PADAMU NEGERI UNTUK LITERASI KAMI MENGABDI

Minggu, 21 Oktober 2018

RUMAH KHODIJAH

Khodijah adalah Istri Rosul, merupakan wanita yang patut diteladani bagi ummat Islam di dunia. Khodijah digunakan Rumah Hafidz yang didirikan oleh Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia dengan tujuan akan melahirkan Khadijah Khadijah baru untuk jihad sebagai wanita yang akan melahirkan generasi hebat yang akan menjadikan Indonesia Luar Biasa..

Rumah Khodijah berada di JL Rungkut Asri Barat X/9 Surabaya dengan kapasitas maksimal 20 santri dan beberapa ustdzah pendamping. Dikelola dengan baik oleh lulusan2 pesantren terbaik di Indonesia.

Akan resmi dibuka pada bulan Januari 2019 yang sebelumnya telah berjalan  di bawah manajemen Daarul Quran selama 1.5 tahun. Sekarang sedang dilakukan renovasi dan pembenahan manajemen.

Akan segera dilengkapi informasi ini setelah penyusunan manajemen selesai, dan jika penasaran bagaimana Rumah Khodijah ini dikelola, silahkan hubungi kami.

Assalamualaikum wr wb

Trini
triniharyanti@gmail.com

Sabtu, 24 Februari 2018

KENAPA PUSTAKAWAN (ADA YANG) MASIH I-LIETRATE

Tidak bisa dibiarkan ketika seorang Pustakawan beneran, yang menempuh pendidikan 4 tahun di Universitas untuk di cetak menjadi Pustakawan ternyata dalam kehidupan nyata perilakunya masih I-LIETRATE.

Bahkan tidak saja Pustakawan yang dibiarkan i-literate, masyarakat umum juga harus literate, memahami informasi yang diterimanya, literasi tidak sekedar kemampuan membaca dan menulis saja tapi pengetahuan atau makna yang diterimanya bisa di implementasikan dengan baik.

Kenapa diatas menekankan bahwa tidak bisa dibiarkan PUSTAKAWAN yang perilakunya masih I-Literate, karena Pustakawan adalah Profesi mulia yang mendekatkan akses informasi kepada pemustaka, mendekatkan akses informasi dan pengetahuan kepada masyarakat secara luas. Dengan demikian berarti profesi Pustakawan adalah menjadikan masyarakat literasi. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi rendah tidak bisa diartikan sama dengan rendahnya minat baca, jangan salah paham ya.... . Yuk -- Ngopi dulu---. Minat baca masyarakat Indonesia sudah bagus, tapi tingkat literasi masyarakat Indonesia masih rendah. Kemudian letak bedanya di mana ?

Sebelum menjelasakan kenapa PUSTAKAWAN tidak boleh i-literate, perlu disinggung sedikit bahwa perlu ada kerjasama antara Perpustakaan ditingkat Pusat sampai tingkat daerah dengan Badan Pusat Statistik untuk menyajikan data peminjaman buku. Data Peminjaman buku bukan saja layanan perpustakaan umum milik pemerintah tapi ditambah kolekting data peminjaman buku ditingkat masyarakat yang dilayani masyarakat juga dan Perpustakaan Khsuus yang ada. Sehingga diperoleh data yang mendekati akurat seberapa tingkat baca masyarakat, data ini baru asumsi tingkat baca. Ketika data ini dipilah dengan buku apa yang di baca oleh masyarakat maka akan diperolah data seberapa tinggi level baca di masyarakat. Dari tinggi rendahnya minat baca , akhirnya akan diketahui seberapa besar pengaruhnya tinggi rendah minat baca terhadap perubahan perilaku literasi masyarakatnya. Kalau data Unesco di yakini benar ya silahkan,kalau tidak diyakini kebenarannya, maka mestinya kaum akademisi melakukan penelitian akan hal tersebut.

Kembali pada pembahasan kenapa Pustakawan tidak boleh i-literate, ini bisa dianalog kan bahwa kenapa kalau dokter sakit, orang jadi heran, Kok dokter sakit. Jangan di jawab bahwa dokter juga manusia. Karena dokter diyakini paham ilmunya bagaimana menjadi kesehatan, dan dokter yang sakit, apalagi sakit sakitan maka apakah masyarakat akan bisa mempercayainya untuk berobat ?. Nah loh.... begitu juga dengan Pustakawan, jika pustakawan masih i-literate, bagaimana mau me-literasikan masyarakatnya. Sehingga dosa besar yang tidak bisa diampuni (istilahnya saja) jika perilaku Pustakawan masih i-literate.

Bedanya minat baca rendah dengan literasi rendah, minat baca rendah adalah angka baca (baca buku) masyarakat rendah (ya ya lah). Berapa buku yang di baca masyarakat dalam 1 bulannya atau dalam 1 tahunnya, berapa kemampuan masyarakat membeli buku, berapa kunjungan masyarakat ke perpustakaan untuk meminjam buku, nah loh,,,ada gak data itu tersaji secara komprehensip di setiap kabuapaten. Apalagi tidak ada data berapa setiap hari orang membaca Al quran atau kitab lainnya. Misalnya ada komunitas satu hari satu jus, kemudian menyerahkan data berapa orang yang membaca satu jus satu harinya. Karena orang membaca Al quran terus menerus setiap hari juga bisa mengubah perilaku menjadi lebih baik.

Kalau literasi rendah, berapa pelanggaran yang dilakukan masyarakat saat berlalu lintas di jalan raya,  padahal rambu rambu jelas ada dan tersedia. Ini salah satu indikatornya. Kita paham betul bagaimana sampah yang tersedia dengan jenis organik dan organik dengan tulisan besar ditempat sampahnya saja, tidak dipatuhi dengan baik. Bagaimana ketika tulisan No Smoking terpampang tapi banyak banget orang merokok di area tersebut. Bagaimana ketikan ada tulisan Mohon Antri tapi di meja layanan berderet secara horisontal mengerubuti petugas. Bagaimana ketika ada tulisan dilarang berhenti tapi masih saja ada yang berhenti. Dilarang Parkir masih saja ada yang Parkir, dan masih banyak contoh contoh lainnya yang menjadi salah kaprah di masyarakat. Jika ini dibiarkan dan tidak ada yang peduli, bagaimana terkesan carut marutnya literasi Indonesia. Masyarakat bukannya buta huruf, masyarakat bisa baca dan sudah baca, tapi pelanggaran dianggap hal yang lumrah.

Kalau Pustakawan juga sikapnya demikian, maka akan memperparah kondisi carut marut tersebut, kalau kaum intelektualitas atau kaum yang berpendidikan juga demikian perilakunya, maka apa jadinya Indonesia ini. Terus bagaiamana kita harus bersikap ? BACA, PAHAMI, IKUTI, dari awal malas baca, lebih baik bertanya, malas baca lebih baik mendengar, malas membaca lebih baik melihat. Kemudian sudah mendengar, sudha melihat, sudah paham,,, tapi masih cuek dan melanggar, maka itu disebut dosa besar atas literasi Indonesia.

Literasi adalah kemampuan seseorang dalam memahami informasi yang diterimanya melaui bacaan, simbol atau visual gambar dan suara. Kalau kata Literacy di Indonesiakan menjadi literasi dan ditambahkan I didepannya maka menjadi I-Literate. Artinya adalah ketidak mampuan sesorang memahami apa yg di bacanya.
Misalnya,

  1. Orang yang i-literate dengan simbol adalah ketika ada rambu di Larang berhenti dengan simbol S di coret tapi orang tersebut tetap saja berhenti di deket simbol tersebut maka orang tersebut kategori I-Literate. 
  2. Orang yang i-literatae dengan informasi atau kalimat atau bacaan, Ketika sesorang menerima surat, kemudian surat tersebut tidak di baca tapi bertanya, sementara pertanyaannya sebetulnya jawabannya sudah ada informasinya di dalam surat tersebut maka orang tersebut i-literate, karena sebenarnya bisa membaca, tidak mau membaca, dan bertanya yang jelas informasinya sudah ada. 
  3. Orang yang i-literate dengan visual adalah melihat tayangan yang menjelaskan tentang keselamatan kerja, tapi tidak diindahkan yang akhirnya menyebabkan kecelakaan kerja. 
  4. Ada pengumuman tentang mematikan handphone dalam pesawat tapi masih saja di dalam pesawat handphone nyala bahkan aktif ber wa an ria, bahkan telphone.

Nah, sudah jelas kan bagaimana akibat orang yang i-literate ?
yang pertama jelas membahayakan bagi dirinya dan orang lain, yang ke dua, terlihat sangat tidak cerdas, malas dan menjengkelkan orang lain, yang ke tiga terlihat seperti orang bebal yang bisa mengakibatkan celaka, yang akibatnya tidak saja dirinya, tapi orang lain bahkan keluarga. yang ke empat mengakibatkan terganggunga sinyal atau frekwensi radio bandara, bahkan mengakibatkan celaknya banyak orang.

Jadi sebenarnya apa penyebabnya jika Pustakawan yang keseharian berkutat pada profesi membangun literasi masyarakat, mengajak membaca, mendekatkan pengetahuan, informasi dan buku, tapi masih I-Literate, ya karena itu tadi : tidak mau baca, jika baca sulit paham, jika sulit paham tidak ada usaha, maunya ambil praktisnya bertanya. Atau malas baca, malas tahu, malas jadi orang pintar akhirnya jadi manusia bebal. Nah kalau sudah demikian, alih profesi jangan jadi Pustakawan, m e m a l u k a n dan t e r l a l u -------!!!!! kalau masih jadi pustakawan di gigit setan loh !!!! (sambil nulis geregetan nich)
Contoh disekitar kita masih banyak lagi, dan KITA WAJIB PEDULI AKAN LITERASI.

Terima kasih bagi pustakawan yang telah menginspirasi saya, sehingga tulisan ini ada. Semoga kebaikan, dan kesadaran kita semua membangun literasi Indonesia akan membawa perubahan bagi bangsa dan Nagera kita tercinta.

Salam Literasi.

Refrensi
  1. http://www.komunikasipraktis.com/2017/04/pengertian-literasi-secara-bahasa-istilah.html
  2. https://www.kanalinfo.web.id/2016/11/pengertian-literasi-dan-perkembangannya.html
  3. http://literasi.jabarprov.go.id/baca-artikel-1141-benarkah-budaya-literasi-masyarakat-kita-masih-rendah--permasalahan-literasi-dan-alternatif-solusinya.html


Rabu, 07 Februari 2018

Prakata 11 Tahun YPPI

"Sebagai institusi independen kami memiliki kontribusi menjadikan masyarakat cerdas melalui perpustakaan sebagaimana visi kami. Tidak berlebihan kalau kami bergerak terus bersama sama stakeholder untuk mengembangkan perpustakaan di seluruh wilayah Indonesia.

Berbagai bentuk dan jenis perpustakaan yang kami kembangkan selama 11 tahun dan terus dikembangkan dari generasi ke generasi yang akan kami bangun bersama sama di Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia. 

Semoga yang kami lakukan menginspirasi banyak pihak, sehingga implementasi bisa dilakukan siapapun di manapun di wilayah negeri ini. Kami juga terus berkembang, terus kreatif melakukan berbagai aktivitas perpustakaan kekinian sehingga dapat mengikuti arus jaman. Kiprah kami menjadikan Perpustakaan sebagai tempat edutaiment sepanjang hayat bagi masyarakat, sehingga kami memiliki makna bagi negeri ini. Salam Literasi

Rabu, 29 November 2017

GEMA SUPER BABEL

GEMA SUPER BABEL
Gerakan Masyarakat Suka Perpustakaan dan Membaca

Membangun Generasi Berkarakter Minat Baca
Sebagai Pencapaian Pembangunan Manusia seutuhnya
Belitung, 30 November 2017

Membaca itu setiap orang bisa membaca. Menulis  (mengetik) setiap orang bisa menulis. Tapi apakah membaca dan menulisnya itu berkualitas, bermanfaat atau asal membaca dan asal menulis. Mari kita amati perilaku masyarakat dan bagaimana peran kita semua dalam upaya meningkatkan minat baca masyarakat.

Minat Baca Masyarakat : anak, remaja, umum.

Peran : Pustakawan, Perpustakaan dan stake holder

Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca  (GPMB) : UU no 43 tahun 2007 pasal 48 PEMBUDAYAAN KEGEMARAN MEMBACA
GPMB didirikan tanggal 25 Oktober 2001 di Bogor dengan penggagas Perpustakaan Nasional, Perpustakaan Daerah Provinsi, IKAPI dan Masyarakat Perbukuan.

GPMB dimulai dari : KELUARGA, SATUAN PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

Keluarga : penyediaan fasilitasnya oleh pemerintah melalui buku murah dan berkualitas
Satuan Pendidikan : memanfaatkan perpustakaan
Masyarakat : melalui perpustakaan umum


Riset yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional pada tahun 2015 menunjukkan minat baca masyarakat masih 25,1% atau masih rendah. Riset tersebut dilakukan pada 28 kota/kabupaten di 12 provinsi dengan 3.360 responden. Dalam riset tersebut ada beberapa indikator utama yakni frekuensi membaca per minggu, lama membaca per hari, jumlah halaman dibaca per minggu, dan alokasi dana untuk belanja buku per tahun. 

Berikut adalah tampilan hasil dari riset yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional :

1.   Dari sisi lama membaca, hasilnya:
·     63% membaca 0-2 jam per hari
·     31% membaca 2-4 jam
·     4% membaca 4-6 jam
·     2% membaca lebih dari 6 jam.

2.   Selain itu dari sisi jumlah halaman dibaca:
·     62% membaca 0-100 halaman per minggu
·     32% membaca 101-500 halaman
·     5% membaca 501-1.500 halaman
·     1% membaca lebih dari 1.500 halaman.

3.   Adapun, frekuensi membaca:
·     26% 0-2 kali per minggu
·     44% 2-4 kali per minggu
·     16% 4-6 kali per minggu
·     14% lebih dari 6 kali per minggu.

4.   Sedangkan dari alokasi dana untuk belanja buku:
·     44% mengalokasikan dana 0 – Rp 100.000 per tahun,
·     29% mengalokasikan dana Rp 101.000 – Rp 200.000
·     17% mengalokasikan dana Rp 201.000 – Rp 500.000
·     10% yang mengalokasikan dana lebih dari Rp 500.000.

Dari data tersebut di atas barangkali kurang akurat karena sebaran questioner yang hanya 12 Provinsi dari 34 provinsi yang ada di Indonesia. Jumlah Responsen sejumlah 3.360 dari 250 juta penduduk Indonesia maka  secara teori riset tersebut masih perlu di ulang, dengan cara mengambil sampling riset di tingkat provinsi yang bisa mewakili ke heterogian Indonesia.

Namun demikian tentu ada alasan khusus kenapa survei dilakukan di 12 wilayah provinsi dengan jumlah responden yang sangat terbatas. 

Dari sudut pandang Praktisi maka kami sampaikan bahwa Gerakan Minat Baca bisa di telaah dengan melihat dari sudut pandang “Membaca itu Apa dan Bagaimana”.

Bagaimana membaca ?

Membaca terbagi menjadi 4 kategori
1.       Membaca tingkat dasar : membaca asal membaca, yang di baca apa saja yang ditemuin
2.       Membaca tingkat inspeksionalisia : meluangkan waktu untuk membaca, dengan bahan bacaan yang sederhana, ringan tanpa harus berfikir. Buku fiksi, buku kesehatan, buku agama 
3.       Membaca Analitis : membaca secera menyeluruh dengan membutuhkan pemikiran yang sederhana. Membaca pelajaran sekolah, buku pengetahuan
4.       Membaca Sintopikal / Kamparatif : membaca yang disertai refrensi dan beberapa hal yang menyangkut rujukan

Masyarakat sekarang lebih sering membaca gadget dan umumnya belum paham betul apakah yang di baca itu hoax atau ilmiah. Sumber yang dipercaya atau asal copas yang sumbernya tidak jelas.

Bagaimana menulis ?.
Menulis jenisnya terdiri dari :
1.       Narasi : kisah yang berada pada dimensi waktu
2.       Eksposisi : uraian yang disertai analisis
3.       Deskripsi : penggambaran sesuatu melalui survey/observasi sehingga pembaca mudah memahami
4.       Argumentasi : pendapat penulis yang bisa mempengaruhi masyarakat
5.       Persuasi : tulisan yang sifatnya himbauan

Sekarang kita bisa sambungkan antara minat membaca dengan minat menulis, menjadi satu rangkaian, bagaimana minat baca yang bagus bisa menjadi penulis yang produktif. Dengan mengembangkan minat baca secara otomatis bisa menjadi penulis, dan ini lah bagian dari pengembangan literasi, pengembangan pengetahuan dan keberlangsungan hidup manusia di dunia.

Bagaimana minat baca bisa di tingkatkan dengan kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan ?. Kita uraikan mulai dari tingkatan usia yang akan membedakan cara pendekatan agar setiap manusia mau membaca.
1.       Usia anak : kebiasaan membaca mudah di tiru oleh anak anak ketika anak melihat contoh dari orang tuanya, dari kebiasaan di rumah dan dari kawan kawan di sekitarnya. Untuk mulai membaca dibutuhkan  sesuatu yang menarik bagi anak,  yaitu mendengarkan dongeng. Ketika dongeng rutin di biasaan kepada anak, maka anak merekam imajinasi cerita dan mengingatnya. Suatu ketika dia akan membaca buku cerita tentang apa yang pernah di dengernya dari dongeng, dan akan di share ke teman sekitarnya. Setelah kebiasaan membaca terbentuk. maka zat adictive akan meracuni hidupnya yang kelak akan membawa kemanfaatannya maupun prestasi yang menyertainya.  

2.       Jika usia remaja dipaksa membaca , karena sebelumnya tidak terbiasa membaca maka hal yang menyenangkan bagi remaja adalah diajak melakukan kegiatan yang remaja suka, berdiskusi, memutar film, mengembangkan hobi, bakat, pengembangan kepribadian, mengembangkan pengetahuan, semua yang bertema remaja. Jika apa yang di sajikan dan menarik bagi remaja maka otomatis remaja akan datang, mengikuti program, dan pada akhirnya mencari referensinya.

3.       Usia berkisar antara 30 dan 40 tahun, yang tidak terbiasa membaca akan lebih sulit untuk mengajak membaca. Maka menarik tentu yang membuat orang merasa senang. Ajakan berkegiatan sesuai dengan kebutuhan kelompok usia ini,  terkait dengan ketrampilan, keagamaan, kesehatan, urusan rumah tangga, mengatur keuangan, pengasuhan anak, kewirausahaan, dsb nya. Dengan membentuk kelompok maka kegiatan bisa dibuat menyenangkan sekaligus ada hasil yang bisa dirasakan dengan merujuk pada referensi yang harus di baca jika kegiatan dikembangkan secara bersama atau secara individu.

Kesimpulan bahwa mengajak membaca di mulai dengan mengajak activasi yang menarik bagi user, atau masyarakat secara luas. Activasi jika di lakukan secara terus menerus maka perpustakaan akan selalu ramai, secara tidak langsung minat baca meningkat karena rujukan atau refrensi dari aktivasi tsb, karena selalu berujung pada buku yang membuat penasaran untuk di baca.


PERAN PERPUSTAKAAN
Apakah Perpustakaan mampu meningkatkan minat baca, atau apakah perpustakaan bisa mencetak penulis handal ? Jawabannya adalah bagaimana perpustakaan memiliki peran di masyarakat. Peran nya tergantung sejauh mana perpustakaan di kelola, dikenal, dimanfaatkan dan secara terus menerus menjadi landmard (baca : simbul intelektual) bagi masyarakat.

Pengelolaan Perpustakaan yang baik tentu mengacu pada standarisasi yang ada, atau bisa saja mengacu pada kebutuhan dasar manusia yang dilayaninya. Kebutuhan dasar manusia akan kebutuhan informasi, pengetahuan dan pengembangannya sehingga manusia bisa berkembang sesuai kodratnya sebagai manusia yang berpengetahuan. Pengelolaan sesuai standarisasinya adalah bagaimana lokasi, ruang, pengelolaan, koleksi, layanan, networking, aktivasi, anggaran dan kerjasama. Sesuai kebutuhan dasar manusia akan informasi dan pengetahuan maka perpustakaan mampu melayani dengan kelengkapan koleksi dan kemudahan akses produk yang dihasilkan.

Masyarakat jika sangat mengenal perpustakaan bahkan bergantung pada perpustakaan pada pemenuhan kebutuhan informasi dan pengetahuannya maka perpustakaan tersebut sudah mampu menjadi institusi bagi masyarakat , dimana perpustakaan tersebut berfungsi sebagai tempat belajar sepanjang hayat bagi masyarakat sesuai UU no 43 2007 pasal 2.

Yang terpenting dari standarisasi perpustakaan, adalah bagaimana Perpustakaan memiliki berbagai aktivitas yang membuat masyarakat merasa terlayani dengan baik dan seluruh kebutuhannya terkait pengembangan diri, informasi dan pengetahuan bisa terpenuhi. Aktivitas ini terus membawa manfaat dan berkelanjutan sehingga masyarakat mampu berubah menjadi sejahtera, cerdas, cendikia.

Sesungguhnya perpustakaan itu bermanfaat jika masyarakatnya tidak sekedar membaca tapi juga bisa berbuat (implementasikan) dari apa yang sudah di bacanya. Dan apa yang dilakukannya mampu di tuliskan kembali dalam berbagai bentuk dan jenis tulisan sehingga akan terus berkembang dan menjadi sumber informasi atau pengetahuan bagi masyarakat. Sehingga membaca dan menulis adalah rangkaian tak terpisahkan seperti keping mata uang yang akan memperkaya manusia di bidang pengetahuan. Nantinya dengan berpengetahuan luas maka secara otomatis masyarakat akan meningkat kesejahteraannya. Itulah peran perpustakaan sebagai tempat gerakan pemasyarakatan minat baca.

PERAN PUSTAKAWAN
Pustakawan yang dikenal sebagai profesi pengelola perpustakaan secara umum dianggap sebagai “penjaga” perpustakaan, penjaga buku. Pustakawan tidak sesederhana iu pengetahuan dan keilmuawannya. Pustakawan harus mampu menjalani perannya mulai dari hal tenis melakukan katalogisasi buku sampai pada bagaimana perpustakaan dikenal masyarakat secara luas dengan berbagai strategi marketing yang tepat. Perpustakaan yang dikembangkan secara baik membutuhkan dana yang cukup sehingga peran pustakawan juga harus bisa memenuhi kebutuhan adan yang cukup besar. Pustakawan juga mampu menjadi specialist pustakawan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akademis sesuai fakultas atau specialis keilmuawan dengan berbagai disiplin ilmu yang relewan. Pustakawan mampu menjadi pendamping masyarakat secara keseluruhan ketika aktivitas dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat penggunannya. Kegiatan yang dilakukan  pustakawan tentu mencerminkan service excelent (layanan prima) bagi masyarakat, sehingga pustakawan mampu bertindak tehnis dan strategis. Pustakawan dibekali pendidikan formal yang memadai sesuai tuntutan profesinya.
Gerakan pemasyarakatan minat baca adalah gerakan yang tidak bisa hanya di lakukan di dalam gedung perpustakaan saja, tidak sekedar dilakukan oleh pustakawan saja, tapi GPMB dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat,  baik di gedung perpustakaan maupun diluar gedung, dan lingkungan masyarakat. Berbagai kegiatan menarik bisa dilakukan dalam rangka gerakan ini. Kegiatan kreatif akan menjadi menarik bagi masyarakat sebagai entry point bagi masyarakat untuk membaca. Contoh gerakan pemasyarakat minat baca diantaranya adalah : pelatihan soft skiill, pelatihan menulis, speech kontest, diskusi, penyaluran hobi, berbagai training, penulisan, resensi dan bedah buku, dan masih banyak lagi aktivasi yang bisa dilakukan.

PERAN STAKEHOLDER
Pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas perpustakaan, ketersediaan fasilitas yang ada bagi masyarakat kadang di rasa kurang memadai, atau bagi pihak stake holder di rasa kurang memuaskan. Dengan demikian diperlukan kepedulian semua pihat yang berkepentingan untuk bersinergy atau bekerjasama meningkatkan fasilitas yang tersedia, untuk bisa memberikan layanan yang memuaskan masyarakat.
Apa yang disebut CSR (Corporate Social Responsibility) adalah bentuk kepedulian pihak swasta dalam membantu pemerintah meningkatkan fasilitas yang ada dan mempercepat pencapaian tujuan. CSR yang berkesinambungan adalah peluang untuk diperankan di dunia perpustakaan, mempercepat proses pencapaian masyarakat meningkatkan kegemaran membaca. Kalau CSR dimanfaatkan secara berkesinambungan dengan berbagai kegiatan yang terus berkembang liner dan integrasi maka GPMB bisa dilakukan bersama sama. Potensi mengembangakan sumber daya yang ada bisa menjadi bentuk fundrising bagi pengelolaan perpustakaan secara maksimal dengan memerankan komunitas yang ada. Jadi Kegemaran membaca itu tidak dalam kontek harfiah membaca teks book saja tapi juga membaca peluang yang ada untuk kesejahteraan bersama.namun peluang bisa dilaksanakan dengan baik jika pengalaman dan pengetahuan memadai dan itu tidak ada alasan lain kecuali harus membaca.

Stake holder akan memberikan bantuan, dengan persyaratan tertentu , diantaranya adalah konsep program yang jelas dan terukur, kejujuran dan personal garansi. CSR ini harus di keluarkan karena sesuai UU no 40 tahun 2007 tentang Perseroan, jika GPMB membutuhkan dana csr dan support lainnya dari stake holder, maka CSR menjadi peluang. Tanpa CSR  maka gerakan kampanye dan berbagai aktivitas tidak bisa diselenggarakan secara terus menerus. Maka peran Pustakawan, perpustakaan dan stake holder sangat penting dalam Gerakan pemasyarakat Minat Baca ini, tanpa ada kebersamaan tidak bisa berjalan sendiri sendiri.

GPMB : Gerakan Pemasyarakat Minat Baca
Apa itu GPMB ? Gerakan Pemasyarakat Minat baca
Visi-nya tercip-tanya masyarakat gemar membaca dan belajar, ber-pengetahuan cerdas dan berbudaya, berdaya saing tinggi serta bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Gerakan ini bisa di bentuk oleh pustakawan atau non pustakawan, bisa melibatkan multi stake holder, yang jelas memahami visinya dan berjalan bersama, bergerak bersama, memotivasi masyarakat dengan berbagai cara agar masyarakat mau membaca. Tahapan membaca sudah dijelaskan di atas, dan terus berkelanjutan sehingga habit membaca menjadi terus berkembang dan meningkat, sehingga terciptalah masyarakat cerdas. Kecerdasan masyarakat akan mampu mengubah hidup masyarakat itu sendiri.

Gerakan ini perlu dukungan semua pihak, khsususnya pemerintah sehingga pemerintah mengeluarkan regulasi adanya gerakan ini. Hari ini, telah di deklarasikan bersama terbentuknya GPMB tingkat Provinsi Bangka Belitung, dan pada hari ini di Belitung di inisiasi oleh Dinas Perpustakaan dan Kabupaten Belitung bersama Gubernur telah sepakat bahwa Gerakan Pemasyarakat Minat Baca harus terus dilakukan. Pada hari ini turut hadir dari Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia dalam acara talkshow bertemakan Membangun Generasi Berkarakter Minat Baca adalah upaya yang dilakukan secara bersama, bersinergi, berkolaborasi mewujudkan tekad yang sama, mencapai tujuan masyarakat cerdas.
Semoga upaya ini akan berhasil dan menginspirasi kabupaten lainnya dan sukses menjadikan masyarakat Belitung cerdas dan sejahtera ----------------Salam Literasi !!!

KESIMPULAN

Oval: PERPUSTAKAAN