
Begitu sampai di kantornya ki Semar maka terjadilah pembicaraan serius, serasa pembagian harta warisan saja, Ki Semar menawar untuk bisa mendapat bagian dari yang seharusnya Kendil terima, dengan penuh kesabaran Kendil menjelasakan bahwa dengan harus datang berulang kali ke Kota ki Semar dari tempat tinggalnya, Kendil butuh dana yang tidak sedikit karena harus terbang dengan Burung Elang, menempuh jarak kurang lebih 700 km.
Pukul 13.30 utusan ki Semar berangkat ke Bank, dan seperti biasa demang juga minta bagian bensin dan uang makan untuk proses transfer dana, Kendil memberinya 0.50 rupe.
Hari berikutnya Kendil bersama staff ki Semar yang lain pergi ke Kota untuk mengurus staff ki Semar, bisa belajar memberikan layanan program pendidikan untuk masyarakat melalui perpustakaan. Begitu semua beres, Kendil pamit kembali ke Kota tempat tinggalnya.

Minggu depan Kendil harus kembali ke ki Semar untuk menyelesiakan beberapa hal diantaranya :
1. Surat Kerjasama dengan lampiran budget, Rincian Pekerjaan dan Schedule kegiatan
2. Surat Pengantar ke Perpustakaan
3. Berita Acara Penyerahan Buku
Kendil merasa pekerjaannya tertunda karena teamnya datang tidak seperti yang direncanakan semula, Kendil merasa teamnya belum bisa disiplin dan memprioritaskan pekerjaan, coba bayangkan ketika perjalanan dari Kota Buaya ke kota Hujan berhenti di kota Rembulan entah berapa jam. Printer yang dibawa sia sia, Kendil tidak habis pikir. Belum lagi charger yang dibawa oleh teamnya, membuat hape Kendil los power, los contact dengan keluarga di waktu weekend. Kendil membaca email, ada beberapa tagihan Hutang yang membuat Kendil bernafas panjang untuk bersabar menunggu datangnya rejeki.
Kendil mecoba meng-ekspresikan kondisinya di Facebook.

Kendil, ingat bagaimana staff ki Semar menanyakan cara menyampaikan dana yang diminta oleh Harta dan Nona, Kendil melalui email akan menanyakan itu dan segera menyampaikan ke staff ki Semar.

Kendil berdoa, Tuhan (bukan dewa), bagaimana bisa terlepas dari orang2 yang selalu minta bagian dari dana yang seharusnya menjadi HAK Masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar